Dua hari kemudian, Raka pulang membawa kabar yang membuat Nara langsung tahu bahwa masalahnya lebih besar dari yang ia ceritakan sebelumnya.
Ia bahkan belum sempat melepas sepatu ketika Nara bertanya,
“Rak?”
“Hm?”
“Kenapa muka lu begitu?”
Raka diam.
Kemudian meletakkan tasnya.
“Gue dapat tawaran.”
“Tawaran apa?”
“Promosi.”
Nara langsung tersenyum.
“Serius?”
Raka mengangguk.
“Harusnya bagus, kan?”
“Iya.”
“Tapi?”
Raka menghela napas.
“Posisinya di luar kota.”
Senyum Nara perlahan menghilang.
“Berapa lama?”
“Minimal dua tahun.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Nara duduk.
“Dua tahun?”
“Iya.”
“Dan lu harus pindah?”
“Kalau gue ambil.”
Nara menatap lantai.
“Lu mau?”
Raka tidak langsung menjawab.
“Gue nggak tahu.”
“Karier lu penting.”
“Lu juga.”
“Jangan jawab begitu.”
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena gue tahu lu pengin.”
Raka terdiam.
Nara tersenyum tipis.
“Lu kerja keras buat ini.”
“Gue juga kerja keras buat kita.”
“Gue tahu.”
“Terus?”
Nara menghela napas.
“Gue takut.”
Raka mendekat.
“Takut apa?”
“Takut kalau lu pergi, semuanya berubah.”
Raka menggenggam tangannya.
“Gue nggak mau pergi ninggalin lu.”
“Tapi lu juga nggak mau kehilangan kesempatan ini.”
Raka diam.
Nara benar.
Dan justru itu yang membuatnya semakin sulit.
---
Malam itu mereka tidak menemukan jawaban.
Mereka makan dalam diam.
Kemudian duduk di sofa tanpa menyalakan televisi.
Nara akhirnya berkata,
“Kalau gue bilang jangan pergi…”
Raka menoleh.
“Gue bakal dengar.”
“Tapi gue nggak mau jadi alasan lu menolak sesuatu yang lu perjuangkan.”
Raka menggenggam tangannya.
“Gue juga nggak mau jadi alasan lu harus mengorbankan hidup lu.”
Nara tersenyum getir.
“Berarti kita sama-sama keras kepala.”
“Dari dulu.”
Nara tertawa kecil.
Kemudian kembali diam.
---
Beberapa hari berikutnya terasa berbeda.
Mereka mulai membicarakan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah perlu dipikirkan.
Bagaimana kalau mereka harus tinggal terpisah?
Bagaimana kalau Nara ikut?
Bagaimana dengan pekerjaan Nara?
Bagaimana dengan rumah mereka?
Semakin banyak pertanyaan, semakin sedikit jawaban.
Suatu malam, Nara duduk sendirian di balkon.
Raka datang membawa dua cangkir teh.
“Masih mikirin itu?”
Nara mengangguk.
“Gue takut.”
Raka duduk di sebelahnya.
“Gue juga.”
Nara menatapnya.
“Lu takut?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena gue takut kita jadi jauh.”
Nara terdiam.
Selama ini ia mengira hanya dirinya yang merasa demikian.
Raka menyandarkan tubuh ke kursi.
“Gue nggak takut sama pekerjaan baru.”
“Terus?”
“Gue takut pulang ke rumah dan lu nggak ada.”
Mata Nara langsung berkaca-kaca.
“Jangan ngomong begitu.”
“Kenapa?”
“Gue bisa nangis.”
Raka tersenyum kecil.
“Maaf.”
Nara menggenggam tangannya.
“Kalau akhirnya lu ambil…”
Raka menatapnya.
“Gue mau kita cari cara supaya tetap jadi kita.”
“Caranya?”
“Telepon setiap hari.”
“Bukan cuma chat.”
“Video call.”
“Kalau sibuk?”
“Cari waktu.”
“Kalau berantem?”
“Jangan kabur.”
Raka tersenyum.
“Deal.”
Nara menarik napas panjang.
“Dan kalau suatu hari gue bilang gue capek…”
“Gue pulang.”
Nara menatapnya.
“Walaupun jauh?”
“Walaupun jauh.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Nara tersenyum.
Mungkin mereka belum tahu apa yang akan terjadi.
Mungkin keputusan ini akan menguji hubungan mereka lebih keras daripada pertengkaran sebelumnya.
Tapi satu hal sudah jelas.
Mereka tidak ingin menghadapi pilihan itu sebagai dua orang yang berjalan sendiri-sendiri.
Mereka ingin menghadapinya sebagai suami dan istri.
Bersama.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar