Bab 14 — Ada yang Aneh
Firstyrenee
8/31/2026 12:29:00 AM
0 Comments
Dua bulan berlalu.
Rencana pindah sementara Raka masih berjalan.
Pekerjaannya semakin padat, tapi ia berusaha menepati janjinya.
Pulang tidak terlalu larut.
Mengabari Nara kalau ada perubahan jadwal.
Dan setiap akhir pekan, mereka tetap punya waktu berdua.
Namun belakangan, Nara merasa tubuhnya berbeda.
Awalnya ia mengira hanya kelelahan.
Bangun pagi terasa lebih berat.
Makanan tertentu yang biasanya ia suka tiba-tiba membuatnya tidak selera.
Bahkan aroma kopi Raka yang biasanya ia suka sekarang justru membuat perutnya terasa aneh.
Pagi itu, Raka sedang membuat kopi.
Nara baru masuk dapur.
Begitu mencium aromanya, ia langsung berhenti.
“Rak.”
“Hm?”
“Matikan.”
Raka menoleh.
“Kenapa?”
“Bau.”
Raka melihat cangkir di tangannya.
“Bau kopi?”
“Iya.”
“Lu biasanya suka.”
“Sekarang nggak.”
Raka mengernyit.
“Lu sakit?”
“Nggak.”
“Yakin?”
Nara mengangguk.
“Cuma lagi nggak suka.”
Raka akhirnya menaruh cangkirnya.
“Ya udah.”
Nara tersenyum.
“Thank you.”
Raka memperhatikannya.
“Kok lu pucat?”
“Gue kurang tidur.”
“Tidur lagi sana.”
“Gue ada kerjaan.”
“Nanti aja.”
Nara tertawa kecil.
“Lu mulai cerewet.”
“Belajar dari istri.”
---
Siangnya, Nara sedang bekerja ketika tiba-tiba perutnya terasa tidak nyaman.
Ia langsung berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, ia keluar sambil menarik napas panjang.
“Kenapa gue begini?”
Ia menatap dirinya sendiri di cermin.
Kemudian menghitung sesuatu dalam pikirannya.
Tanggal.
Minggu.
Hari.
Nara terdiam.
“Eh…”
Ia mengambil ponselnya.
Membuka kalender.
Menghitung lagi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Jantungnya mulai berdebar.
“Jangan-jangan…”
Nara langsung menggeleng.
“Ah, nggak mungkin.”
Tapi rasa penasaran itu tidak hilang.
Sore harinya, ketika Raka belum pulang, Nara keluar sebentar.
Ia membeli sesuatu yang membuat tangannya gemetar hanya dengan membawanya pulang.
Sebuah alat tes kehamilan.
Ia menyimpannya di dalam tas.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya tidak berhenti berputar.
Bagaimana kalau hasilnya positif?
Bagaimana kalau benar?
Bagaimana kalau belum waktunya?
Bagaimana kalau Raka belum siap?
Begitu sampai rumah, Nara duduk di ujung tempat tidur.
Kotak kecil itu masih berada di dalam tas.
Ia menatapnya lama.
Kemudian ponselnya berbunyi.
Raka:
Gue pulang agak telat. Jangan tunggu makan.
Nara membaca pesan itu.
Tersenyum kecil.
Kemudian tanpa sadar tangannya berpindah ke perut.
Masih datar.
Masih sama seperti biasanya.
Namun tiba-tiba terasa seperti menyimpan sebuah rahasia besar.
Nara berbisik,
“Kalau beneran ada…”
Ia berhenti.
Tidak berani melanjutkan kalimatnya.
Malam itu, Nara memutuskan untuk memastikan semuanya sendiri terlebih dahulu.
Ia tidak mau membuat Raka berharap hanya karena kecurigaan.
Namun saat akhirnya berdiri di kamar mandi sambil menunggu hasil tes—
jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada sebelumnya.
Satu garis.
Nara menahan napas.
Kemudian—
garis kedua mulai terlihat.
Matanya membesar.
Tangannya langsung menutup mulut.
“Ya Allah…”
Air mata perlahan memenuhi matanya.
Ia menatap alat tes itu sekali lagi.
Dua garis.
Benar-benar dua garis.
Nara duduk perlahan di lantai kamar mandi.
Tangannya gemetar.
Bukan karena takut sepenuhnya.
Bukan juga karena bahagia sepenuhnya.
Tapi karena untuk pertama kalinya, masa depan yang selama ini hanya mereka bicarakan—
mungkin benar-benar sedang tumbuh di dalam dirinya.
Dan malam itu, sebelum Raka pulang, Nara menyimpan satu rahasia kecil.
Rahasia yang akan mengubah kehidupan mereka berdua.

