Raka pertama kali melihat Nara ketika perempuan itu sedang kesal.
Bukan kesal kepadanya.
Justru itu yang membuatnya menarik.
Nara berdiri agak jauh, memegang ponsel sambil mengerutkan kening.
Wajahnya jelas sedang tidak senang.
Raka tidak tahu apa yang terjadi.
Ia juga tidak berniat bertanya.
Bukan karena tidak peduli.
Ia hanya tahu bahwa ada jenis orang yang tidak suka ditanya ketika sedang kesal.
Dan entah kenapa, sejak pertama melihat Nara, Raka merasa perempuan itu termasuk jenis tersebut.
Perempuan itu tidak banyak bicara.
Kalau diajak bicara, menjawab.
Kalau tidak perlu bicara, diam.
Tidak sibuk mencari perhatian.
Tidak tertawa keras hanya agar orang melihat.
Tidak berusaha terlihat ramah kepada semua orang.
Tapi anehnya, Raka justru beberapa kali memperhatikannya.
Ia bahkan tidak tahu sejak kapan.
Mungkin sejak Nara pertama kali mengatakan sesuatu dengan wajah datar yang membuat orang di dekatnya tertawa.
Atau mungkin ketika ia melihat Nara bekerja.
Perempuan itu ternyata berbeda ketika sedang sibuk.
Gerakannya cepat.
Kadang terburu-buru.
Kadang terlihat seperti ingin mengomel kepada semua orang.
Tapi tetap dikerjakan.
Raka pernah berpikir:
Dia capek.
Bukan sekadar capek badan.
Seperti orang yang sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri.
Raka mengenal tipe itu.
Karena dirinya sendiri juga begitu.
Ia tidak suka terlalu banyak bicara tentang masalah.
Kalau bisa diselesaikan sendiri, ya diselesaikan sendiri.
Kalau tidak bisa, baru minta bantuan.
Mungkin itu sebabnya ia merasa cukup nyaman berada di dekat Nara.
Mereka sama-sama tidak terlalu pandai berbasa-basi.
Bedanya, Raka sudah berdamai dengan sifat pendiamnya.
Nara masih sering terlihat seperti sedang berusaha memahami dirinya sendiri.
Raka tidak tahu kenapa.
Tapi ia menyukai itu.
---
Raka sebenarnya tahu Nara tidak terlalu memperhatikannya.
Itu terlihat jelas.
Ketika mereka pertama kali bertemu, Nara hanya melihatnya sekilas.
Tidak seperti perempuan lain yang kadang secara refleks melihat lagi ketika Raka lewat.
Raka sudah terbiasa.
Tubuhnya yang tinggi memang sering membuatnya mudah terlihat.
Tapi ia tidak pernah menganggap itu sesuatu yang istimewa.
Ia justru sering merasa sedikit tidak nyaman ketika terlalu diperhatikan.
Nara berbeda.
Ia melihat sekali.
Kemudian selesai.
Tidak ada tatapan kedua.
Tidak ada senyum basa-basi.
Tidak ada usaha mencari tahu.
Raka justru merasa lucu.
Bagus.
Setidaknya ada satu perempuan yang tidak sibuk menilainya.
Ia tidak tahu bahwa beberapa minggu kemudian, justru dirinya yang mulai mencari-cari keberadaan perempuan itu.
---
Raka tidak pernah menganggap dirinya romantis.
Ia bahkan tidak yakin dirinya pandai mendekati perempuan.
Ia hanya tahu kalau menyukai seseorang, ia lebih suka memperhatikan dulu.
Bukan menguntit.
Bukan juga sengaja muncul di mana-mana.
Hanya memperhatikan hal-hal kecil.
Misalnya, Nara selalu terlihat lebih diam kalau sedang lelah.
Kalau sedang nyaman, omongannya bisa jauh lebih banyak.
Kalau tidak suka seseorang, ekspresinya sangat mudah terbaca.
Dan kalau sedang berusaha menyembunyikan rasa malu...
ia justru terlihat semakin cuek.
Raka pernah hampir tertawa ketika melihatnya.
Nara mungkin mengira dirinya pandai menyembunyikan perasaan.
Tidak.
Sama sekali tidak.
Tapi Raka tidak pernah membongkarnya.
Ia membiarkan.
Ada sesuatu yang menyenangkan dari melihat Nara berusaha keras mempertahankan wajah datarnya.
---
Raka juga tahu satu hal lain.
Nara tidak mudah percaya kepada orang.
Ia tidak tahu persis kenapa.
Tapi ia bisa melihatnya dari cara perempuan itu berinteraksi.
Nara tidak langsung memberikan kepercayaan.
Ia mengamati.
Membandingkan perkataan dengan tindakan.
Menunggu apakah seseorang konsisten atau tidak.
Raka menyukai itu.
Karena ia sendiri juga begitu.
Ia tidak suka orang yang terlalu cepat dekat.
Tidak suka orang yang baru kenal sudah menceritakan seluruh kehidupan pribadi.
Dan ia paling tidak suka orang yang menjadikan kebaikan sebagai pertunjukan.
Mungkin itu sebabnya ia tidak pernah mengunggah semua hal yang ia lakukan.
Bukan karena tidak ingin dianggap baik.
Ia hanya tidak merasa perlu.
Kalau seseorang memang perlu tahu, nanti juga tahu.
Kalau tidak?
Tidak masalah.
---
Suatu sore, Raka melihat Nara sedang duduk sendirian.
Wajahnya terlihat lelah.
Ia sebenarnya ingin menghampiri.
Tapi berhenti.
Ada sesuatu yang membuatnya ragu.
Bukan karena takut ditolak.
Ia hanya tidak ingin mengganggu.
Akhirnya ia berdiri beberapa meter dari sana.
Menunggu.
Beberapa menit kemudian Nara melihatnya.
Mata mereka bertemu.
Nara langsung mengalihkan pandangan.
Raka hampir tersenyum.
Lucu.
Ia akhirnya berjalan mendekat.
“Hai.”
Nara menjawab.
“Hai.”
“Udah makan?”
“Udah.”
Raka mengangguk.
“Oke.”
Ia pergi.
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia tanyakan.
Hari ini capek?
Ada masalah?
Kenapa mukanya begitu?
Tapi Raka tahu waktunya belum tepat.
Ia tidak ingin masuk terlalu cepat ke kehidupan seseorang.
Kalau Nara memang ingin bercerita, ia akan bercerita.
Kalau tidak, Raka akan tetap ada.
Sederhana.
---
Malam itu Raka membuka ponselnya.
Ia melihat nama Nara di daftar kontak.
Tidak ada pesan.
Jempolnya berhenti di layar.
Ia ingin mengirim sesuatu.
Udah sampai?
Terlalu perhatian?
Udah makan?
Sudah pernah ditanyakan.
Lagi apa?
Terlalu klise.
Akhirnya ia mengetik:
Udah sampai?
Ia menatap pesan itu beberapa detik.
Kemudian mengirim.
Tidak lama kemudian balasan masuk.
Udah.
Raka tersenyum.
Ia tidak tahu kenapa balasan dua kata bisa membuatnya senang.
Ia mengetik:
Oke. Istirahat.
Kemudian meletakkan ponsel.
Selesai.
Setidaknya menurutnya.
Tapi beberapa menit kemudian ia mengambil ponselnya lagi.
Tidak ada pesan baru.
Ia menghela napas.
Gue kenapa?
Raka jarang memikirkan seseorang seperti ini.
Biasanya ia tidak peduli.
Kalau seseorang membalas pesan, bagus.
Kalau tidak, ya sudah.
Tapi Nara berbeda.
Ia tidak merasa harus mengejarnya.
Ia hanya ingin mengenalnya.
Pelan-pelan.
---
Ada satu hal yang belum Raka ketahui.
Nara sebenarnya sudah mulai menyukainya.
Tapi kalau ditanya, Nara mungkin akan menyangkal sampai mati.
Dan Raka tidak akan memaksa.
Karena ia justru menyukai cara Nara mempertahankan dirinya.
Perempuan itu tidak mudah luluh.
Tidak mudah percaya.
Tidak mudah terpesona.
Dan Raka tidak ingin menjadi orang yang menghancurkan pertahanan itu.
Ia ingin menjadi orang yang membuat Nara sadar bahwa pertahanan itu tidak harus selalu digunakan.
Bahwa tidak semua orang datang untuk menyakitinya.
Bahwa tidak semua orang akan pergi.
Bahwa tidak semua perhatian memiliki maksud tersembunyi.
Tapi Raka juga tahu...
ia harus membuktikannya.
Bukan dengan kata-kata.
Dengan waktu.
Dengan konsistensi.
Dengan hal-hal kecil.
Karena kalau ada satu hal yang Raka pelajari tentang Nara, perempuan itu tidak akan percaya pada janji.
Ia akan percaya pada pola.
Dan Raka tidak keberatan.
Ia punya banyak waktu.
---
Beberapa hari kemudian, mereka bertemu lagi.
Nara sedang berbicara dengan seseorang.
Raka berdiri dari jauh.
Ia memperhatikannya sebentar.
Kemudian seseorang di sebelah Raka bertanya,
“Lu suka dia?”
Raka diam.
“Siapa?”
“Nara.”
Raka melihat ke arah perempuan itu lagi.
Nara sedang tertawa.
Bukan senyum sopan.
Benar-benar tertawa.
Raka baru sadar sesuatu.
Ia menyukai suara tawa itu.
“Kayaknya.”
Temannya tertawa.
“Kayaknya?”
Raka memasukkan tangan ke saku.
“Iya.”
“Terus mau lu apain?”
Raka menggeleng.
“Belum tahu.”
“Lu biasanya nggak gini.”
Raka tersenyum tipis.
“Gue juga tahu.”
Ia kembali melihat Nara.
Perempuan itu tidak tahu bahwa seseorang sedang memperhatikannya.
Tidak tahu bahwa ada seseorang yang mulai mengingat kebiasaan-kebiasaan kecilnya.
Tidak tahu bahwa seseorang mulai mencari alasan untuk berada di dekatnya.
Dan mungkin yang paling lucu...
Nara tidak tahu bahwa laki-laki yang selama ini ia pikir tidak mungkin tertarik kepadanya ternyata sedang memikirkan hal yang sama.
Bagaimana caranya mendekati perempuan yang bahkan ketika suka seseorang pun malah bersikap seperti tidak suka?
Raka tertawa kecil.
Sepertinya ini akan sulit.
Tapi untuk pertama kalinya...
ia tidak keberatan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar