Hari terakhir honeymoon datang terlalu cepat.
Nara duduk di lantai sambil menatap koper yang terbuka.
“Gue benci bagian ini.”
Raka yang sedang melipat pakaian menoleh.
“Bagian beres-beres?”
“Bagian pulang.”
Raka tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena gue suka di sini.”
“Gue juga.”
Nara memasukkan satu pakaian ke koper.
“Kalau bisa diperpanjang?”
“Bisa.”
Nara langsung menoleh.
“Serius?”
“Kalau lu mau.”
“Lu nggak kerja?”
“Bisa diatur.”
Nara tersenyum lebar.
“Beneran?”
Raka mengangguk.
“Tapi…”
“Tapi apa?”
“Kita tetap harus pulang.”
Senyum Nara langsung turun.
“Yah.”
Raka tertawa.
“Kenapa sedih?”
“Karena gue belum puas.”
Raka berhenti melipat pakaian.
“Belum puas?”
Nara sadar kalimatnya terdengar ambigu.
Wajahnya langsung memerah.
“Maksud gue jalan-jalannya!”
Raka menahan tawa.
“Gue nggak bilang apa-apa.”
“Lu mikir yang aneh-aneh.”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Iya.”
Nara mengambil bantal dan melemparkannya.
Raka tertawa sambil menangkapnya.
---
Setelah koper selesai, mereka keluar untuk makan malam terakhir.
Tidak ada restoran mewah.
Mereka memilih tempat kecil yang nyaman di dekat hotel.
Nara makan sambil bercerita tentang semua hal yang ingin mereka lakukan setelah pulang.
“Gue mau dekorasi kamar.”
“Boleh.”
“Terus beli tanaman.”
“Boleh.”
“Terus…”
Nara berhenti.
“Apa?”
“Gue mau kita punya satu malam khusus setiap minggu.”
Raka tersenyum.
“Date night?”
“Iya.”
“Setuju.”
“Walaupun cuma makan mi instan?”
“Setuju.”
“Walaupun lagi capek?”
“Kalau capek, kita di rumah.”
Nara mengangguk puas.
“Deal.”
Raka menggenggam tangannya di atas meja.
“Gue nggak mau honeymoon jadi satu-satunya masa ketika kita punya waktu buat berdua.”
Nara menatapnya.
“Gue juga.”
---
Malam terakhir mereka berjalan lebih tenang.
Tidak ada rencana.
Tidak ada tempat yang harus dikunjungi.
Mereka hanya kembali ke kamar, duduk di balkon, dan melihat langit malam.
Nara menyandarkan kepala di bahu Raka.
“Rak?”
“Hm?”
“Kalau nanti kita tua…”
“Kenapa ngomong tua?”
“Jawab dulu.”
Raka tertawa kecil.
“Kalau kita tua?”
“Lu masih mau jalan-jalan sama gue?”
“Masih.”
“Masih mau gandeng tangan gue?”
“Masih.”
“Masih mau denger gue cerewet?”
Raka berpikir.
“Yang terakhir agak berat.”
Nara langsung mencubit lengannya.
“Raka!”
Raka tertawa.
“Bercanda.”
Ia menggenggam tangan Nara.
“Masih.”
Nara tersenyum.
“Janji?”
“Janji.”
Mereka kemudian berpelukan.
Tidak ada kata-kata besar.
Hanya keheningan yang nyaman.
Sebelum tidur, Raka mencium kening Nara.
“Besok pulang.”
Nara mengangguk.
“Ke rumah.”
Raka tersenyum.
“Ke rumah.”
Dan malam terakhir honeymoon mereka berakhir dengan satu kesadaran sederhana:
Mereka memang akan meninggalkan hotel ini.
Tapi mereka tidak meninggalkan apa pun yang sudah mereka bangun di sini.
Karena semua tawa, semua rasa malu, semua kedekatan, dan semua kenangan itu—
akan ikut pulang bersama mereka.
Besok, kehidupan sebagai suami istri benar-benar dimulai.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar