Read This !

Blog ini dibuat untuk mengingat kenangan atau kejadian yang terjadi dalam hidup sang penulis amatir.Seperti buku harian yang terbuka,maka maaf bila ada kata yang tidak berkenan hal itu karena sesuai dengan mood sang penulis yang naik turun saat menuangkan pikirannya.jadi ambil yang baik,buang yang buruknya.oke *Just for Fun and Reminder for Me* *Please enjoy for all of you my beloved reader's :)* *Thankkis ^3^ * -Renee -

Sabtu, 22 Agustus 2026

Bab 3 — Tidak Semua Pintu Harus Dibuka

Hari pertama setelah tidak bekerja terasa seperti liburan.

Hari kedua juga.

Hari ketiga mulai aneh.

Hari ketujuh terasa seperti hari Minggu yang tidak pernah selesai.

Nara bangun tanpa alarm.

Tanpa mengenal lagi hari senin. Karena baginya sekarang, setiap hari adalah hari minggu yang tidak pernah usai.

Tidak ada seragam.

Tidak ada jadwal masuk.

Tidak ada atasan yang mengirim pesan.

Tidak ada suara piring beradu.

Tidak ada orang yang bertanya, “Kok telat?”

Awalnya ia menikmati semuanya.

Ia bisa bangun siang.

Bisa menonton apa pun yang ia mau.

Bisa bermain dengan kucing.

Bisa keluar rumah tanpa harus memikirkan apakah ia akan terlambat pulang.

Tapi ternyata kebebasan memiliki sisi lain.

Ia tidak punya alasan untuk pergi ke mana-mana.

Dan semakin lama ia berada di rumah, semakin sering satu pertanyaan muncul.

“Kapan kerja lagi?”

Awalnya pertanyaan itu datang dari orang lain.

Lama-lama, suara itu pindah ke kepalanya sendiri.

Nara mulai melamar pekerjaan.

Satu.

Dua.

Tiga.

Lima.

Ia mengirim CV.

Menunggu.

Mengecek ponsel.

Tidak ada.

Menunggu lagi.

Tidak ada.

Ada beberapa lowongan yang terlihat cocok.

Ada yang terlalu jauh.

Ada yang gajinya tidak masuk akal.

Ada yang jam kerjanya seperti meminta seseorang menyerahkan seluruh hidupnya.

Ada juga yang deskripsinya berbunyi:

“Mampu bekerja di bawah tekanan.”

Nara langsung menutup halaman.

“Gue udah pernah.”

Lalu ada yang menulis:

“Bersedia bekerja secara multitasking.”

Nara tertawa.

“Ini kode buat disuruh ngerjain kerjaan lima orang sendirian, kan?”

Ia scroll lagi.

Kadang ia merasa seperti sedang mencari pasangan.

Lowongan kerja juga sama-sama bikin bingung.

Yang satu gajinya bagus tapi jamnya kacau.

Yang satu jamnya bagus tapi gajinya kecil.

Yang satu dekat rumah tapi lingkungannya mencurigakan.

Yang satu cocok dengan kemampuan tapi sistem kerjanya tidak jelas.

Yang satu terlihat bagus di awal lalu setelah dibaca sampai habis:

“Bisa melakukan pekerjaan A sampai Z, memiliki kendaraan pribadi, mampu bekerja di bawah tekanan, bersedia lembur, bersedia ditempatkan di mana saja.”

Nara membaca ulang.

“Ini nyari karyawan apa nyari budak?”

Ia menutup aplikasi.

Kemudian membuka lagi lima menit kemudian.

Karena tetap butuh kerja.

Itulah bagian yang paling menyebalkan.

Ia boleh kesal.

Boleh memilih.

Tapi kebutuhan hidup tidak pernah ikut memahami harga diri.

Beberapa bulan kemudian, sebuah tawaran datang.

Pekerjaan di sebuah perusahaan garmen.

Nara membaca pesannya berkali-kali.

Ia bisa saja menerima.

Pengalamannya ada.

Pekerjaannya bukan sesuatu yang benar-benar asing.

Tapi ada sesuatu yang membuatnya ragu.

Ia sudah pernah berada di sana.

Ia sudah pernah merasakan bagaimana rasanya masuk ke sebuah pekerjaan dengan pikiran:

Semoga kali ini cocok.

Lalu tiga bulan kemudian semuanya berubah.

Nara takut mengulang cerita yang sama.

Terlebih pekerjaan itu datang dari kenalan ayahnya.

Itu membuatnya semakin tidak nyaman.

Ia membayangkan dirinya kembali bekerja.

Hari pertama.

Hari kedua.

Kemudian perlahan-lahan mulai muncul permintaan lain.

Lalu perubahan bagian.

Lalu orang-orang baru.

Lalu masalah.

Lalu suatu hari ia kembali bertanya:

“Kenapa gue ada di sini?”

Nara menolak.

Bukan karena pekerjaan itu pasti buruk.

Ia hanya sudah cukup mengenal dirinya untuk tahu bahwa rasa tidak nyaman itu bukan sesuatu yang bisa terus dipaksa diam.

Tetapi setelah menolak, ia malah merasa bersalah.

“Gue susah dapat kerja.”

“Orang lain mau.”

“Kenapa gue malah nolak?”

Pikiran-pikiran itu datang bergantian.

Sampai akhirnya Nara menyadari sesuatu yang tidak menyenangkan.

Selama ini ia selalu mengukur dirinya berdasarkan seberapa lama ia bisa bertahan di tempat yang tidak cocok.

Semakin lama bertahan, semakin ia merasa hebat.

Kalau akhirnya pergi, ia merasa gagal.

Padahal mungkin ukuran yang benar bukan itu.

Mungkin bertahan bukan selalu tanda kuat.

Kadang tahu kapan harus pergi juga membutuhkan keberanian.

Nara teringat pekerjaan pertamanya.

Ia teringat ketika sudah ahli di satu bagian, kemudian dipindahkan.

Ia teringat Bank warga.

Ia teringat ketika seorang rekan pergi dan semuanya berubah.

Ia teringat kedai.

Soto.

Piring.

Ayam goreng.

Kerupuk.

Lantai.

Pesanan yang harus diantar.

Jam sepuluh malam.

Dan gaji seratus ribu.

Nara tertawa sendiri.

“Gue kok masih hidup, ya?”

Kucingnya menatapnya.

“Jangan lihat gue begitu.”

Ia mengusap wajah.

Mungkin selama ini masalahnya bukan karena Nara terlalu lemah.

Mungkin ia hanya terlalu sering ditempatkan di tempat yang salah.

Tapi ada masalah lain.

Nara tidak tahu tempat yang benar itu seperti apa.

Ia hanya tahu tempat-tempat yang salah.

Ia ingin pekerjaan administrasi.

Pekerjaan yang jelas.

Ada meja.

Ada komputer.

Ada prosedur.

Ada jam kerja yang masuk akal.

Ada orang-orang yang tahu batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Ia tidak ingin menjadi pemimpin.

Tidak ingin mengejar jabatan.

Tidak ingin membuktikan apa-apa kepada siapa pun.

Ia cuma ingin bekerja dengan tenang dan pulang tanpa merasa seluruh energinya tertinggal di tempat kerja.

Keinginan sederhana.

Tapi entah kenapa sulit sekali mendapatkannya.

Suatu malam Nara membuka kembali CV-nya.

Ia memperhatikan layar cukup lama.

Selama ini ia menulis pengalaman kerjanya seperti orang yang sedang meminta maaf.

Pernah bekerja di...

Pernah membantu...

Pernah menangani...

Padahal ia pernah melakukan banyak hal.

Ia pernah menjadi asisten leader.

Pernah dipercaya mengerjakan bagian tertentu.

Pernah bertahan dalam lingkungan kerja yang melelahkan.

Pernah menangani pekerjaan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.

Pernah bekerja sambil tetap mengurus rumah.

Pernah bangun pagi setelah tidur sedikit.

Pernah pulang malam dan masih membersihkan rumah.

Dan semuanya dilakukan tanpa tepuk tangan.

Nara menghapus satu kalimat dari CV-nya.

Kemudian menggantinya.

Ia menatap tulisan baru itu.

Untuk pertama kalinya, ia tidak sedang berusaha membuat dirinya terlihat lebih hebat.

Ia hanya berhenti mengecilkan dirinya sendiri.

Nara menyimpan CV itu.

Besok ia akan mengirimkannya lagi.

Entah akan dipanggil atau tidak.

Entah akan diterima atau tidak.

Tapi kali ini ia punya satu syarat baru.

Ia tidak akan menerima pekerjaan hanya karena takut tidak ada pilihan lain.

Tidak semua pintu harus dibuka.

Beberapa pintu memang harus dibiarkan tertutup.

Karena mungkin, di balik pintu yang belum ia temukan, ada ruangan yang memang dibuat untuknya.

Nara belum tahu di mana.

Tapi untuk pertama kalinya, ia mau mencarinya.

Tidak ada komentar:

translate into your language

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

LOVE THIS QUOTE

never blame anyone in your life!. Good people give you HAPPINESS,Bad people give you EXPERIENCES,Worst people give you a LESSON and Best people give you MEMORIES.

I Heart Your Blog :)