Read This !

Blog ini dibuat untuk mengingat kenangan atau kejadian yang terjadi dalam hidup sang penulis amatir.Seperti buku harian yang terbuka,maka maaf bila ada kata yang tidak berkenan hal itu karena sesuai dengan mood sang penulis yang naik turun saat menuangkan pikirannya.jadi ambil yang baik,buang yang buruknya.oke *Just for Fun and Reminder for Me* *Please enjoy for all of you my beloved reader's :)* *Thankkis ^3^ * -Renee -

Minggu, 23 Agustus 2026

Bab 9 — Jangan Geer, Nara

Nara mulai curiga.

Bukan karena Raka pernah mengatakan sesuatu yang romantis.

Justru sebaliknya.

Raka tidak pernah mengatakan apa-apa.

Tapi ada beberapa hal kecil yang mulai terasa berbeda.

Misalnya, Raka selalu tahu ketika Nara sedang tidak baik-baik saja.

Kalau Nara sedang lelah, Raka tidak banyak mengajak bicara.

Kalau Nara sedang terlihat senang, Raka biasanya ikut lebih banyak bercanda.

Kalau Nara sedang sibuk, ia tidak mengganggu.

Tapi begitu pekerjaannya selesai, entah bagaimana Raka selalu muncul.

Awalnya Nara menganggap itu kebetulan.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Masih kebetulan.

Keempat kali?

Nara mulai curiga.

Kelima kali?

“Jangan-jangan...”

Nara langsung menghentikan pikirannya sendiri.

“Jangan geer.”

Ia menatap pantulan dirinya di kaca.

“Lu siapa?”

Pantulan itu diam.

“Dia mah baik ke semua orang.”

Pantulan itu tetap diam.

“Bisa aja emang kebetulan.”

Tetap diam.

Nara mengangguk.

“Nah. Bener.”

Ia pergi.

Lima menit kemudian kembali.

“...Tapi kenapa kalau sama gue beda?”

Ia kembali pergi.

---

Raka memang mulai lebih sering berada di dekat Nara.

Tapi tidak pernah berlebihan.

Ia tidak mengirim pesan setiap jam.

Tidak menanyakan Nara sedang di mana setiap waktu.

Tidak meminta foto.

Tidak memaksa bertemu.

Tidak juga tiba-tiba mengatakan:

Aku kangen.

Menurut Raka, kalimat seperti itu terlalu besar untuk hubungan yang bahkan belum dimulai.

Ia lebih memilih hal-hal kecil.

“Udah makan?”

“Jangan pulang terlalu malam.”

“Bawa payung.”

“Jalan hati-hati.”

Kalimat-kalimat sederhana.

Tapi anehnya, justru itu yang membuat Nara semakin sadar.

Karena Raka tidak mengatakan semuanya kepada semua orang.

Suatu sore hujan turun deras.

Nara berdiri di depan pintu sambil melihat jalan.

Ia tidak membawa payung.

Raka datang dari belakang.

“Lu mau pulang?”

“Iya.”

“Bawa payung?”

Nara menggeleng.

Raka mengangkat payungnya.

“Bareng.”

Nara menatapnya.

“Gue bisa sendiri.”

“Gue tahu.”

“Terus?”

“Ya udah, bareng aja.”

Nara terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tidak ada nada memaksa.

Tidak ada gaya sok melindungi.

Seolah membantu seseorang adalah hal biasa.

Akhirnya Nara berjalan di sampingnya.

Payung itu cukup besar.

Tapi tetap saja bahu mereka beberapa kali hampir bersentuhan.

Nara mendadak jadi terlalu sadar terhadap jarak.

Ia berjalan sedikit menjauh.

Raka menggeser payung mengikuti.

Nara menjauh lagi.

Raka menggeser lagi.

Akhirnya Raka berkata,

“Kalau lu menjauh terus, yang kehujanan malah lu.”

“Gue nggak menjauh.”

“Iya.”

Nada suaranya terdengar seperti sedang menahan tawa.

Nara melirik.

“Apaan?”

“Enggak.”

“Lu ketawa?”

“Enggak.”

“Jelas-jelas ketawa.”

Raka akhirnya tersenyum.

Nara langsung membuang muka.

Sial.

Ternyata kalau tersenyum, laki-laki itu lebih berbahaya.

---

Mereka berhenti di sebuah tempat untuk berteduh.

Hujan belum reda.

Nara melihat jam.

“Kayaknya lama.”

Raka mengangguk.

Nara duduk.

Raka berdiri di sampingnya.

Beberapa menit mereka diam.

Anehnya, tidak terasa canggung.

Nara biasanya tidak tahan dengan keheningan bersama orang lain.

Tapi bersama Raka...

diam terasa normal.

Raka tiba-tiba bertanya,

“Lu emang nggak suka ngobrol sama orang?”

Nara menoleh.

“Kenapa?”

“Lu keliatan begitu.”

“Gue cuma nggak suka small talk.”

“Kenapa?”

“Capek.”

Raka tertawa kecil.

“Small talk juga capek?”

“Kalau orangnya nggak menarik, iya.”

Raka menatapnya.

“Kalau orangnya menarik?”

Nara terdiam.

Ia sadar pertanyaan itu jebakan.

“Ya... beda.”

“Gue menarik?”

Nara langsung menoleh.

Raka menatapnya dengan wajah datar.

Nara membeku.

“Lu pede banget.”

Raka tersenyum.

“Kan nanya.”

“Gue nggak jawab.”

“Oke.”

Hening lagi.

Tapi kali ini Nara bisa merasakan telinganya mulai panas.

Ia menatap jalan.

Dalam hati ia memaki dirinya sendiri.

Kenapa gue jadi malu?

---

Malamnya, Nara berbaring di tempat tidur.

Ia mengingat percakapan tadi.

Gue menarik?

Nara menutup wajah dengan bantal.

“Dia bercanda kali.”

Ia bangun lagi.

“Tapi kalau bercanda kenapa nanyanya begitu?”

Ia berjalan mondar-mandir di kamar.

“Bisa aja dia emang gitu.”

Berhenti.

“Bisa aja cuma iseng.”

Berjalan lagi.

“Tapi dia nggak pernah gitu ke orang lain.”

Berhenti lagi.

“Ya Allah.”

Nara mengambil ponselnya.

Membuka chat Raka.

Tidak ada pesan baru.

Ia menunggu.

Satu menit.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Tidak ada.

“Bagus.”

Nara meletakkan ponsel.

“Jangan sampai gue jadi cewek yang nungguin chat.”

Lima menit kemudian—

ting.

Nara langsung mengambil ponsel.

Raka.

Raka: Udah tidur?

Nara menatap layar.

Ia ingin membalas biasa saja.

Akhirnya mengetik:

Belum.

Raka membalas.

Raka: Kirain udah.

Nara mengernyit.

Kenapa?

Tiga titik.

Hilang.

Muncul lagi.

Raka: Mau bilang selamat malam.

Nara membeku.

Ia membaca kalimat itu sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Kemudian melempar ponselnya ke kasur.

“ANJIR.”

Kucingnya menoleh.

Nara menunjuk ponsel.

“Lihat tuh!”

Kucingnya tidak peduli.

“Dia kenapa sih?”

Tidak ada jawaban.

Nara mengambil ponselnya lagi.

Ia mengetik:

Oh. Selamat malam juga.

Dikirim.

Kemudian ia langsung menyesal.

“Kenapa gue jawab begitu?”

Ponsel berbunyi.

Raka: Selamat malam, Nara.

Nara menatap namanya.

Ada sesuatu yang aneh ketika Raka menyebut namanya.

Tidak istimewa.

Tapi terasa istimewa.

Nara tersenyum kecil.

Kemudian buru-buru menghapus senyum itu.

“Jangan geer.”

Ia mematikan lampu.

Berbaring.

Menarik selimut.

Lima menit kemudian masih belum tidur.

Pikirannya kembali pada satu pertanyaan.

Raka suka gue nggak, sih?

Nara memejamkan mata.

Tidak.

Jangan.

Jangan mulai.

Karena kalau ternyata ia salah...

malu.

Tapi kalau ternyata benar...

lebih bahaya lagi.

---

Di tempat lain, Raka masih terjaga.

Ponselnya ada di tangannya.

Ia membaca percakapan terakhir mereka.

Selamat malam, Nara.

Ia tersenyum.

Temannya yang duduk di sebelahnya memperhatikan.

“Lu senyum-senyum kenapa?”

Raka langsung memasukkan ponsel ke saku.

“Nggak.”

“Cewek?”

“Bukan.”

“Bohong.”

Raka diam.

Temannya tertawa.

“Lu suka, ya?”

Raka akhirnya mengangguk.

“Iya.”

“Terus?”

Raka melihat layar ponselnya sekali lagi.

“Gue mau pelan-pelan.”

“Kenapa?”

Raka berpikir sebentar.

“Karena dia bukan orang yang bisa dipaksa.”

Ia tersenyum tipis.

“Dan gue nggak mau dia merasa harus memilih gue.”

Di kamar lain, Nara sedang melakukan hal yang sama sekali berbeda.

Ia memeluk bantal sambil memikirkan laki-laki yang sama.

Bedanya, Nara masih sibuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua itu cuma kebetulan.

Dua orang.

Saling menyukai.

Sama-sama tidak mau mengaku.

Dan sama-sama terlalu keras kepala untuk bergerak duluan.

Mungkin memang begitulah awal dari sebuah kisah cinta.

Bukan dengan petir.

Bukan dengan bunga.

Bukan dengan kata-kata besar.

Kadang hanya dimulai dari sebuah pesan sederhana:

“Udah tidur?”

Dan satu orang yang tiba-tiba tersenyum melihatnya.

Tidak ada komentar:

translate into your language

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

LOVE THIS QUOTE

never blame anyone in your life!. Good people give you HAPPINESS,Bad people give you EXPERIENCES,Worst people give you a LESSON and Best people give you MEMORIES.

I Heart Your Blog :)