Read This !

Blog ini dibuat untuk mengingat kenangan atau kejadian yang terjadi dalam hidup sang penulis amatir.Seperti buku harian yang terbuka,maka maaf bila ada kata yang tidak berkenan hal itu karena sesuai dengan mood sang penulis yang naik turun saat menuangkan pikirannya.jadi ambil yang baik,buang yang buruknya.oke *Just for Fun and Reminder for Me* *Please enjoy for all of you my beloved reader's :)* *Thankkis ^3^ * -Renee -

Senin, 31 Agustus 2026

Bab 14 — Ada yang Aneh

8/31/2026 12:29:00 AM 0 Comments
Dua bulan berlalu.

Rencana pindah sementara Raka masih berjalan.

Pekerjaannya semakin padat, tapi ia berusaha menepati janjinya.

Pulang tidak terlalu larut.

Mengabari Nara kalau ada perubahan jadwal.

Dan setiap akhir pekan, mereka tetap punya waktu berdua.

Namun belakangan, Nara merasa tubuhnya berbeda.

Awalnya ia mengira hanya kelelahan.

Bangun pagi terasa lebih berat.

Makanan tertentu yang biasanya ia suka tiba-tiba membuatnya tidak selera.

Bahkan aroma kopi Raka yang biasanya ia suka sekarang justru membuat perutnya terasa aneh.

Pagi itu, Raka sedang membuat kopi.

Nara baru masuk dapur.

Begitu mencium aromanya, ia langsung berhenti.

“Rak.”

“Hm?”

“Matikan.”

Raka menoleh.

“Kenapa?”

“Bau.”

Raka melihat cangkir di tangannya.

“Bau kopi?”

“Iya.”

“Lu biasanya suka.”

“Sekarang nggak.”

Raka mengernyit.

“Lu sakit?”

“Nggak.”

“Yakin?”

Nara mengangguk.

“Cuma lagi nggak suka.”

Raka akhirnya menaruh cangkirnya.

“Ya udah.”

Nara tersenyum.

“Thank you.”

Raka memperhatikannya.

“Kok lu pucat?”

“Gue kurang tidur.”

“Tidur lagi sana.”

“Gue ada kerjaan.”

“Nanti aja.”

Nara tertawa kecil.

“Lu mulai cerewet.”

“Belajar dari istri.”

---

Siangnya, Nara sedang bekerja ketika tiba-tiba perutnya terasa tidak nyaman.

Ia langsung berdiri dan berjalan ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, ia keluar sambil menarik napas panjang.

“Kenapa gue begini?”

Ia menatap dirinya sendiri di cermin.

Kemudian menghitung sesuatu dalam pikirannya.

Tanggal.

Minggu.

Hari.

Nara terdiam.

“Eh…”

Ia mengambil ponselnya.

Membuka kalender.

Menghitung lagi.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Jantungnya mulai berdebar.

“Jangan-jangan…”

Nara langsung menggeleng.

“Ah, nggak mungkin.”

Tapi rasa penasaran itu tidak hilang.

Sore harinya, ketika Raka belum pulang, Nara keluar sebentar.

Ia membeli sesuatu yang membuat tangannya gemetar hanya dengan membawanya pulang.

Sebuah alat tes kehamilan.

Ia menyimpannya di dalam tas.

Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya tidak berhenti berputar.

Bagaimana kalau hasilnya positif?

Bagaimana kalau benar?

Bagaimana kalau belum waktunya?

Bagaimana kalau Raka belum siap?

Begitu sampai rumah, Nara duduk di ujung tempat tidur.

Kotak kecil itu masih berada di dalam tas.

Ia menatapnya lama.

Kemudian ponselnya berbunyi.

Raka:
Gue pulang agak telat. Jangan tunggu makan.

Nara membaca pesan itu.

Tersenyum kecil.

Kemudian tanpa sadar tangannya berpindah ke perut.

Masih datar.

Masih sama seperti biasanya.

Namun tiba-tiba terasa seperti menyimpan sebuah rahasia besar.

Nara berbisik,

“Kalau beneran ada…”

Ia berhenti.

Tidak berani melanjutkan kalimatnya.

Malam itu, Nara memutuskan untuk memastikan semuanya sendiri terlebih dahulu.

Ia tidak mau membuat Raka berharap hanya karena kecurigaan.

Namun saat akhirnya berdiri di kamar mandi sambil menunggu hasil tes—

jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada sebelumnya.

Satu garis.

Nara menahan napas.

Kemudian—

garis kedua mulai terlihat.

Matanya membesar.

Tangannya langsung menutup mulut.

“Ya Allah…”

Air mata perlahan memenuhi matanya.

Ia menatap alat tes itu sekali lagi.

Dua garis.

Benar-benar dua garis.

Nara duduk perlahan di lantai kamar mandi.

Tangannya gemetar.

Bukan karena takut sepenuhnya.

Bukan juga karena bahagia sepenuhnya.

Tapi karena untuk pertama kalinya, masa depan yang selama ini hanya mereka bicarakan—

mungkin benar-benar sedang tumbuh di dalam dirinya.

Dan malam itu, sebelum Raka pulang, Nara menyimpan satu rahasia kecil.

Rahasia yang akan mengubah kehidupan mereka berdua.

Bab 13 — Bukan Berarti Gue Pergi

8/31/2026 12:28:00 AM 0 Comments
Seminggu berlalu.

Akhirnya Raka harus memberikan jawaban.

Pagi itu, Nara membuat sarapan seperti biasa.

Tapi suasananya berbeda.

Raka duduk di meja makan sambil memandangi ponselnya.

“Jam berapa harus kasih jawaban?”

“Siang.”

Nara mengangguk.

“Udah tahu mau jawab apa?”

Raka menatapnya.

“Belum.”

Nara meletakkan piring di depannya.

“Lu nggak harus mutusin sekarang.”

“Harus.”

“Kenapa?”

“Karena gue nggak mau terus-terusan bikin lu menunggu.”

Nara duduk.

“Gue nggak keberatan nunggu.”

Raka tersenyum kecil.

“Gue tahu.”

Mereka makan dalam diam.

Sampai akhirnya Raka berkata,

“Kalau gue ambil, lu mau ikut?”

Nara mengangkat kepala.

Pertanyaan itu membuatnya terdiam.

“Gue belum tahu.”

“Kenapa?”

“Karena gue juga punya pekerjaan.”

Raka mengangguk.

“Gue tahu.”

“Dan gue nggak mau semua keputusan selalu berdasarkan pekerjaan lu.”

Raka diam.

Nara melanjutkan,

“Gue mau kita sama-sama punya hidup.”

Raka tersenyum.

“Itu jawaban yang gue harapkan.”

Nara mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Gue juga nggak mau lu berhenti mengejar sesuatu cuma karena gue.”

Nara tersenyum tipis.

“Berarti?”

“Berarti kita cari jalan tengah.”

---

Siang harinya, Raka akhirnya menghubungi atasannya.

Nara tidak mendengar percakapannya.

Ia sengaja memberi Raka ruang.

Beberapa menit kemudian, Raka keluar dari ruang kerja.

Nara langsung menoleh.

“Gimana?”

Raka duduk di sampingnya.

“Gue ambil.”

Nara terdiam.

“Serius?”

“Iya.”

Nara mengangguk perlahan.

“Terus kita gimana?”

“Gue nego.”

“Negosiasi?”

“Gue minta masa transisi.”

Nara menatapnya.

“Berapa lama?”

“Tiga bulan.”

“Terus?”

“Setelah itu kita evaluasi.”

Nara tersenyum.

“Jadi lu nggak langsung pindah?”

“Enggak.”

Raka menggenggam tangannya.

“Gue mau kasih kita waktu buat siap.”

Nara mengembuskan napas lega.

“Gue kira lu bakal langsung pergi.”

Raka menggeleng.

“Promosi itu penting.”

Ia mengusap punggung tangan Nara.

“Tapi bukan berarti gue harus meninggalkan semuanya.”

Nara menatapnya.

“Lu yakin?”

“Yakin.”

“Kalau ternyata nanti kita harus berjauhan?”

“Ya kita hadapi.”

“Kalau susah?”

“Kita cari cara.”

“Kalau gue takut?”

“Gue temenin.”

Nara tersenyum.

“Lu tahu nggak?”

“Apa?”

“Kadang lu nyebelin.”

“Kadang?”

“Sering.”

Raka tertawa.

“Tapi…”

Nara mendekat dan memeluknya.

“Gue bersyukur punya lu.”

Raka membalas pelukan itu.

“Gue juga.”

---

Malamnya, mereka duduk di balkon.

Nara menyandarkan kepala di bahu Raka.

“Rak.”

“Hm?”

“Kalau nanti kita punya anak…”

Raka menoleh.

Nara langsung tertawa.

“Kenapa lihat gue begitu?”

“Random banget.”

“Gue cuma nanya.”

Raka tersenyum.

“Kalau kita punya anak?”

“Iya.”

“Gue mau jadi ayah yang ada.”

Nara diam.

“Bukan cuma cari uang.”

Raka menatap langit.

“Gue mau dia tahu kalau papanya selalu punya waktu buat dia.”

Nara tersenyum.

“Kalau mamanya?”

“Cerewet.”

Nara mencubit lengannya.

“Serius.”

Raka tertawa.

“Kalau mamanya?”

Ia menggenggam tangan Nara.

“Gue mau dia tahu mamanya adalah orang paling kuat yang pernah gue kenal.”

Nara menatap Raka.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Kenapa ngomong begitu?”

“Karena gue percaya.”

Nara menyandarkan kepalanya kembali.

Malam itu mereka tidak tahu kapan anak pertama mereka akan datang.

Tidak tahu seperti apa rumah mereka beberapa tahun lagi.

Tidak tahu apakah keputusan Raka akan membawa mereka lebih dekat atau justru memberi mereka tantangan baru.

Tapi untuk pertama kalinya, mereka mulai membicarakan masa depan bukan sebagai sesuatu yang menakutkan.

Melainkan sebagai sesuatu yang ingin mereka bangun bersama.

Dan tanpa mereka sadari—

percakapan malam itu menjadi awal dari sebuah babak baru.

Karena beberapa bulan ke depan, kehidupan mereka akan berubah dengan cara yang sama sekali tidak mereka duga.

translate into your language

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

LOVE THIS QUOTE

never blame anyone in your life!. Good people give you HAPPINESS,Bad people give you EXPERIENCES,Worst people give you a LESSON and Best people give you MEMORIES.

I Heart Your Blog :)