Read This !

Blog ini dibuat untuk mengingat kenangan atau kejadian yang terjadi dalam hidup sang penulis amatir.Seperti buku harian yang terbuka,maka maaf bila ada kata yang tidak berkenan hal itu karena sesuai dengan mood sang penulis yang naik turun saat menuangkan pikirannya.jadi ambil yang baik,buang yang buruknya.oke *Just for Fun and Reminder for Me* *Please enjoy for all of you my beloved reader's :)* *Thankkis ^3^ * -Renee -

Minggu, 23 Agustus 2026

Bab 7 — Lelaki yang Tidak Ada di Daftar

Nara tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama.

Ia percaya pada salah tingkah pada pandangan pertama.

Itu berbeda.

Menurut Nara, cinta membutuhkan proses.

Sementara salah tingkah cukup membutuhkan seorang laki-laki yang tinggi, berwajah menarik, lalu kebetulan menoleh ke arahnya.

Selesai.

Otak sudah membuat masalah sendiri.

Karena itu Nara tidak pernah menyangka bahwa ketika pertama kali bertemu Raka, ia justru tidak merasakan apa-apa.

Tidak ada jantung berdebar.

Tidak ada musik latar.

Tidak ada angin yang tiba-tiba berembus dramatis.

Tidak ada slow motion.

Yang ada hanya:

“Oh.”

Kemudian selesai.

Raka adalah laki-laki pertama yang tidak membuat Nara penasaran.

Setidaknya pada awalnya.

Mereka bertemu karena sebuah urusan pekerjaan.

Bukan kencan.

Bukan dikenalkan keluarga.

Bukan lewat dating app.

Bukan pula karena seseorang berkata,

“Eh, ada cowok bagus nih buat kamu.”

Nara sudah terlalu sering mendengar kalimat semacam itu.

Biasanya dilanjutkan dengan:

“Orangnya baik.”

Dan hampir selalu berarti:

Penampilannya biasa saja, tapi ya coba dulu.

Kali ini tidak.

Nara bertemu Raka secara kebetulan.

Laki-laki itu berdiri tidak jauh darinya.

Tinggi.

Sangat tinggi.

Nara sempat memperhatikan selama dua detik.

Kemudian memalingkan wajah.

“Lumayan.”

Hanya itu.

Raka tidak berusaha menarik perhatian.

Tidak memainkan ponsel sambil sengaja mencari sudut wajah terbaik.

Tidak tertawa keras agar orang-orang melihatnya.

Tidak sibuk bercerita tentang dirinya.

Ia hanya berdiri.

Diam.

Sesekali menjawab ketika diajak bicara.

Nara mengira ia pemalu.

Ternyata bukan.

Ia memang tidak banyak bicara.

Dan anehnya, itu membuat Nara nyaman.

Percakapan pertama mereka berlangsung singkat.

“Ini punya kamu?”

“Iya.”

“Oh.”

Raka mengangguk.

Selesai.

Nara pergi.

Di perjalanan pulang, ia tidak memikirkan laki-laki itu lagi.

Sama sekali.

Sampai beberapa hari kemudian mereka bertemu lagi.

Kali ini Raka menyapa lebih dulu.

“Hai.”

Nara berhenti.

“Oh. Hai.”

“Udah makan?”

Nara hampir refleks mengerutkan kening.

Pertanyaan itu biasanya membuatnya malas.

Tapi entah kenapa kali ini berbeda.

Mungkin karena Raka tidak mengucapkannya seperti orang yang sedang mencari celah untuk flirting.

Ia terdengar benar-benar bertanya.

“Udah.”

“Oke.”

Lalu ia pergi.

Nara berdiri.

“Hah?”

Ia menatap punggung Raka.

Tidak ada lanjutan.

Tidak ada:

Lagi di mana?

Sendirian?

Boleh kenalan?

Tidak ada.

Nara mengangkat bahu.

Aneh.

Beberapa minggu berlalu.

Raka muncul sesekali.

Tidak terlalu sering.

Tidak pernah memaksa percakapan.

Tidak pernah mengirim pesan tengah malam tanpa alasan.

Tidak pernah menghilang lalu muncul dengan:

“Kangen nih.”

Tidak pernah mengatakan bahwa banyak perempuan menyukainya.

Nara mulai memperhatikan.

Laki-laki itu ternyata memang seperti itu kepada semua orang.

Tenang.

Sopan.

Tidak berlebihan.

Dan yang paling aneh...

ia tidak pernah berusaha membuat Nara terkesan.

Justru itu yang membuat Nara mulai memperhatikannya.

Suatu sore, Nara sedang membawa beberapa barang.

Tangannya penuh.

Raka melihatnya.

“Sini.”

Ia mengambil sebagian barang itu.

“Eh, nggak usah.”

“Biar gue.”

Nara diam.

Tidak ada kalimat:

“Sebagai cowok gue harus...”

Tidak ada gaya sok pahlawan.

Ia hanya membantu.

Setelah itu dikembalikan lagi.

Selesai.

Hal kecil.

Tapi Nara mengingatnya.

Beberapa hari kemudian, Nara sedang mengeluh tentang sesuatu.

Raka mendengarkan.

Tidak memotong.

Tidak membandingkan dengan masalahnya sendiri.

Tidak mengatakan:

“Ah, itu mah belum seberapa.”

Ketika Nara selesai, ia hanya berkata,

“Capek, ya.”

Nara terdiam.

Dua kata.

Tidak ada ceramah.

Tidak ada solusi yang tidak diminta.

Tidak ada adu nasib.

Entah kenapa, justru itu yang membuat Nara hampir menangis.

Karena ternyata didengarkan tanpa dihakimi sesederhana itu.

Raka melihat wajahnya.

“Kok?”

“Nggak.”

“Yakin?”

“Iya.”

Raka mengangguk.

Tidak memaksa.

Nara menatapnya.

Untuk pertama kalinya, ia berpikir:

Mungkin orang ini beda.

Dan tentu saja, karena Nara adalah Nara, pikiran berikutnya langsung muncul:

Jangan-jangan cuma awalnya.

Ia menunggu.

Menunggu Raka menunjukkan sisi menyebalkan.

Menunggu ia mulai sok ganteng.

Menunggu ia bercerita tentang perempuan-perempuan yang mengejarnya.

Menunggu ia mulai mengatur.

Menunggu red flag.

Satu.

Dua.

Tiga.

Tidak ada.

Sebaliknya, Raka ternyata punya kebiasaan yang justru membuat Nara bingung.

Ia tidak banyak bicara tentang kebaikannya.

Suatu hari Nara mengetahui bahwa Raka rutin membantu sebuah kegiatan sosial.

Nara baru tahu karena orang lain yang bercerita.

“Raka sering bantu di sana.”

Nara menoleh.

“Hah?”

“Iya.”

“Serius?”

“Iya. Udah lama.”

Nara diam.

Ia teringat influencer yang pernah ia lihat.

Yang setiap kebaikannya masuk Instagram.

Nara melirik Raka.

“Kok lu nggak pernah cerita?”

Raka mengangkat bahu.

“Kenapa harus cerita?”

Nara tidak menjawab.

Di dalam kepalanya, alarm berbunyi.

Bahaya.

Bukan bahaya red flag.

Bahaya karena laki-laki ini mulai masuk tipe.

Nara membuang muka.

“Jangan.”

“Apa?”

“Gue lagi ngomong sama diri sendiri.”

Raka tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya, Nara melihat senyumnya lebih lama.

Dan sialnya...

ganteng.

Bukan ganteng Instagram.

Bukan ganteng karena filter.

Bukan ganteng karena angle.

Ganteng yang justru terlihat lebih baik ketika tidak sedang berusaha terlihat ganteng.

Nara langsung mengalihkan pandangan.

“Waduh.”

“Apa?”

“Gak ada.”

Malam itu Nara pulang dengan perasaan aneh.

Ia duduk di tempat tidur.

Kucingnya ada di sebelahnya.

Nara menatap langit-langit.

“Kayaknya gue mulai suka orang.”

Kucingnya diam.

“Dan orangnya malah bukan tipe yang awalnya gue cari.”

Kucing itu menguap.

Nara menghela napas.

“Masalah.”

Ia mengambil ponsel.

Tidak ada pesan dari Raka.

Aneh.

Nara justru merasa lega.

Kalau ada pesan, ia mungkin akan terlalu banyak berpikir.

Beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi.

Raka: Udah sampai?

Nara menatap layar.

Senyum kecil muncul tanpa izin.

Ia mengetik.

Udah.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Raka: Oke. Istirahat.

Nara menatap pesan itu.

Tidak ada emoji.

Tidak ada gombalan.

Tidak ada kata-kata manis.

Hanya dua kata.

Istirahat.

Nara tersenyum.

Kemudian menjatuhkan ponsel ke kasur.

Ia menutup wajah dengan bantal.

“Anjir.”

Kucingnya menatapnya.

“Jangan lihat gue.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nara tidak merasa sedang mengejar seseorang.

Tidak sedang membuktikan dirinya pantas dicintai.

Tidak sedang berusaha menjadi lebih cantik.

Tidak sedang takut dianggap tidak laku.

Ia hanya sedang mengenal seseorang.

Dan seseorang itu, tanpa banyak suara, perlahan-lahan mulai mengetuk tembok yang selama ini Nara bangun tinggi-tinggi.

Bukan dengan mendobraknya.

Bukan dengan memaksa.

Hanya dengan berdiri di depan tembok itu dan menunggu.

Dan mungkin...

untuk pertama kalinya,

Nara tidak ingin membangun tembok yang lebih tinggi.

Tidak ada komentar:

translate into your language

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

LOVE THIS QUOTE

never blame anyone in your life!. Good people give you HAPPINESS,Bad people give you EXPERIENCES,Worst people give you a LESSON and Best people give you MEMORIES.

I Heart Your Blog :)