Nara tidak pernah benar-benar iri kepada orang lain.
Setidaknya, begitu yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.
Tapi ada malam-malam tertentu ketika ia membuka media sosial dan merasa seluruh dunia sedang bergerak tanpa dirinya.
Satu teman menikah.
Teman lain membeli rumah.
Ada yang mendapat pekerjaan baru.
Ada yang pergi ke luar negeri.
Ada yang mengunggah foto ulang tahun pernikahan.
Ada yang menggendong bayi.
Ada yang mengumumkan kehamilan.
Ada yang baru saja naik jabatan.
Ada yang membeli mobil.
Ada yang sekadar mengunggah makan malam bersama pasangan, tapi entah kenapa foto itu tetap terasa seperti tamparan kecil.
Nara tahu.
Ia tahu media sosial bukan kehidupan sebenarnya.
Ia tahu orang hanya mengunggah bagian yang ingin dilihat orang lain.
Ia tahu rumah tangga yang terlihat bahagia belum tentu bahagia.
Ia tahu pekerjaan yang terlihat keren belum tentu menyenangkan.
Ia tahu semuanya.
Tetap saja.
Kadang pengetahuan tidak cukup untuk membuat hati kebal.
Suatu malam ia melihat foto seorang teman lama.
Menikah.
Nara menatap layar cukup lama.
“Baguslah.”
Ia tersenyum tipis.
Lalu meletakkan ponselnya.
Lima menit kemudian mengambilnya lagi.
Bukan karena ingin melihat foto itu.
Ia hanya ingin memastikan sesuatu.
Dan benar.
Di bawah foto itu, orang-orang menulis:
Next kamu, Nar.
Semoga segera menyusul.
Jangan lama-lama sendirinya.
Nara membaca satu per satu.
Kemudian menutup aplikasi.
“Kenapa sih semua orang hobi banget bikin pernikahan kayak perlombaan?”
Ia tidak pernah mengerti.
Seolah hidup memiliki urutan yang sudah ditentukan.
Lulus sekolah.
Kerja.
Pacaran.
Menikah.
Punya anak.
Beli rumah.
Naik jabatan.
Pensiun.
Selesai.
Dan kalau seseorang berhenti di salah satu tahap terlalu lama, orang-orang mulai bertanya.
“Kok belum?”
Nara paling benci dua kata itu.
Kok belum?
Kok belum kerja?
Kok belum punya pacar?
Kok belum menikah?
Kok belum punya rumah?
Kok belum punya anak?
Seolah-olah hidup adalah daftar tugas sekolah yang harus dikumpulkan sebelum jam tertentu.
Ia pernah bertanya kepada dirinya sendiri:
Memangnya siapa yang menetapkan batas waktunya?
Tidak ada jawaban.
Tapi pertanyaan itu tetap terasa seperti tekanan.
Terutama ketika datang dari keluarga sendiri.
Ayahnya tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa Nara gagal.
Ia tidak perlu.
Kadang kalimat-kalimat pendek sudah cukup.
“Adikmu sudah punya anak.”
“Temanmu sudah kerja.”
“Kamu mau begini terus?”
Nara biasanya diam.
Ia tahu ayahnya mungkin tidak bermaksud sejahat itu.
Tapi kata-kata yang diucapkan berkali-kali tetap bisa meninggalkan bekas.
Lama-lama Nara mulai mempercayai sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ingin ia percaya.
Mungkin memang ada yang salah dengan dirinya.
Mungkin ia terlalu pendiam.
Terlalu sulit beradaptasi.
Terlalu pemilih.
Terlalu gampang tidak betah.
Terlalu banyak berpikir.
Terlalu keras kepala.
Terlalu...
Terlalu banyak.
Nara pernah menyebut dirinya sendiri sebagai kutu loncat.
Kesono.
Kesini.
Pindah.
Keluar.
Lamar lagi.
Coba lagi.
Tidak cocok.
Pergi lagi.
Ia melihat riwayat pekerjaannya dan tertawa getir.
Kalau orang lain melihat CV-nya, mungkin mereka akan berpikir:
Ini orang kenapa nggak pernah betah?
Padahal Nara tahu jawabannya.
Ia tidak pernah benar-benar mencari tempat yang sempurna.
Ia hanya mencari tempat yang tidak membuatnya merasa ingin menghilang.
Sayangnya, tempat seperti itu ternyata sulit ditemukan.
Suatu siang, Nara menerima sebuah tawaran kerja.
Garmen.
Ia membaca pesannya.
Ada kesempatan.
Ada penghasilan.
Ada pekerjaan.
Secara logika, ia seharusnya menerima.
Tapi ia menolak.
Setelah itu, ia duduk di tepi tempat tidur.
Diam.
Kemudian mulai menangis.
Bukan karena menyesal menolak.
Ia bahkan tidak yakin kenapa menangis.
Mungkin karena lelah.
Mungkin karena takut.
Mungkin karena merasa dirinya terlalu sulit.
Atau mungkin karena untuk pertama kalinya ia sadar bahwa hidup tidak akan selalu memberikan pilihan yang nyaman.
Kadang seseorang harus memilih antara dua hal yang sama-sama tidak ia sukai.
Nara mengusap wajah.
“Gue harus gimana?”
Tidak ada jawaban.
Kucingnya naik ke tempat tidur.
Ia menatap Nara.
Nara menatap balik.
“Jangan bilang gue harus kerja.”
Kucing itu mengeong.
“Lu juga nggak pernah kerja.”
Kucing itu berjalan pergi.
“Bangsat.”
Nara tertawa di tengah tangisnya.
Itu salah satu kelebihan kucing.
Mereka tidak pernah memberikan nasihat.
Mereka hanya pergi ketika manusia mulai terlalu banyak bicara.
Sore itu, Nara keluar rumah sebentar.
Ia melihat anak-anak sekolah pulang.
Beberapa berjalan bersama.
Beberapa tertawa.
Beberapa sibuk bermain ponsel.
Nara tiba-tiba teringat dirinya sendiri ketika masih SMA.
Ia dulu berpikir setelah lulus semuanya akan jelas.
Ternyata tidak.
Setelah lulus, hidup justru seperti jalan bercabang tanpa papan petunjuk.
Ia mengambil jalan pertama.
Salah.
Berbalik.
Mencoba jalan kedua.
Buntu.
Jalan ketiga terlihat menjanjikan.
Ternyata penuh lubang.
Dan sekarang ia berdiri di persimpangan lagi.
Bedanya, kali ini ia tidak lagi berusia delapan belas tahun.
Ia sudah membawa terlalu banyak pengalaman.
Terlalu banyak kecewa.
Terlalu banyak suara orang lain di kepala.
Dan terlalu banyak ketakutan untuk salah memilih.
Nara duduk di sebuah bangku.
Ia membuka ponselnya.
Tidak ada pesan penting.
Tidak ada panggilan kerja.
Tidak ada seseorang yang tiba-tiba mengatakan:
“Kami memilih Anda.”
Tidak ada laki-laki yang mengatakan:
“Aku serius sama kamu.”
Tidak ada siapa-siapa.
Untuk beberapa saat, Nara merasa sangat kecil.
Seperti benar-benar figuran.
Ia menatap orang-orang yang lewat.
Semua tampak punya tujuan.
Semua seperti tahu ke mana mereka pergi.
Sedangkan ia?
Ia bahkan tidak tahu besok akan melakukan apa.
Nara menunduk.
Kemudian sebuah pikiran kecil muncul.
Mungkin ia tidak sedang tertinggal.
Mungkin ia hanya berjalan di jalan yang berbeda.
Pikiran itu terdengar terlalu klise.
Nara hampir menertawakannya.
Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membantah.
Ia membiarkan pikiran itu tinggal.
Mungkin hidup memang bukan perlombaan.
Mungkin tidak semua orang harus menikah di usia yang sama.
Tidak semua orang harus bekerja di tempat yang sama.
Tidak semua orang harus memiliki pencapaian yang sama.
Dan mungkin...
tidak semua orang harus terlihat berhasil agar hidupnya tetap berarti.
Nara menarik napas.
Ia berdiri.
Belum ada pekerjaan.
Belum ada pasangan.
Belum ada jawaban.
Tapi hari itu ia pulang dengan sesuatu yang kecil.
Bukan kepastian.
Bukan keberhasilan.
Hanya sedikit keberanian untuk berhenti membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.
Malamnya, Nara kembali membuka laptop.
Ia membuat daftar pekerjaan yang ingin dicoba.
Administrasi.
BPR.
Back office.
Pekerjaan yang jamnya jelas.
Pekerjaan yang tidak memaksanya menjadi seseorang yang bukan dirinya.
Ia menatap daftar itu.
Kemudian mengetik satu kalimat di bagian paling bawah.
“Gue nggak harus menerima semua yang datang.”
Nara tersenyum.
Mungkin selama ini ia terlalu sibuk menunggu seseorang memilihnya.
Perusahaan.
Atasan.
Laki-laki.
Keluarga.
Mungkin sekarang waktunya ia belajar memilih juga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang bisa mengubah arah.
Bukan karena hidupnya langsung menjadi lebih baik.
Tetapi karena untuk pertama kalinya...
Nara mulai bertanya bukan:
“Siapa yang mau menerima gue?”
Melainkan:
“Apa yang gue mau?”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar