Read This !

Blog ini dibuat untuk mengingat kenangan atau kejadian yang terjadi dalam hidup sang penulis amatir.Seperti buku harian yang terbuka,maka maaf bila ada kata yang tidak berkenan hal itu karena sesuai dengan mood sang penulis yang naik turun saat menuangkan pikirannya.jadi ambil yang baik,buang yang buruknya.oke *Just for Fun and Reminder for Me* *Please enjoy for all of you my beloved reader's :)* *Thankkis ^3^ * -Renee -

Senin, 31 Agustus 2026

Bab 12 — Pilihan yang Sulit

8/31/2026 12:27:00 AM 0 Comments
Dua hari kemudian, Raka pulang membawa kabar yang membuat Nara langsung tahu bahwa masalahnya lebih besar dari yang ia ceritakan sebelumnya.

Ia bahkan belum sempat melepas sepatu ketika Nara bertanya,

“Rak?”

“Hm?”

“Kenapa muka lu begitu?”

Raka diam.

Kemudian meletakkan tasnya.

“Gue dapat tawaran.”

“Tawaran apa?”

“Promosi.”

Nara langsung tersenyum.

“Serius?”

Raka mengangguk.

“Harusnya bagus, kan?”

“Iya.”

“Tapi?”

Raka menghela napas.

“Posisinya di luar kota.”

Senyum Nara perlahan menghilang.

“Berapa lama?”

“Minimal dua tahun.”

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Nara duduk.

“Dua tahun?”

“Iya.”

“Dan lu harus pindah?”

“Kalau gue ambil.”

Nara menatap lantai.

“Lu mau?”

Raka tidak langsung menjawab.

“Gue nggak tahu.”

“Karier lu penting.”

“Lu juga.”

“Jangan jawab begitu.”

Raka menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena gue tahu lu pengin.”

Raka terdiam.

Nara tersenyum tipis.

“Lu kerja keras buat ini.”

“Gue juga kerja keras buat kita.”

“Gue tahu.”

“Terus?”

Nara menghela napas.

“Gue takut.”

Raka mendekat.

“Takut apa?”

“Takut kalau lu pergi, semuanya berubah.”

Raka menggenggam tangannya.

“Gue nggak mau pergi ninggalin lu.”

“Tapi lu juga nggak mau kehilangan kesempatan ini.”

Raka diam.

Nara benar.

Dan justru itu yang membuatnya semakin sulit.

---

Malam itu mereka tidak menemukan jawaban.

Mereka makan dalam diam.

Kemudian duduk di sofa tanpa menyalakan televisi.

Nara akhirnya berkata,

“Kalau gue bilang jangan pergi…”

Raka menoleh.

“Gue bakal dengar.”

“Tapi gue nggak mau jadi alasan lu menolak sesuatu yang lu perjuangkan.”

Raka menggenggam tangannya.

“Gue juga nggak mau jadi alasan lu harus mengorbankan hidup lu.”

Nara tersenyum getir.

“Berarti kita sama-sama keras kepala.”

“Dari dulu.”

Nara tertawa kecil.

Kemudian kembali diam.

---

Beberapa hari berikutnya terasa berbeda.

Mereka mulai membicarakan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah perlu dipikirkan.

Bagaimana kalau mereka harus tinggal terpisah?

Bagaimana kalau Nara ikut?

Bagaimana dengan pekerjaan Nara?

Bagaimana dengan rumah mereka?

Semakin banyak pertanyaan, semakin sedikit jawaban.

Suatu malam, Nara duduk sendirian di balkon.

Raka datang membawa dua cangkir teh.

“Masih mikirin itu?”

Nara mengangguk.

“Gue takut.”

Raka duduk di sebelahnya.

“Gue juga.”

Nara menatapnya.

“Lu takut?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena gue takut kita jadi jauh.”

Nara terdiam.

Selama ini ia mengira hanya dirinya yang merasa demikian.

Raka menyandarkan tubuh ke kursi.

“Gue nggak takut sama pekerjaan baru.”

“Terus?”

“Gue takut pulang ke rumah dan lu nggak ada.”

Mata Nara langsung berkaca-kaca.

“Jangan ngomong begitu.”

“Kenapa?”

“Gue bisa nangis.”

Raka tersenyum kecil.

“Maaf.”

Nara menggenggam tangannya.

“Kalau akhirnya lu ambil…”

Raka menatapnya.

“Gue mau kita cari cara supaya tetap jadi kita.”

“Caranya?”

“Telepon setiap hari.”

“Bukan cuma chat.”

“Video call.”

“Kalau sibuk?”

“Cari waktu.”

“Kalau berantem?”

“Jangan kabur.”

Raka tersenyum.

“Deal.”

Nara menarik napas panjang.

“Dan kalau suatu hari gue bilang gue capek…”

“Gue pulang.”

Nara menatapnya.

“Walaupun jauh?”

“Walaupun jauh.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Nara tersenyum.

Mungkin mereka belum tahu apa yang akan terjadi.

Mungkin keputusan ini akan menguji hubungan mereka lebih keras daripada pertengkaran sebelumnya.

Tapi satu hal sudah jelas.

Mereka tidak ingin menghadapi pilihan itu sebagai dua orang yang berjalan sendiri-sendiri.

Mereka ingin menghadapinya sebagai suami dan istri.

Bersama.

Bab 11 — Ada yang Berubah

8/31/2026 12:27:00 AM 0 Comments
Beberapa minggu setelah pertengkaran pertama mereka, semuanya kembali normal.

Setidaknya begitu yang Nara pikirkan.

Raka tetap bekerja.

Nara juga sibuk dengan pekerjaannya.

Mereka masih makan malam bersama kalau sempat.

Masih punya jadwal kencan kecil setiap akhir pekan.

Masih saling mengirim pesan di tengah kesibukan.

Namun belakangan, Nara merasa ada sesuatu yang berbeda.

Bukan perubahan besar.

Justru perubahan kecil.

Raka lebih sering pulang malam.

Lebih sering terlihat lelah.

Dan beberapa kali, ketika Nara mengajaknya bicara, pikirannya seperti tidak benar-benar berada di sana.

Suatu malam, Nara sedang membuat teh ketika Raka masuk rumah.

“Udah makan?”

“Belum.”

“Gue masakin?”

Raka menggeleng.

“Nggak usah. Gue nggak terlalu lapar.”

Nara menatapnya.

“Lu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Raka.”

“Hm?”

“Jangan jawab nggak kenapa-kenapa kalau jelas ada apa-apa.”

Raka terdiam.

Ia melepas jam tangannya lalu duduk di sofa.

“Gue lagi banyak pikiran.”

“Soal kerja?”

“Iya.”

Nara duduk di sebelahnya.

“Kenapa nggak cerita?”

Raka menghela napas.

“Gue nggak mau bikin lu ikut kepikiran.”

Nara langsung mengerutkan kening.

“Gue istri lu.”

Raka menatapnya.

“Gue tahu.”

“Kalau lu punya masalah, gue memang harus ikut tahu.”

“Bukan berarti lu harus ikut menanggung.”

“Kalau kita menikah, bukannya memang begitu?”

Raka diam.

Nara perlahan meraih tangannya.

“Lu nggak harus selalu kelihatan kuat di depan gue.”

Tatapan Raka melembut.

“Gue takut gagal.”

Nara terdiam.

“Gagal apa?”

“Kerjaan.”

Raka menunduk.

“Proyek yang gue pegang bermasalah. Kalau nggak selesai bulan ini, kemungkinan gue kehilangan posisi.”

Nara tidak langsung menjawab.

Ia hanya menggenggam tangan Raka lebih erat.

“Kenapa baru cerita sekarang?”

“Karena gue malu.”

“Kenapa malu?”

“Karena gue pengin jadi suami yang bisa diandalkan.”

Nara menatapnya lama.

“Rak.”

“Hm?”

“Gue nggak nikah sama lu karena jabatan.”

Raka diam.

“Gue juga nggak nikah sama lu karena gaji.”

Nara tersenyum kecil.

“Gue nikah sama lu karena lu Raka.”

Raka menatapnya.

“Sesimpel itu?”

“Sesimpel itu.”

Raka akhirnya tersenyum.

Namun Nara belum selesai.

“Tapi gue juga mau lu jujur sama gue.”

“Iya.”

“Jangan lindungi gue dengan cara menjauh.”

Raka mengangguk.

“Maaf.”

Nara bersandar di bahunya.

“Kalau lu jatuh, bilang.”

Raka menggenggam tangannya.

“Kalau lu capek, bilang.”

Nara tersenyum.

“Deal.”

---

Malam itu mereka berbicara lebih lama.

Untuk pertama kalinya, Raka menceritakan semua tekanan yang selama ini ia simpan sendiri.

Tentang pekerjaan.

Tentang target.

Tentang rasa takut mengecewakan orang-orang yang percaya kepadanya.

Nara tidak punya solusi untuk semuanya.

Namun ia tetap mendengarkan.

Kadang itu saja sudah cukup.

Ketika akhirnya Raka selesai bercerita, ia menghela napas panjang.

“Gue lega.”

Nara tersenyum.

“Karena udah cerita?”

“Iya.”

“Makanya jangan sok kuat.”

Raka tertawa kecil.

“Galak.”

“Peduli.”

Raka menarik Nara ke dalam pelukannya.

“Terima kasih.”

Nara memejamkan mata.

“Sama-sama.”

Malam itu mereka tidur lebih tenang.

Namun Nara belum tahu—

masalah pekerjaan Raka ternyata belum selesai.

Dan beberapa hari kemudian, sebuah keputusan dari kantor Raka akan mengubah keseimbangan rumah tangga mereka.

Untuk pertama kalinya, mereka akan dihadapkan pada pilihan yang tidak punya jawaban mudah.

Karier atau keluarga.

Dan kali ini, cinta saja mungkin tidak cukup untuk menyelesaikannya.

translate into your language

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

LOVE THIS QUOTE

never blame anyone in your life!. Good people give you HAPPINESS,Bad people give you EXPERIENCES,Worst people give you a LESSON and Best people give you MEMORIES.

I Heart Your Blog :)