Read This !

Blog ini dibuat untuk mengingat kenangan atau kejadian yang terjadi dalam hidup sang penulis amatir.Seperti buku harian yang terbuka,maka maaf bila ada kata yang tidak berkenan hal itu karena sesuai dengan mood sang penulis yang naik turun saat menuangkan pikirannya.jadi ambil yang baik,buang yang buruknya.oke *Just for Fun and Reminder for Me* *Please enjoy for all of you my beloved reader's :)* *Thankkis ^3^ * -Renee -

Jumat, 21 Agustus 2026

Bab 2 — Rumah yang Tidak Pernah Benar-Benar Istirahat

Nara pernah berpikir bahwa rumah seharusnya menjadi tempat seseorang beristirahat.

Kemudian ia tumbuh dewasa dan menyadari bahwa teori itu tidak berlaku untuk semua orang.

Di rumahnya, pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai.

Kalau sedang bekerja, ia bekerja.

Kalau sedang tidak bekerja, ia tetap bekerja.

Bedanya hanya seragamnya yang berganti menjadi kaus rumahan.

Pagi hari bisa dimulai dengan suara ayahnya.

“Nara bangun!”

Nara yang masih setengah sadar membuka mata.

“Apa?”

“Kucing kamu muntah!”

Nara menatap langit-langit.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Ia menarik napas.

“Ya udah, nanti gue beresin.”

“Nanti-nanti terus!”

Nara bangun.

Ia mengambil kain lap.

Mengelap lantai.

Kucingnya duduk tidak jauh dari sana, menatapnya dengan wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah.

Nara menatap balik.

“Lu kenapa sih?”

Kucing itu mengeong.

“Ya gue tahu lu nggak ngerti.”

Ia mengelus kepalanya.

“Namanya juga kucing.”

Itulah yang membuat Nara sering kesal kepada ayahnya.

Bukan karena ayahnya tidak suka kucing.

Nara bahkan tidak yakin apakah ayahnya benar-benar membenci kucing.

Ia hanya tidak pernah mau repot.

Kalau kucing muntah, Nara.

Kalau kucing buang air sembarangan, Nara.

Kalau lantai kotor, Nara.

Kalau rumah berantakan, Nara.

Entah sejak kapan, semua kekacauan di rumah seperti otomatis memiliki nama penerima tugas.

Nara.

Padahal ketika ia bekerja di kedai dan pulang hampir pukul sebelas malam, tidak ada yang bertanya apakah ia sudah cukup lelah.

Pernah suatu kali ia pulang dan menemukan rumah dalam keadaan berantakan.

Lantai kotor.

Pakaian menumpuk.

Piring berserakan.

Sampah belum dibuang berhari-hari.

Dan yang paling menyebalkan, tidak ada satu pun orang yang merasa ada masalah.

Nara berdiri di tengah rumah.

Tasnya masih menggantung di bahu.

Ia baru pulang bekerja.

Sepuluh jam lebih.

Ia memandang sekeliling.

“Gue kerja di luar.”

Tidak ada jawaban.

“Terus pulang masih kerja lagi?”

Tetap tidak ada jawaban.

Ia akhirnya mengambil sapu.

Karena kalau tidak dikerjakan, siapa yang akan mengerjakan?

Itulah pertanyaan yang paling sering menghantui Nara.

Kalau bukan gue, siapa?

Masalahnya, semakin sering seseorang menjawab pertanyaan itu dengan dirinya sendiri, semakin mudah orang lain menganggap jawabannya memang harus selalu dia.

Nara tidak sadar kapan ia mulai terbiasa.

Ia mencuci baju.

Memasak.

Membersihkan rumah.

Mengurus kucing.

Membantu keluarga.

Mendengarkan keluhan orang lain.

Menjadi tempat orang bercerita.

Tetapi ketika Nara sendiri ingin bercerita, jawabannya sering kali berbeda.

“Ya kamu juga harusnya...”

Atau:

“Dulu saya lebih susah.”

Atau:

“Namanya hidup.”

Nara akhirnya belajar satu hal.

Tidak semua orang yang mendengarkan kita benar-benar sedang mendengarkan.

Kadang mereka hanya sedang menunggu giliran untuk menceritakan masalah mereka sendiri.

Mungkin itu sebabnya Nara menjadi pendiam.

Bukan karena ia tidak punya cerita.

Justru terlalu banyak.

Ia hanya sudah terlalu sering menemukan bahwa ceritanya tidak benar-benar punya tempat.

Ayahnya juga punya kebiasaan lain.

Membandingkan.

Membandingkan pekerjaan.

Membandingkan uang.

Membandingkan hidup.

Dan yang paling menyakitkan bagi Nara adalah ketika pembicaraan sampai pada laki-laki.

“Kamu kapan punya pacar?”

Nara diam.

“Kamu nggak pernah bawa cowok ke rumah.”

Diam.

“Mau sampai tua begitu?”

Nara menelan ludah.

Ada sesuatu yang panas di belakang matanya.

Ia ingin mengatakan bahwa kalau ia mau, ia sebenarnya bisa saja punya pacar.

Dating app menyediakan banyak pilihan.

Terlalu banyak malah.

Ia bisa membalas beberapa laki-laki.

Bisa menerima ajakan jalan.

Bisa berpura-pura tertarik.

Tapi Nara tidak mau.

Ia tidak mau menerima seseorang hanya karena takut disebut tidak laku.

Ia tidak mau menikah hanya supaya keluarganya berhenti bertanya.

Ia terutama tidak mau mendapatkan laki-laki yang membuat rumah terasa seperti tempat kerja kedua.

Tapi semua itu sulit dijelaskan.

Karena bagi sebagian orang, perempuan yang tidak membawa laki-laki pulang berarti perempuan yang tidak ada yang mau.

Nara kadang ingin tertawa.

Kalau mereka tahu isi kepalanya.

Kalau mereka tahu betapa sering ia justru menolak.

Kalau mereka tahu standar laki-laki yang ada di kepalanya.

Mungkin mereka akan bilang Nara terlalu pemilih.

Dan mungkin mereka benar.

Sedikit.

Karena dalam bayangannya, laki-laki yang ia suka bukan tipe yang datang dengan suara keras dan mengatakan bahwa ia punya banyak penggemar.

Nara justru menyukai laki-laki yang tenang.

Misterius.

Tidak terlalu banyak bicara.

Tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya disukai banyak perempuan.

Kalau bisa, wajahnya seperti aktor Korea.

Nara tertawa sendiri ketika memikirkan itu.

“Ya pantes aja susah.”

Ia mengambil ponselnya.

Membuka Instagram.

Scroll.

Scroll.

Lalu berhenti pada seorang influencer kesehatan.

Nara menatap layar.

“Hmm.”

Laki-laki itu sebenarnya masuk tipenya.

Tinggi.

Wajahnya menarik.

Gaya bicaranya terlihat percaya diri.

Tapi setiap beberapa unggahan, selalu ada pencapaian.

Kegiatan sosial.

Sumbangan.

Kegiatan positif.

Nara mengernyit.

“Bang, kami sudah tahu lu baik.”

Ia scroll lagi.

Beberapa detik kemudian kembali ke postingan sebelumnya.

Ia memperbesar foto.

“...Tapi kalau ketemu langsung gimana, ya?”

Nara menghela napas.

Lalu meng-unfollow.

Selesai.

Lima menit kemudian ia membuka Instagram lagi.

“Anjir.”

Ia tertawa sendiri.

Ia benar-benar belum belajar.

Mungkin memang begitu masalahnya.

Nara bukan tidak ingin dicintai.

Ia hanya tidak ingin sembarang dicintai.

Dan mungkin karena itu, hidupnya terasa jauh lebih lambat daripada hidup orang lain.

Adiknya sudah menikah.

Sudah punya anak.

Teman-temannya mulai sibuk dengan keluarga masing-masing.

Sementara Nara masih berada di kamar yang sama, dengan seekor kucing yang tidur seenaknya dan masa depan yang belum jelas bentuknya.

Kadang ia merasa tertinggal.

Kadang ia merasa gagal.

Kadang ia bahkan merasa seperti figuran dalam kehidupan semua orang.

Tokoh utama adalah orang lain.

Adiknya.

Temannya.

Orang-orang yang sudah punya pekerjaan bagus.

Orang-orang yang sudah menikah.

Orang-orang yang tahu mau menjadi apa.

Sedangkan Nara?

Ia hanya tahu satu hal.

Ia tidak mau hidupnya seperti sebelumnya.

Entah itu berarti ia harus menunggu lebih lama atau tidak.

Malam itu, kucingnya naik ke tempat tidur.

Nara menatapnya.

“Lu tahu nggak?”

Kucing itu diam.

“Kayaknya gue nggak mau hidup cuma buat bertahan.”

Kucing itu menguap.

Nara tertawa.

“Lu juga nggak membantu banget.”

Ia mematikan lampu.

Untuk pertama kalinya malam itu, rumah menjadi sunyi.

Dan di dalam kesunyian itu, Nara mulai memikirkan sesuatu yang selama ini selalu ia hindari:

Kalau hidupnya memang miliknya sendiri, sebenarnya dia mau hidup seperti apa?

Pertanyaan itu belum punya jawaban.

Tapi untuk pertama kalinya, Nara merasa mungkin pertanyaan itulah yang harus ia cari.

Bukan pekerjaan.

Bukan suami.

Bukan pengakuan dari keluarganya.

Melainkan dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:

translate into your language

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

LOVE THIS QUOTE

never blame anyone in your life!. Good people give you HAPPINESS,Bad people give you EXPERIENCES,Worst people give you a LESSON and Best people give you MEMORIES.

I Heart Your Blog :)