Read This !

Blog ini dibuat untuk mengingat kenangan atau kejadian yang terjadi dalam hidup sang penulis amatir.Seperti buku harian yang terbuka,maka maaf bila ada kata yang tidak berkenan hal itu karena sesuai dengan mood sang penulis yang naik turun saat menuangkan pikirannya.jadi ambil yang baik,buang yang buruknya.oke *Just for Fun and Reminder for Me* *Please enjoy for all of you my beloved reader's :)* *Thankkis ^3^ * -Renee -

Selasa, 25 Agustus 2026

Bab 3 — Suami Gue Makin Berani

Hari kedua honeymoon seharusnya sederhana.

Mereka sudah sarapan.

Sudah jalan-jalan.

Sudah mengambil terlalu banyak foto.

Dan sekarang Nara punya satu keinginan.

Tidur siang.

Begitu pintu kamar tertutup, Nara langsung menjatuhkan diri ke kasur.

“Capek.”

Raka meletakkan kunci di meja.

“Katanya mau honeymoon.”

“Honeymoon juga butuh istirahat.”

Raka tertawa.

“Logika dari mana?”

“Logika istri.”

“Baru sehari jadi istri udah punya aturan sendiri.”

“Banyak.”

Raka duduk di tepi kasur.

Nara memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian, ia merasakan rambutnya disentuh.

“Kenapa?”

“Lagi lihat lu.”

“Ngapain?”

“Lucu.”

Nara membuka mata.

“Gue bukan tontonan.”

“Buat gue iya.”

Nara tersenyum kecil.

“Lu akhir-akhir ini makin berani.”

“Karena istrinya juga makin berani.”

Nara langsung terdiam.

“Gue kapan berani?”

Raka menatapnya sambil tersenyum.

“Semalam.”

Wajah Nara langsung memanas.

“Jangan bahas.”

“Kenapa?”

“Malu.”

Raka tertawa kecil.

Ia kemudian berbaring di samping Nara.

Tidak ada kata-kata untuk beberapa saat.

Hanya suara AC dan napas mereka.

Nara perlahan bergeser mendekat.

Kepalanya bersandar di bahu Raka.

“Rak?”

“Hm?”

“Lu bahagia?”

Raka menoleh.

“Banget.”

“Segitunya?”

“Segitunya.”

Nara tersenyum.

“Gue juga.”

Raka mengecup keningnya.

Nara memejamkan mata.

Namun beberapa detik kemudian, ia membuka mata lagi.

“Rak.”

“Hm?”

“Kalau honeymoon begini terus, gue bisa makin sayang sama lu.”

Raka tersenyum.

“Memangnya sekarang belum cukup?”

Nara menatapnya.

“Belum.”

“Berarti gue harus usaha lebih keras.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Gue takut nggak kuat.”

Raka tertawa.

“Gue jagain.”

Nara ikut tertawa.

Kemudian ia mendekat dan mencium Raka lebih dulu.

Singkat.

Namun cukup membuat Raka terdiam sesaat.

Nara langsung tersenyum puas.

“Kenapa?”

Raka menggeleng.

“Gue baru tahu ternyata istri gue bisa mulai duluan.”

“Kenapa? Nggak boleh?”

“Boleh.”

Raka mendekat.

“Banget.”

Ciuman berikutnya berlangsung lebih lama.

Hangat dan penuh rasa sayang.

Nara memeluknya, sementara Raka membalas dengan lembut.

Tidak ada terburu-buru.

Tidak ada yang perlu dibuktikan.

Hanya dua orang yang semakin nyaman menunjukkan rasa cinta mereka.

Ketika mereka akhirnya berpisah, Nara tertawa kecil.

“Sekarang gue tahu.”

“Tahu apa?”

“Kenapa lu kelihatan santai terus.”

“Kenapa?”

“Karena ternyata lu cuma nunggu gue berhenti malu.”

Raka tersenyum.

“Bisa jadi.”

Nara memukul lengannya pelan.

“Nyebelin.”

“Sayang?”

Nara tersenyum.

“Sayang.”

Raka menariknya kembali dalam pelukan.

Di luar, matahari masih tinggi.

Tapi bagi mereka, waktu seperti tidak terlalu penting.

Honeymoon mereka baru memasuki hari kedua.

Dan keduanya mulai sadar—

perjalanan ini bukan cuma tentang tempat yang mereka datangi.

Tapi tentang semakin mengenal satu sama lain, sebagai dua orang yang akhirnya tidak lagi perlu menyembunyikan rasa cinta mereka.

Tidak ada komentar:

translate into your language

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

LOVE THIS QUOTE

never blame anyone in your life!. Good people give you HAPPINESS,Bad people give you EXPERIENCES,Worst people give you a LESSON and Best people give you MEMORIES.

I Heart Your Blog :)