Read This !

Blog ini dibuat untuk mengingat kenangan atau kejadian yang terjadi dalam hidup sang penulis amatir.Seperti buku harian yang terbuka,maka maaf bila ada kata yang tidak berkenan hal itu karena sesuai dengan mood sang penulis yang naik turun saat menuangkan pikirannya.jadi ambil yang baik,buang yang buruknya.oke *Just for Fun and Reminder for Me* *Please enjoy for all of you my beloved reader's :)* *Thankkis ^3^ * -Renee -
Tampilkan postingan dengan label novel fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel fiksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2026

Bab 14 — Ada yang Aneh

8/31/2026 12:29:00 AM 0 Comments
Dua bulan berlalu.

Rencana pindah sementara Raka masih berjalan.

Pekerjaannya semakin padat, tapi ia berusaha menepati janjinya.

Pulang tidak terlalu larut.

Mengabari Nara kalau ada perubahan jadwal.

Dan setiap akhir pekan, mereka tetap punya waktu berdua.

Namun belakangan, Nara merasa tubuhnya berbeda.

Awalnya ia mengira hanya kelelahan.

Bangun pagi terasa lebih berat.

Makanan tertentu yang biasanya ia suka tiba-tiba membuatnya tidak selera.

Bahkan aroma kopi Raka yang biasanya ia suka sekarang justru membuat perutnya terasa aneh.

Pagi itu, Raka sedang membuat kopi.

Nara baru masuk dapur.

Begitu mencium aromanya, ia langsung berhenti.

“Rak.”

“Hm?”

“Matikan.”

Raka menoleh.

“Kenapa?”

“Bau.”

Raka melihat cangkir di tangannya.

“Bau kopi?”

“Iya.”

“Lu biasanya suka.”

“Sekarang nggak.”

Raka mengernyit.

“Lu sakit?”

“Nggak.”

“Yakin?”

Nara mengangguk.

“Cuma lagi nggak suka.”

Raka akhirnya menaruh cangkirnya.

“Ya udah.”

Nara tersenyum.

“Thank you.”

Raka memperhatikannya.

“Kok lu pucat?”

“Gue kurang tidur.”

“Tidur lagi sana.”

“Gue ada kerjaan.”

“Nanti aja.”

Nara tertawa kecil.

“Lu mulai cerewet.”

“Belajar dari istri.”

---

Siangnya, Nara sedang bekerja ketika tiba-tiba perutnya terasa tidak nyaman.

Ia langsung berdiri dan berjalan ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, ia keluar sambil menarik napas panjang.

“Kenapa gue begini?”

Ia menatap dirinya sendiri di cermin.

Kemudian menghitung sesuatu dalam pikirannya.

Tanggal.

Minggu.

Hari.

Nara terdiam.

“Eh…”

Ia mengambil ponselnya.

Membuka kalender.

Menghitung lagi.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Jantungnya mulai berdebar.

“Jangan-jangan…”

Nara langsung menggeleng.

“Ah, nggak mungkin.”

Tapi rasa penasaran itu tidak hilang.

Sore harinya, ketika Raka belum pulang, Nara keluar sebentar.

Ia membeli sesuatu yang membuat tangannya gemetar hanya dengan membawanya pulang.

Sebuah alat tes kehamilan.

Ia menyimpannya di dalam tas.

Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya tidak berhenti berputar.

Bagaimana kalau hasilnya positif?

Bagaimana kalau benar?

Bagaimana kalau belum waktunya?

Bagaimana kalau Raka belum siap?

Begitu sampai rumah, Nara duduk di ujung tempat tidur.

Kotak kecil itu masih berada di dalam tas.

Ia menatapnya lama.

Kemudian ponselnya berbunyi.

Raka:
Gue pulang agak telat. Jangan tunggu makan.

Nara membaca pesan itu.

Tersenyum kecil.

Kemudian tanpa sadar tangannya berpindah ke perut.

Masih datar.

Masih sama seperti biasanya.

Namun tiba-tiba terasa seperti menyimpan sebuah rahasia besar.

Nara berbisik,

“Kalau beneran ada…”

Ia berhenti.

Tidak berani melanjutkan kalimatnya.

Malam itu, Nara memutuskan untuk memastikan semuanya sendiri terlebih dahulu.

Ia tidak mau membuat Raka berharap hanya karena kecurigaan.

Namun saat akhirnya berdiri di kamar mandi sambil menunggu hasil tes—

jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada sebelumnya.

Satu garis.

Nara menahan napas.

Kemudian—

garis kedua mulai terlihat.

Matanya membesar.

Tangannya langsung menutup mulut.

“Ya Allah…”

Air mata perlahan memenuhi matanya.

Ia menatap alat tes itu sekali lagi.

Dua garis.

Benar-benar dua garis.

Nara duduk perlahan di lantai kamar mandi.

Tangannya gemetar.

Bukan karena takut sepenuhnya.

Bukan juga karena bahagia sepenuhnya.

Tapi karena untuk pertama kalinya, masa depan yang selama ini hanya mereka bicarakan—

mungkin benar-benar sedang tumbuh di dalam dirinya.

Dan malam itu, sebelum Raka pulang, Nara menyimpan satu rahasia kecil.

Rahasia yang akan mengubah kehidupan mereka berdua.

Bab 13 — Bukan Berarti Gue Pergi

8/31/2026 12:28:00 AM 0 Comments
Seminggu berlalu.

Akhirnya Raka harus memberikan jawaban.

Pagi itu, Nara membuat sarapan seperti biasa.

Tapi suasananya berbeda.

Raka duduk di meja makan sambil memandangi ponselnya.

“Jam berapa harus kasih jawaban?”

“Siang.”

Nara mengangguk.

“Udah tahu mau jawab apa?”

Raka menatapnya.

“Belum.”

Nara meletakkan piring di depannya.

“Lu nggak harus mutusin sekarang.”

“Harus.”

“Kenapa?”

“Karena gue nggak mau terus-terusan bikin lu menunggu.”

Nara duduk.

“Gue nggak keberatan nunggu.”

Raka tersenyum kecil.

“Gue tahu.”

Mereka makan dalam diam.

Sampai akhirnya Raka berkata,

“Kalau gue ambil, lu mau ikut?”

Nara mengangkat kepala.

Pertanyaan itu membuatnya terdiam.

“Gue belum tahu.”

“Kenapa?”

“Karena gue juga punya pekerjaan.”

Raka mengangguk.

“Gue tahu.”

“Dan gue nggak mau semua keputusan selalu berdasarkan pekerjaan lu.”

Raka diam.

Nara melanjutkan,

“Gue mau kita sama-sama punya hidup.”

Raka tersenyum.

“Itu jawaban yang gue harapkan.”

Nara mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Gue juga nggak mau lu berhenti mengejar sesuatu cuma karena gue.”

Nara tersenyum tipis.

“Berarti?”

“Berarti kita cari jalan tengah.”

---

Siang harinya, Raka akhirnya menghubungi atasannya.

Nara tidak mendengar percakapannya.

Ia sengaja memberi Raka ruang.

Beberapa menit kemudian, Raka keluar dari ruang kerja.

Nara langsung menoleh.

“Gimana?”

Raka duduk di sampingnya.

“Gue ambil.”

Nara terdiam.

“Serius?”

“Iya.”

Nara mengangguk perlahan.

“Terus kita gimana?”

“Gue nego.”

“Negosiasi?”

“Gue minta masa transisi.”

Nara menatapnya.

“Berapa lama?”

“Tiga bulan.”

“Terus?”

“Setelah itu kita evaluasi.”

Nara tersenyum.

“Jadi lu nggak langsung pindah?”

“Enggak.”

Raka menggenggam tangannya.

“Gue mau kasih kita waktu buat siap.”

Nara mengembuskan napas lega.

“Gue kira lu bakal langsung pergi.”

Raka menggeleng.

“Promosi itu penting.”

Ia mengusap punggung tangan Nara.

“Tapi bukan berarti gue harus meninggalkan semuanya.”

Nara menatapnya.

“Lu yakin?”

“Yakin.”

“Kalau ternyata nanti kita harus berjauhan?”

“Ya kita hadapi.”

“Kalau susah?”

“Kita cari cara.”

“Kalau gue takut?”

“Gue temenin.”

Nara tersenyum.

“Lu tahu nggak?”

“Apa?”

“Kadang lu nyebelin.”

“Kadang?”

“Sering.”

Raka tertawa.

“Tapi…”

Nara mendekat dan memeluknya.

“Gue bersyukur punya lu.”

Raka membalas pelukan itu.

“Gue juga.”

---

Malamnya, mereka duduk di balkon.

Nara menyandarkan kepala di bahu Raka.

“Rak.”

“Hm?”

“Kalau nanti kita punya anak…”

Raka menoleh.

Nara langsung tertawa.

“Kenapa lihat gue begitu?”

“Random banget.”

“Gue cuma nanya.”

Raka tersenyum.

“Kalau kita punya anak?”

“Iya.”

“Gue mau jadi ayah yang ada.”

Nara diam.

“Bukan cuma cari uang.”

Raka menatap langit.

“Gue mau dia tahu kalau papanya selalu punya waktu buat dia.”

Nara tersenyum.

“Kalau mamanya?”

“Cerewet.”

Nara mencubit lengannya.

“Serius.”

Raka tertawa.

“Kalau mamanya?”

Ia menggenggam tangan Nara.

“Gue mau dia tahu mamanya adalah orang paling kuat yang pernah gue kenal.”

Nara menatap Raka.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Kenapa ngomong begitu?”

“Karena gue percaya.”

Nara menyandarkan kepalanya kembali.

Malam itu mereka tidak tahu kapan anak pertama mereka akan datang.

Tidak tahu seperti apa rumah mereka beberapa tahun lagi.

Tidak tahu apakah keputusan Raka akan membawa mereka lebih dekat atau justru memberi mereka tantangan baru.

Tapi untuk pertama kalinya, mereka mulai membicarakan masa depan bukan sebagai sesuatu yang menakutkan.

Melainkan sebagai sesuatu yang ingin mereka bangun bersama.

Dan tanpa mereka sadari—

percakapan malam itu menjadi awal dari sebuah babak baru.

Karena beberapa bulan ke depan, kehidupan mereka akan berubah dengan cara yang sama sekali tidak mereka duga.

Bab 12 — Pilihan yang Sulit

8/31/2026 12:27:00 AM 0 Comments
Dua hari kemudian, Raka pulang membawa kabar yang membuat Nara langsung tahu bahwa masalahnya lebih besar dari yang ia ceritakan sebelumnya.

Ia bahkan belum sempat melepas sepatu ketika Nara bertanya,

“Rak?”

“Hm?”

“Kenapa muka lu begitu?”

Raka diam.

Kemudian meletakkan tasnya.

“Gue dapat tawaran.”

“Tawaran apa?”

“Promosi.”

Nara langsung tersenyum.

“Serius?”

Raka mengangguk.

“Harusnya bagus, kan?”

“Iya.”

“Tapi?”

Raka menghela napas.

“Posisinya di luar kota.”

Senyum Nara perlahan menghilang.

“Berapa lama?”

“Minimal dua tahun.”

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Nara duduk.

“Dua tahun?”

“Iya.”

“Dan lu harus pindah?”

“Kalau gue ambil.”

Nara menatap lantai.

“Lu mau?”

Raka tidak langsung menjawab.

“Gue nggak tahu.”

“Karier lu penting.”

“Lu juga.”

“Jangan jawab begitu.”

Raka menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena gue tahu lu pengin.”

Raka terdiam.

Nara tersenyum tipis.

“Lu kerja keras buat ini.”

“Gue juga kerja keras buat kita.”

“Gue tahu.”

“Terus?”

Nara menghela napas.

“Gue takut.”

Raka mendekat.

“Takut apa?”

“Takut kalau lu pergi, semuanya berubah.”

Raka menggenggam tangannya.

“Gue nggak mau pergi ninggalin lu.”

“Tapi lu juga nggak mau kehilangan kesempatan ini.”

Raka diam.

Nara benar.

Dan justru itu yang membuatnya semakin sulit.

---

Malam itu mereka tidak menemukan jawaban.

Mereka makan dalam diam.

Kemudian duduk di sofa tanpa menyalakan televisi.

Nara akhirnya berkata,

“Kalau gue bilang jangan pergi…”

Raka menoleh.

“Gue bakal dengar.”

“Tapi gue nggak mau jadi alasan lu menolak sesuatu yang lu perjuangkan.”

Raka menggenggam tangannya.

“Gue juga nggak mau jadi alasan lu harus mengorbankan hidup lu.”

Nara tersenyum getir.

“Berarti kita sama-sama keras kepala.”

“Dari dulu.”

Nara tertawa kecil.

Kemudian kembali diam.

---

Beberapa hari berikutnya terasa berbeda.

Mereka mulai membicarakan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah perlu dipikirkan.

Bagaimana kalau mereka harus tinggal terpisah?

Bagaimana kalau Nara ikut?

Bagaimana dengan pekerjaan Nara?

Bagaimana dengan rumah mereka?

Semakin banyak pertanyaan, semakin sedikit jawaban.

Suatu malam, Nara duduk sendirian di balkon.

Raka datang membawa dua cangkir teh.

“Masih mikirin itu?”

Nara mengangguk.

“Gue takut.”

Raka duduk di sebelahnya.

“Gue juga.”

Nara menatapnya.

“Lu takut?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena gue takut kita jadi jauh.”

Nara terdiam.

Selama ini ia mengira hanya dirinya yang merasa demikian.

Raka menyandarkan tubuh ke kursi.

“Gue nggak takut sama pekerjaan baru.”

“Terus?”

“Gue takut pulang ke rumah dan lu nggak ada.”

Mata Nara langsung berkaca-kaca.

“Jangan ngomong begitu.”

“Kenapa?”

“Gue bisa nangis.”

Raka tersenyum kecil.

“Maaf.”

Nara menggenggam tangannya.

“Kalau akhirnya lu ambil…”

Raka menatapnya.

“Gue mau kita cari cara supaya tetap jadi kita.”

“Caranya?”

“Telepon setiap hari.”

“Bukan cuma chat.”

“Video call.”

“Kalau sibuk?”

“Cari waktu.”

“Kalau berantem?”

“Jangan kabur.”

Raka tersenyum.

“Deal.”

Nara menarik napas panjang.

“Dan kalau suatu hari gue bilang gue capek…”

“Gue pulang.”

Nara menatapnya.

“Walaupun jauh?”

“Walaupun jauh.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Nara tersenyum.

Mungkin mereka belum tahu apa yang akan terjadi.

Mungkin keputusan ini akan menguji hubungan mereka lebih keras daripada pertengkaran sebelumnya.

Tapi satu hal sudah jelas.

Mereka tidak ingin menghadapi pilihan itu sebagai dua orang yang berjalan sendiri-sendiri.

Mereka ingin menghadapinya sebagai suami dan istri.

Bersama.

Bab 11 — Ada yang Berubah

8/31/2026 12:27:00 AM 0 Comments
Beberapa minggu setelah pertengkaran pertama mereka, semuanya kembali normal.

Setidaknya begitu yang Nara pikirkan.

Raka tetap bekerja.

Nara juga sibuk dengan pekerjaannya.

Mereka masih makan malam bersama kalau sempat.

Masih punya jadwal kencan kecil setiap akhir pekan.

Masih saling mengirim pesan di tengah kesibukan.

Namun belakangan, Nara merasa ada sesuatu yang berbeda.

Bukan perubahan besar.

Justru perubahan kecil.

Raka lebih sering pulang malam.

Lebih sering terlihat lelah.

Dan beberapa kali, ketika Nara mengajaknya bicara, pikirannya seperti tidak benar-benar berada di sana.

Suatu malam, Nara sedang membuat teh ketika Raka masuk rumah.

“Udah makan?”

“Belum.”

“Gue masakin?”

Raka menggeleng.

“Nggak usah. Gue nggak terlalu lapar.”

Nara menatapnya.

“Lu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Raka.”

“Hm?”

“Jangan jawab nggak kenapa-kenapa kalau jelas ada apa-apa.”

Raka terdiam.

Ia melepas jam tangannya lalu duduk di sofa.

“Gue lagi banyak pikiran.”

“Soal kerja?”

“Iya.”

Nara duduk di sebelahnya.

“Kenapa nggak cerita?”

Raka menghela napas.

“Gue nggak mau bikin lu ikut kepikiran.”

Nara langsung mengerutkan kening.

“Gue istri lu.”

Raka menatapnya.

“Gue tahu.”

“Kalau lu punya masalah, gue memang harus ikut tahu.”

“Bukan berarti lu harus ikut menanggung.”

“Kalau kita menikah, bukannya memang begitu?”

Raka diam.

Nara perlahan meraih tangannya.

“Lu nggak harus selalu kelihatan kuat di depan gue.”

Tatapan Raka melembut.

“Gue takut gagal.”

Nara terdiam.

“Gagal apa?”

“Kerjaan.”

Raka menunduk.

“Proyek yang gue pegang bermasalah. Kalau nggak selesai bulan ini, kemungkinan gue kehilangan posisi.”

Nara tidak langsung menjawab.

Ia hanya menggenggam tangan Raka lebih erat.

“Kenapa baru cerita sekarang?”

“Karena gue malu.”

“Kenapa malu?”

“Karena gue pengin jadi suami yang bisa diandalkan.”

Nara menatapnya lama.

“Rak.”

“Hm?”

“Gue nggak nikah sama lu karena jabatan.”

Raka diam.

“Gue juga nggak nikah sama lu karena gaji.”

Nara tersenyum kecil.

“Gue nikah sama lu karena lu Raka.”

Raka menatapnya.

“Sesimpel itu?”

“Sesimpel itu.”

Raka akhirnya tersenyum.

Namun Nara belum selesai.

“Tapi gue juga mau lu jujur sama gue.”

“Iya.”

“Jangan lindungi gue dengan cara menjauh.”

Raka mengangguk.

“Maaf.”

Nara bersandar di bahunya.

“Kalau lu jatuh, bilang.”

Raka menggenggam tangannya.

“Kalau lu capek, bilang.”

Nara tersenyum.

“Deal.”

---

Malam itu mereka berbicara lebih lama.

Untuk pertama kalinya, Raka menceritakan semua tekanan yang selama ini ia simpan sendiri.

Tentang pekerjaan.

Tentang target.

Tentang rasa takut mengecewakan orang-orang yang percaya kepadanya.

Nara tidak punya solusi untuk semuanya.

Namun ia tetap mendengarkan.

Kadang itu saja sudah cukup.

Ketika akhirnya Raka selesai bercerita, ia menghela napas panjang.

“Gue lega.”

Nara tersenyum.

“Karena udah cerita?”

“Iya.”

“Makanya jangan sok kuat.”

Raka tertawa kecil.

“Galak.”

“Peduli.”

Raka menarik Nara ke dalam pelukannya.

“Terima kasih.”

Nara memejamkan mata.

“Sama-sama.”

Malam itu mereka tidur lebih tenang.

Namun Nara belum tahu—

masalah pekerjaan Raka ternyata belum selesai.

Dan beberapa hari kemudian, sebuah keputusan dari kantor Raka akan mengubah keseimbangan rumah tangga mereka.

Untuk pertama kalinya, mereka akan dihadapkan pada pilihan yang tidak punya jawaban mudah.

Karier atau keluarga.

Dan kali ini, cinta saja mungkin tidak cukup untuk menyelesaikannya.

Bab 10 — Pertengkaran Pertama

8/31/2026 12:26:00 AM 0 Comments
Ternyata kehidupan rumah tangga tidak selalu berisi tawa.

Ada hari ketika semuanya terasa baik-baik saja.

Dan ada hari ketika hal kecil bisa berubah menjadi masalah besar.

Hari itu, Raka pulang lebih malam dari biasanya.

Nara sudah menunggu sejak pukul delapan.

Jam sembilan.

Jam sepuluh.

Sampai akhirnya pintu rumah terbuka hampir pukul sebelas malam.

Raka masuk dengan wajah lelah.

“Nara?”

Tidak ada jawaban.

Ia melihat ke ruang tengah.

Nara duduk di sofa sambil memeluk bantal.

“Lu belum tidur?”

“Belum.”

Raka meletakkan tasnya.

“Maaf. Tadi ada urusan mendadak.”

Nara mengangguk.

“Oh.”

Raka memperhatikannya.

“Lu marah?”

“Nggak.”

“Kelihatan.”

Nara menghela napas.

“Gue cuma khawatir.”

“Kan gue sudah bilang kalau ada urusan.”

“Lu bilangnya sore.”

“Iya.”

“Terus kenapa nggak kabarin lagi?”

Raka terdiam.

“Tadi buru-buru.”

“Lima detik buat chat nggak ada?”

Nada suara Nara mulai meninggi.

Raka yang juga sedang lelah ikut kehilangan kesabarannya.

“Gue baru pulang, Nar.”

“Gue tahu.”

“Terus?”

“Gue nungguin lu!”

“Gue juga nggak minta lu nunggu.”

Kalimat itu langsung membuat suasana hening.

Nara menatapnya.

Raka sendiri terlihat seperti menyesal begitu kata-kata itu keluar.

Namun sudah terlambat.

“Ya udah.”

Nara berdiri.

“Mulai sekarang gue nggak bakal nunggu.”

“Nara—”

“Gue capek.”

Ia masuk kamar.

Pintu tertutup.

Raka berdiri sendirian di ruang tengah.

Ia mengembuskan napas panjang.

“Bodoh.”

---

Malam itu mereka tidur membelakangi satu sama lain.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada tangan yang mencari tangan lainnya.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, tempat tidur yang biasanya terasa hangat mendadak terasa terlalu luas.

Pagi harinya Nara bangun lebih dulu.

Raka masih tidur.

Ia pergi ke dapur dan membuat sarapan.

Biasanya mereka makan bersama.

Hari itu Nara hanya meninggalkan makanan di meja.

Ketika Raka bangun, ia menemukan secarik kertas.

Sarapan ada di meja.

Raka menatap tulisan itu cukup lama.

Tidak ada emoji.

Tidak ada candaan.

Tidak ada pesan tambahan.

Ia langsung tahu Nara masih marah.

---

Siang hari, Raka pulang lebih awal.

Nara sedang duduk di ruang tengah.

Raka berdiri beberapa langkah darinya.

“Nar.”

Nara menoleh.

“Hm?”

“Maaf.”

Nara diam.

Raka duduk di depannya.

“Semalam gue salah.”

“Gue juga.”

“Enggak.”

Raka menggeleng.

“Lu cuma khawatir.”

Nara menunduk.

“Gue nggak suka kalau lu tiba-tiba hilang kabar.”

“Gue tahu sekarang.”

Raka mengulurkan tangan.

Nara melihatnya beberapa detik sebelum akhirnya menyambut.

“Gue juga minta maaf karena terlalu emosi.”

Raka menggenggam tangannya.

“Mulai sekarang kalau gue bakal pulang telat, gue kabarin.”

“Janji?”

“Janji.”

“Dan kalau gue lagi kesel?”

“Lu bilang.”

Nara tersenyum kecil.

“Kalau lu lagi kesel?”

“Gue juga bilang.”

Mereka saling memandang.

Kemudian Nara tertawa kecil.

“Berarti kita harus belajar komunikasi.”

Raka mengangguk.

“Kayaknya itu bagian paling susah dari nikah.”

“Padahal cuma ngomong.”

“Justru itu.”

Nara mengangguk.

Raka kemudian menariknya ke dalam pelukan.

Nara awalnya diam.

Lalu membalas.

“Gue nggak suka berantem sama lu.”

“Gue juga.”

“Rasanya aneh.”

“Karena biasanya kita bercanda.”

Nara tersenyum di dada Raka.

“Besok jangan bikin gue khawatir lagi.”

“Siap.”

“Dan jangan bilang gue nggak perlu nunggu.”

Raka mengusap rambutnya.

“Kenapa?”

“Karena…”

Nara mendongak.

“Gue tetap bakal nunggu.”

Raka tersenyum.

“Kenapa?”

“Karena lu suami gue.”

Raka mencium keningnya.

“Dan gue bakal selalu pulang.”

Kali ini Nara benar-benar tersenyum.

Mereka mungkin belum sempurna.

Mungkin akan ada pertengkaran lain.

Mungkin akan ada salah paham yang lebih besar.

Tapi mereka mulai memahami satu hal:

Pernikahan bukan tentang tidak pernah bertengkar.

Pernikahan adalah tentang memilih untuk menyelesaikan masalah yang sama-sama mereka hadapi.

Bukan memilih untuk meninggalkan satu sama lain.

Dan malam itu, ketika mereka kembali tidur berdampingan, tangan Nara otomatis mencari tangan Raka.

Raka menggenggamnya.

Tidak ada kata-kata.

Mereka sudah berdamai.

Rabu, 26 Agustus 2026

Bab 9 — Rumah Tangga Itu Ternyata Begini

8/26/2026 11:16:00 PM 0 Comments
Tiga hari setelah pulang honeymoon, Nara akhirnya menyadari satu hal.

Kehidupan rumah tangga tidak sesantai yang ia bayangkan.

Pagi-pagi sudah ada cucian.

Dapur harus dibereskan.

Belanja kebutuhan rumah.

Belum lagi pekerjaan masing-masing.

Dan yang paling menyebalkan—

Raka ternyata punya kebiasaan meninggalkan gelas di mana-mana.

“Nara.”

“Hm?”

“Lu lihat gelas gue?”

Nara menatap meja.

“Ada tiga.”

“Yang mana?”

“Yang lu cari.”

Raka melihat ketiga gelas itu.

“Oh.”

Nara menghela napas.

“Kenapa bisa ada tiga?”

“Gue lupa.”

“Lu minum tiga?”

“Kayaknya.”

Nara memijat pelipis.

“Mulai sekarang satu orang satu gelas.”

“Siap.”

“Dan setelah dipakai?”

“Dicuci.”

“Bagus.”

Raka tersenyum.

“Galak.”

“Biar rumah kita nggak kayak kapal pecah.”

---

Siangnya, mereka pergi belanja.

Nara mendorong troli.

Raka berjalan di sampingnya.

“Beli apa aja?”

“Banyak.”

“Contohnya?”

Nara mulai menghitung.

“Beras, telur, sayur, buah, sabun, deterjen…”

Raka mengambil sebungkus camilan.

“Ini?”

“Bukan kebutuhan.”

“Penting.”

“Enggak.”

“Penting buat gue.”

Nara memasukkannya kembali ke rak.

“Tidak.”

Raka memasukkan lagi.

Nara mengambil.

Raka memasukkan lagi.

Nara menatapnya.

“Lu umur berapa?”

“Lima tahun.”

Nara akhirnya tertawa.

“Ya udah ambil.”

Raka tersenyum puas.

“Gitu dong.”

---

Malamnya mereka memasak bersama.

Awalnya berjalan baik.

Sampai Raka salah memotong sayuran.

“Rak.”

“Hm?”

“Itu terlalu besar.”

“Biar gampang.”

“Matangnya nggak rata.”

“Kan bisa dipotong lagi.”

Nara menghela napas.

“Bukan begitu.”

Raka menatapnya.

“Lu mau gue potong ulang?”

“Iya.”

Raka mengambil pisau.

Beberapa menit kemudian—

“Nah.”

Nara melihat hasilnya.

“Masih gede.”

Raka menatapnya.

“Lu mau masak sendiri?”

Nara terdiam.

“Enggak.”

“Ya udah.”

Mereka saling tatap.

Kemudian tertawa.

Ternyata memasak bersama tidak selalu romantis.

Kadang justru jadi ajang debat.

Tapi Nara menyukai itu.

Karena mereka bisa tertawa setelahnya.

---

Malam itu, setelah semua pekerjaan selesai, mereka duduk di sofa.

Nara menyandarkan kepala di bahu Raka.

“Rak.”

“Hm?”

“Gue baru sadar.”

“Apa?”

“Menikah ternyata bukan kayak honeymoon.”

“Jelas.”

“Lebih capek.”

Raka tertawa.

“Tapi?”

Nara tersenyum.

“Tapi gue suka.”

Raka menggenggam tangannya.

“Kenapa?”

“Karena sekarang gue punya partner.”

“Partner?”

“Iya.”

“Bukan suami?”

“Dua-duanya.”

Raka tersenyum.

“Gue juga suka.”

Nara menatapnya.

“Walaupun gue bawel?”

“Banget.”

“Walaupun gue keras kepala?”

“Banget.”

“Walaupun gue suka nyuruh?”

“Paling banget.”

Nara mencubit lengannya.

“Terus kenapa masih mau?”

Raka menatapnya beberapa detik.

“Karena rumah bukan tempat yang selalu tenang.”

Nara terdiam.

“Rumah adalah tempat di mana lu tetap mau tinggal meskipun penghuninya kadang bikin pusing.”

Nara tersenyum.

“Gombal.”

“Bukan.”

“Terus?”

“Gue serius.”

Nara memeluknya.

“Ya udah.”

Raka membalas pelukannya.

“Ya udah.”

Malam itu mereka tidak melakukan apa-apa yang istimewa.

Tidak pergi.

Tidak makan di restoran.

Tidak menonton film.

Mereka hanya duduk bersama.

Namun bagi Nara, justru momen seperti itu yang membuatnya yakin.

Honeymoon memang sudah selesai.

Tapi kehidupan bersama Raka ternyata jauh lebih menarik.

Karena sekarang, mereka bukan cuma punya cerita indah untuk dikenang.

Mereka punya kehidupan yang harus dijalani—

bersama.

Bab 8 — Pulang ke Rumah

8/26/2026 11:15:00 PM 0 Comments
Pesawat mendarat menjelang sore.

Nara menatap keluar jendela ketika roda pesawat menyentuh landasan.

Akhirnya.

Pulang.

Ia mengembuskan napas panjang.

Raka yang duduk di sebelahnya melirik.

“Sedih?”

“Sedikit.”

“Kenapa?”

“Karena honeymoon selesai.”

Raka tersenyum.

“Kan belum selesai sepenuhnya.”

Nara menoleh.

“Maksudnya?”

“Kenangannya.”

Nara tersenyum.

“Bener juga.”

Begitu keluar dari bandara, Nara langsung merasakan sesuatu yang berbeda.

Udara.

Suasana.

Kesibukan.

Semuanya terasa familiar.

Namun kali ini ia pulang bersama seseorang.

Raka mengambil koper mereka.

Nara berjalan di sampingnya.

Tangan mereka otomatis saling mencari.

Tidak perlu dibicarakan.

Tidak perlu diminta.

---

Sesampainya di rumah, Nara membuka pintu.

Ia berdiri beberapa detik.

Rumah mereka masih sama.

Tapi terasa sedikit berbeda.

Mungkin karena sekarang mereka sudah punya terlalu banyak cerita untuk memenuhi setiap sudutnya.

Nara meletakkan tas.

“Rak.”

“Hm?”

“Welcome home.”

Raka tersenyum.

“Welcome home, istri.”

Nara tertawa.

“Gue masih belum terbiasa.”

“Lama-lama terbiasa.”

“Semoga.”

Raka mendekat.

“Kenapa?”

“Karena ternyata punya suami itu…”

Nara berpikir sebentar.

“Capek.”

Raka mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Lu berisik.”

“Gue?”

“Iya.”

“Padahal lu yang paling banyak ngomong.”

Nara tertawa.

“Ya udah.”

Ia memeluk Raka.

“Capeknya gue suka.”

Raka membalas pelukannya.

“Bagus.”

---

Malam pertama di rumah terasa jauh lebih sederhana daripada hotel.

Tidak ada pemandangan laut.

Tidak ada pelayanan kamar.

Tidak ada sarapan yang sudah siap di meja.

Hanya dapur kecil, sofa, televisi, dan dua orang yang sama-sama lelah.

Nara memasak mi instan.

Raka membantu menyiapkan minuman.

Mereka makan sambil duduk di meja dapur.

“Enak?”

Raka mengangguk.

“Enak.”

“Padahal cuma mi.”

“Karena buatan istri.”

Nara tersenyum.

“Mulai lagi.”

“Fakta.”

Setelah makan, mereka membereskan dapur bersama.

Raka mencuci piring.

Nara mengeringkannya.

Sederhana.

Biasa.

Tapi Nara justru menyukai momen itu.

Karena di sinilah kehidupan mereka sebenarnya dimulai.

Bukan di hotel.

Bukan di tempat liburan.

Tapi di rumah.

---

Malam semakin larut.

Nara masuk kamar lebih dulu.

Ia melihat kasur mereka.

Kemudian teringat hari-hari terakhir.

Wajahnya langsung memanas.

Raka masuk beberapa detik kemudian.

Melihat ekspresi Nara, ia tersenyum.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Lu ingat sesuatu?”

“Nggak.”

“Bohong.”

Nara melempar bantal.

“Tidur sana.”

Raka menangkapnya.

“Siap.”

Ia mematikan lampu.

Kemudian berbaring di samping Nara.

Beberapa detik kemudian, tangan Raka mencari tangan Nara di bawah selimut.

Jari mereka bertaut.

Nara tersenyum dalam gelap.

“Rak?”

“Hm?”

“Gue senang.”

“Gue juga.”

“Walaupun honeymoon selesai?”

Raka menggenggam tangannya lebih erat.

“Justru sekarang bagian paling serunya.”

“Kenapa?”

“Karena sekarang kita benar-benar punya kehidupan bersama.”

Nara terdiam.

Kemudian tersenyum.

“Iya.”

Ia mendekat.

Kepalanya bersandar di dada Raka.

Dan malam itu, di kamar sederhana rumah mereka, Nara akhirnya menyadari:

Honeymoon memang selesai.

Tapi kisah mereka sebagai suami istri—

baru saja dimulai.

Bab 7 — Besok Kita Pulang

8/26/2026 11:14:00 PM 0 Comments
Hari terakhir honeymoon datang terlalu cepat.

Nara duduk di lantai sambil menatap koper yang terbuka.

“Gue benci bagian ini.”

Raka yang sedang melipat pakaian menoleh.

“Bagian beres-beres?”

“Bagian pulang.”

Raka tersenyum.

“Kenapa?”

“Karena gue suka di sini.”

“Gue juga.”

Nara memasukkan satu pakaian ke koper.

“Kalau bisa diperpanjang?”

“Bisa.”

Nara langsung menoleh.

“Serius?”

“Kalau lu mau.”

“Lu nggak kerja?”

“Bisa diatur.”

Nara tersenyum lebar.

“Beneran?”

Raka mengangguk.

“Tapi…”

“Tapi apa?”

“Kita tetap harus pulang.”

Senyum Nara langsung turun.

“Yah.”

Raka tertawa.

“Kenapa sedih?”

“Karena gue belum puas.”

Raka berhenti melipat pakaian.

“Belum puas?”

Nara sadar kalimatnya terdengar ambigu.

Wajahnya langsung memerah.

“Maksud gue jalan-jalannya!”

Raka menahan tawa.

“Gue nggak bilang apa-apa.”

“Lu mikir yang aneh-aneh.”

“Enggak.”

“Bohong.”

“Iya.”

Nara mengambil bantal dan melemparkannya.

Raka tertawa sambil menangkapnya.

---

Setelah koper selesai, mereka keluar untuk makan malam terakhir.

Tidak ada restoran mewah.

Mereka memilih tempat kecil yang nyaman di dekat hotel.

Nara makan sambil bercerita tentang semua hal yang ingin mereka lakukan setelah pulang.

“Gue mau dekorasi kamar.”

“Boleh.”

“Terus beli tanaman.”

“Boleh.”

“Terus…”

Nara berhenti.

“Apa?”

“Gue mau kita punya satu malam khusus setiap minggu.”

Raka tersenyum.

“Date night?”

“Iya.”

“Setuju.”

“Walaupun cuma makan mi instan?”

“Setuju.”

“Walaupun lagi capek?”

“Kalau capek, kita di rumah.”

Nara mengangguk puas.

“Deal.”

Raka menggenggam tangannya di atas meja.

“Gue nggak mau honeymoon jadi satu-satunya masa ketika kita punya waktu buat berdua.”

Nara menatapnya.

“Gue juga.”

---

Malam terakhir mereka berjalan lebih tenang.

Tidak ada rencana.

Tidak ada tempat yang harus dikunjungi.

Mereka hanya kembali ke kamar, duduk di balkon, dan melihat langit malam.

Nara menyandarkan kepala di bahu Raka.

“Rak?”

“Hm?”

“Kalau nanti kita tua…”

“Kenapa ngomong tua?”

“Jawab dulu.”

Raka tertawa kecil.

“Kalau kita tua?”

“Lu masih mau jalan-jalan sama gue?”

“Masih.”

“Masih mau gandeng tangan gue?”

“Masih.”

“Masih mau denger gue cerewet?”

Raka berpikir.

“Yang terakhir agak berat.”

Nara langsung mencubit lengannya.

“Raka!”

Raka tertawa.

“Bercanda.”

Ia menggenggam tangan Nara.

“Masih.”

Nara tersenyum.

“Janji?”

“Janji.”

Mereka kemudian berpelukan.

Tidak ada kata-kata besar.

Hanya keheningan yang nyaman.

Sebelum tidur, Raka mencium kening Nara.

“Besok pulang.”

Nara mengangguk.

“Ke rumah.”

Raka tersenyum.

“Ke rumah.”

Dan malam terakhir honeymoon mereka berakhir dengan satu kesadaran sederhana:

Mereka memang akan meninggalkan hotel ini.

Tapi mereka tidak meninggalkan apa pun yang sudah mereka bangun di sini.

Karena semua tawa, semua rasa malu, semua kedekatan, dan semua kenangan itu—

akan ikut pulang bersama mereka.

Besok, kehidupan sebagai suami istri benar-benar dimulai.

Selasa, 25 Agustus 2026

Bab 5 — Jangan Lihat Gue Begitu

8/25/2026 02:27:00 PM 0 Comments
Pagi berikutnya, Nara bangun dengan perasaan yang aneh.

Bukan tidak nyaman.

Justru terlalu nyaman.

Ia masih berada dalam pelukan Raka, kepalanya bersandar di dada laki-laki itu.

Nara membuka mata perlahan.

Raka masih tidur.

Ia menatap wajah suaminya cukup lama.

Kemudian tersenyum sendiri.

“Ganteng banget…”

“Gue dengar.”

Nara langsung membeku.

Raka membuka mata sambil tersenyum.

“Pagi.”

“Lu pura-pura tidur?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Memang tidur.”

“Terus kok bisa dengar?”

“Refleks.”

Nara mendengus.

“Nyebelin.”

Raka menariknya sedikit lebih dekat.

“Pagi, istri.”

Nara menyembunyikan wajahnya.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Malu.”

“Padahal semalam berani.”

Nara langsung mengangkat kepala.

“Raka!”

Raka tertawa.

“Oke, oke.”

Nara memukul dadanya pelan.

“Jangan dibahas.”

“Siap.”

Namun senyum Raka tidak hilang.

Nara akhirnya ikut tersenyum.

Beberapa saat kemudian, Raka mengusap rambutnya.

“Masih capek?”

“Sedikit.”

“Kita santai hari ini.”

Nara mengangguk.

“Setuju.”

---

Hari itu mereka benar-benar tidak membuat rencana.

Tidak ada jadwal.

Tidak ada tempat yang harus dikunjungi.

Mereka hanya memesan sarapan, menonton film, lalu menghabiskan waktu di balkon.

Sore menjelang, Nara berdiri di depan cermin sambil merapikan rambut.

Raka memperhatikannya dari sofa.

“Kenapa?”

Nara melihat pantulan Raka.

“Apanya?”

“Lu dari tadi lihat gue.”

“Karena cantik.”

Nara tersenyum.

“Gombal.”

“Serius.”

Nara berbalik.

“Kalau gue cantik, kenapa dari tadi diam?”

“Karena gue takut kalau ngomong malah bikin lu kabur.”

Nara tertawa.

“Memangnya gue segitu malunya?”

Raka berdiri.

Ia berjalan mendekat.

“Sekarang?”

Nara menelan ludah.

“Sekarang kenapa?”

“Masih malu?”

Raka berhenti beberapa langkah di depannya.

Nara tersenyum.

“Sedikit.”

“Boleh gue dekat?”

Nara mengangguk.

Raka mendekat.

Tangannya menyentuh pipi Nara dengan lembut.

Nara menatap matanya.

Kali ini tidak ada rasa gugup yang membuatnya ingin menghindar.

Ia justru tersenyum.

“Jangan lihat gue begitu.”

“Begitu gimana?”

“Kayak…”

Nara mencari kata yang tepat.

“Kayak gue satu-satunya perempuan di dunia.”

Raka tersenyum.

“Memang begitu rasanya.”

Nara terdiam.

Kemudian tertawa kecil karena tidak tahu harus menjawab apa.

Raka mencium keningnya.

Lalu memeluknya.

Nara membalas pelukan itu.

Tidak ada kata-kata.

Hanya kehangatan yang semakin terasa akrab.

Mereka kemudian duduk kembali di sofa sambil berbicara sampai malam.

Tentang masa depan.

Tentang keluarga.

Tentang kehidupan yang ingin mereka bangun bersama.

Dan ketika Nara akhirnya menyandarkan kepala di bahu Raka, ia menyadari sesuatu.

Honeymoon ini mungkin akan berakhir beberapa hari lagi.

Tapi rasa nyaman yang mereka temukan di sini tidak harus ikut berakhir.

Karena mulai sekarang, mereka punya satu sama lain.

Dan itu jauh lebih berharga daripada hotel mana pun.

Raka menggenggam tangannya.

“Besok mau ke mana?”

Nara tersenyum.

“Terserah.”

“Kenapa?”

“Karena sekarang gue nggak peduli kita di mana.”

Raka menatapnya.

“Yang penting?”

Nara membalas tatapannya.

“Lu ada.”

Raka tersenyum.

“Deal.”

Dan malam itu, mereka kembali tertawa dalam kamar yang perlahan terasa bukan lagi seperti tempat liburan.

Melainkan tempat pertama mereka benar-benar belajar menjadi suami dan istri.

Bab 4 — Malam Kedua Honeymoon

8/25/2026 02:27:00 PM 0 Comments
Malam kedua terasa berbeda.

Bukan karena tempatnya.

Bukan karena pemandangan dari balkon.

Tapi karena Nara sudah tidak lagi merasa canggung ketika hanya berdua dengan Raka.

Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar sambil tertawa.

Nara melepas sandal lalu duduk di ujung kasur.

“Gue kenyang banget.”

Raka menutup pintu.

“Makanya jangan nambah tiga kali.”

“Enak.”

“Terus sekarang ngeluh.”

“Bukan ngeluh.”

Nara merebahkan diri.

“Gue bahagia.”

Raka tersenyum.

“Bagus.”

Ia duduk di samping Nara.

Beberapa saat mereka hanya saling memandang.

Nara kemudian tersenyum kecil.

“Kenapa lihat gue begitu?”

“Karena gue suka.”

“Suka apa?”

“Lihat lu santai.”

Nara terdiam.

Raka meraih tangannya.

“Dulu lu selalu kelihatan kayak lagi mikirin seribu hal.”

“Sekarang juga.”

“Sekarang bedanya…”

Raka mengusap punggung tangannya.

“Lu nggak sendirian.”

Nara menatapnya lama.

Kemudian perlahan mendekat.

“Rak.”

“Hm?”

“Cium gue.”

Raka tersenyum.

“Yakin?”

Nara mengangguk.

Raka mendekat.

Ciuman mereka kali ini tidak terburu-buru.

Nara memejamkan mata dan membiarkan dirinya menikmati kedekatan itu.

Ketika Raka berhenti sebentar, dahi mereka masih saling menempel.

“Masih gugup?”

“Sedikit.”

“Takut?”

Nara menggeleng.

“Enggak.”

Ia tersenyum.

“Sekarang malah nyaman.”

Raka memeluknya.

Nara membalas pelukan itu.

Malam semakin larut.

Mereka berbicara tentang hal-hal kecil yang tidak pernah sempat dibicarakan sebelumnya.

Tentang rumah impian.

Tentang perjalanan berikutnya.

Tentang makanan yang ingin mereka coba.

Tentang bagaimana kehidupan mereka setelah honeymoon.

Sesekali percakapan berhenti karena salah satu dari mereka tersenyum terlalu lama.

Sesekali ada ciuman singkat.

Dan semakin malam, semakin dekat pula mereka.

Namun tidak ada yang terburu-buru.

Mereka menikmati setiap detiknya.

Ketika akhirnya lampu kamar diredupkan, Nara menggenggam tangan Raka.

“Jangan tinggalin gue.”

Raka langsung menggenggamnya lebih erat.

“Enggak akan.”

“Janji?”

“Janji.”

Nara tersenyum.

“Good.”

Raka tertawa pelan.

Kemudian ia mencium kening Nara.

Malam itu berlalu dalam keheningan yang hangat, diiringi pelukan dan rasa nyaman yang semakin dalam.

Dan ketika pagi nanti datang, mereka akan bangun sebagai pasangan yang sedikit lebih mengenal satu sama lain daripada sebelumnya.

Karena ternyata honeymoon bukan cuma soal menjadi lebih dekat secara fisik.

Tapi juga tentang menemukan bahwa orang yang selama ini mereka cintai bisa menjadi tempat paling nyaman untuk pulang.

Bab 3 — Suami Gue Makin Berani

8/25/2026 02:26:00 PM 0 Comments
Hari kedua honeymoon seharusnya sederhana.

Mereka sudah sarapan.

Sudah jalan-jalan.

Sudah mengambil terlalu banyak foto.

Dan sekarang Nara punya satu keinginan.

Tidur siang.

Begitu pintu kamar tertutup, Nara langsung menjatuhkan diri ke kasur.

“Capek.”

Raka meletakkan kunci di meja.

“Katanya mau honeymoon.”

“Honeymoon juga butuh istirahat.”

Raka tertawa.

“Logika dari mana?”

“Logika istri.”

“Baru sehari jadi istri udah punya aturan sendiri.”

“Banyak.”

Raka duduk di tepi kasur.

Nara memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian, ia merasakan rambutnya disentuh.

“Kenapa?”

“Lagi lihat lu.”

“Ngapain?”

“Lucu.”

Nara membuka mata.

“Gue bukan tontonan.”

“Buat gue iya.”

Nara tersenyum kecil.

“Lu akhir-akhir ini makin berani.”

“Karena istrinya juga makin berani.”

Nara langsung terdiam.

“Gue kapan berani?”

Raka menatapnya sambil tersenyum.

“Semalam.”

Wajah Nara langsung memanas.

“Jangan bahas.”

“Kenapa?”

“Malu.”

Raka tertawa kecil.

Ia kemudian berbaring di samping Nara.

Tidak ada kata-kata untuk beberapa saat.

Hanya suara AC dan napas mereka.

Nara perlahan bergeser mendekat.

Kepalanya bersandar di bahu Raka.

“Rak?”

“Hm?”

“Lu bahagia?”

Raka menoleh.

“Banget.”

“Segitunya?”

“Segitunya.”

Nara tersenyum.

“Gue juga.”

Raka mengecup keningnya.

Nara memejamkan mata.

Namun beberapa detik kemudian, ia membuka mata lagi.

“Rak.”

“Hm?”

“Kalau honeymoon begini terus, gue bisa makin sayang sama lu.”

Raka tersenyum.

“Memangnya sekarang belum cukup?”

Nara menatapnya.

“Belum.”

“Berarti gue harus usaha lebih keras.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Gue takut nggak kuat.”

Raka tertawa.

“Gue jagain.”

Nara ikut tertawa.

Kemudian ia mendekat dan mencium Raka lebih dulu.

Singkat.

Namun cukup membuat Raka terdiam sesaat.

Nara langsung tersenyum puas.

“Kenapa?”

Raka menggeleng.

“Gue baru tahu ternyata istri gue bisa mulai duluan.”

“Kenapa? Nggak boleh?”

“Boleh.”

Raka mendekat.

“Banget.”

Ciuman berikutnya berlangsung lebih lama.

Hangat dan penuh rasa sayang.

Nara memeluknya, sementara Raka membalas dengan lembut.

Tidak ada terburu-buru.

Tidak ada yang perlu dibuktikan.

Hanya dua orang yang semakin nyaman menunjukkan rasa cinta mereka.

Ketika mereka akhirnya berpisah, Nara tertawa kecil.

“Sekarang gue tahu.”

“Tahu apa?”

“Kenapa lu kelihatan santai terus.”

“Kenapa?”

“Karena ternyata lu cuma nunggu gue berhenti malu.”

Raka tersenyum.

“Bisa jadi.”

Nara memukul lengannya pelan.

“Nyebelin.”

“Sayang?”

Nara tersenyum.

“Sayang.”

Raka menariknya kembali dalam pelukan.

Di luar, matahari masih tinggi.

Tapi bagi mereka, waktu seperti tidak terlalu penting.

Honeymoon mereka baru memasuki hari kedua.

Dan keduanya mulai sadar—

perjalanan ini bukan cuma tentang tempat yang mereka datangi.

Tapi tentang semakin mengenal satu sama lain, sebagai dua orang yang akhirnya tidak lagi perlu menyembunyikan rasa cinta mereka.

Bab 2 — Pagi Pertama sebagai Suami Istri

8/25/2026 02:25:00 PM 0 Comments
Cahaya matahari masuk dari sela tirai.

Nara membuka mata perlahan.

Untuk beberapa detik, ia tidak tahu sedang berada di mana.

Sampai ia merasakan lengan Raka melingkar di pinggangnya.

Nara langsung diam.

Kemudian ingatan semalam kembali satu per satu.

Wajahnya memanas.

“Ya ampun…”

Raka bergerak di belakangnya.

“Pagi.”

Nara membeku.

“Lu udah bangun?”

“Udah.”

“Dari kapan?”

“Dari tadi.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Lu tidurnya nyenyak.”

Nara menarik selimut sedikit lebih tinggi.

Raka tertawa pelan.

“Kenapa malu?”

“Nggak malu.”

“Terus?”

“Panas.”

“AC-nya dua puluh.”

“Gue tetap panas.”

Raka tertawa.

Nara akhirnya berbalik.

Mereka saling menatap.

Tidak ada candaan selama beberapa detik.

Hanya senyum kecil yang muncul bersamaan.

“Selamat pagi, istri.”

Nara langsung memukul dadanya pelan.

“Jangan panggil begitu.”

“Kenapa?”

“Masih aneh.”

“Padahal benar.”

Raka mendekat dan mengecup keningnya.

Nara tersenyum.

“Selamat pagi, suami.”

“Nah.”

“Apa?”

“Lebih enak.”

Nara tertawa.

Mereka akhirnya bangun dan bersiap untuk sarapan.

Namun ketika Nara sedang merapikan rambut di depan cermin, ia melihat pantulan Raka yang berdiri di belakangnya.

Laki-laki itu hanya tersenyum.

“Apa?”

“Gue masih nggak percaya.”

“Nggak percaya apa?”

“Kalau sekarang lu beneran istri gue.”

Nara menatapnya melalui cermin.

“Kenapa?”

“Karena dulu gue cuma bisa berharap.”

Nara terdiam.

Raka mendekat dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Sekarang lu ada di sini.”

Nara tersenyum.

“Dan lu harus tahan sama gue seumur hidup.”

Raka mengangguk santai.

“Deal.”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Gue bawel.”

“Tahu.”

“Gue keras kepala.”

“Tahu.”

“Gue gampang ngambek.”

“Banget.”

Nara langsung menoleh.

“RAKA.”

Raka tertawa.

“Tapi gue suka semuanya.”

Nara akhirnya tidak bisa menahan senyum.

Ia memeluk Raka dari depan.

“Gue juga suka semuanya.”

“Termasuk gue?”

Nara berpikir pura-pura serius.

“Sedikit.”

“Cuma sedikit?”

“Iya.”

Raka menggeleng.

“Penipu.”

Mereka tertawa bersama.

---

Setelah sarapan, mereka memutuskan menghabiskan hari di sekitar hotel.

Berjalan tanpa tujuan.

Mencoba makanan.

Mengambil foto.

Dan sesekali berhenti hanya untuk menikmati pemandangan.

Saat matahari mulai turun, mereka kembali ke kamar.

Nara berdiri di balkon.

Angin sore menerpa rambutnya.

Raka datang membawa dua minuman.

“Capek?”

“Sedikit.”

Raka menyerahkan satu gelas.

“Besok mau ke mana?”

“Belum tahu.”

“Lu yang pilih.”

“Kenapa gue?”

“Karena honeymoon ini buat lu juga.”

Nara tersenyum.

“Kalau gue pilih tempat yang jauh?”

“Gue antar.”

“Kalau mahal?”

“Gue pikirkan.”

“Kalau gue mau seharian cuma di kamar?”

Raka terdiam.

Nara langsung tertawa.

“Kenapa diam?”

“Gue lagi mikir jawaban yang aman.”

“Bacot.”

Raka tersenyum.

Kemudian ia berdiri di samping Nara.

Tangan mereka bertemu di atas pagar balkon.

Jari-jari saling bertaut.

“Yang penting lu senang.”

Nara menatapnya.

“Gue senang.”

“Kenapa?”

Nara bersandar di bahunya.

“Karena gue sama lu.”

Raka mengecup rambutnya.

“Gue juga.”

Mereka berdiri di sana sampai matahari benar-benar menghilang.

Tidak ada hal besar yang terjadi.

Tidak ada kejutan.

Hanya dua orang yang menikmati hari pertama mereka sebagai suami istri.

Dan bagi Nara, ternyata itu sudah lebih dari cukup.

Malam kedua honeymoon mereka pun dimulai.

Kali ini tanpa rasa canggung seperti malam sebelumnya.

Dengan tawa yang lebih banyak.

Tatapan yang lebih berani.

Dan kedekatan yang terasa semakin alami.

Namun apa pun yang terjadi setelah lampu kamar diredupkan, hanya mereka yang tahu.

Yang jelas, ketika pagi berikutnya tiba—

Nara akan kembali punya alasan untuk menyembunyikan wajahnya di balik bantal.

Dan Raka pasti akan menertawakannya.

Bab 1 — Honeymoon: Satu Kamar, Satu Kasur

8/25/2026 02:24:00 PM 0 Comments
Nara baru sadar satu hal begitu pintu kamar hotel tertutup.

Mereka benar-benar sendirian.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada teman.

Tidak ada orang yang tiba-tiba datang mengganggu.

Cuma dia.

Dan Raka.

Nara berdiri di dekat koper sambil menatap sekeliling kamar.

“Bagus banget.”

Raka meletakkan koper di samping sofa.

“Lumayan.”

Nara menoleh.

“Lumayan?”

“Kalau menurut gue, yang bagus bukan kamarnya.”

Nara langsung tahu arah pembicaraan itu.

“Jangan mulai.”

Raka tersenyum.

“Gue belum ngomong apa-apa.”

“Tapi muka lu udah ngomong.”

Raka tertawa kecil.

Nara kembali melihat kamar.

Tempat tidur besar berada tepat di tengah ruangan.

Dan entah kenapa, benda itu mendadak terasa seperti musuh pribadi.

Raka mengikuti arah pandangnya.

Kemudian tersenyum.

“Kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Lu lihat kasur kayak mau ujian.”

“Gue cuma…”

Nara berhenti.

“Gue masih belum terbiasa.”

Raka mendekat.

“Dengan?”

“Status kita.”

Raka berdiri beberapa langkah di depannya.

“Suami istri?”

Nara mengangguk kecil.

“Masih aneh.”

Raka tersenyum.

“Gue juga.”

“Serius?”

“Iya.”

“Padahal lu kelihatannya santai.”

“Karena kalau gue ikut panik, kita berdua nggak bakal tidur malam ini.”

Nara langsung menatapnya.

“Raka!”

Raka tertawa.

“Bercanda.”

“Bacot.”

Nara mengambil bantal sofa dan melemparkannya.

Raka menangkapnya dengan mudah.

Kemudian ia berjalan mendekat.

Nara mundur satu langkah.

Raka berhenti.

“Takut?”

“Nggak.”

“Gugup?”

Nara menghela napas.

“Iya.”

Senyum Raka berubah.

Lebih lembut.

Ia mengulurkan tangan.

“Ke sini.”

Nara ragu sebentar sebelum akhirnya menyambutnya.

Raka menariknya mendekat.

Tidak terburu-buru.

Tidak memaksa.

Hanya membuat jarak di antara mereka perlahan menghilang.

“Gue nggak mau lu merasa harus melakukan apa pun cuma karena kita sekarang suami istri.”

Nara menatap matanya.

“Kalau gue memang mau?”

Raka terdiam sesaat.

“Kalau begitu…”

Ia tersenyum tipis.

“Gue dengerin lu.”

Jantung Nara berdegup lebih cepat.

“Lu selalu begini?”

“Begini gimana?”

“Bikin gue susah mikir.”

“Kayaknya itu bakat.”

Nara tertawa kecil.

Kemudian ia menyandarkan kepalanya ke dada Raka.

Beberapa detik mereka hanya diam.

Sampai Raka mengecup keningnya.

Pelan.

Lalu pipinya.

Nara memejamkan mata.

“Rak…”

“Hm?”

“Jangan bikin gue makin gugup.”

“Maaf.”

“Bohong.”

“Iya.”

Nara tertawa.

Ketika ia membuka mata, wajah Raka sudah dekat.

Sangat dekat.

Raka memberinya waktu untuk mundur.

Namun Nara tidak melakukannya.

Ciuman mereka pun bertemu.

Awalnya singkat.

Kemudian kembali.

Lebih lama.

Lebih hangat.

Nara menggenggam bagian depan kemeja Raka, sementara Raka memeluk pinggangnya dengan lembut.

Tidak ada suara selain napas mereka yang perlahan berubah tidak teratur.

Ketika mereka berpisah, Nara masih menutup mata.

Raka tersenyum.

“Masih gugup?”

Nara membuka mata.

“Banget.”

“Menyesal?”

Nara menggeleng.

“Enggak.”

Raka mencium keningnya sekali lagi.

“Bagus.”

Nara tersenyum malu.

“Lu ternyata nggak se-kalem yang gue kira.”

Raka terkekeh.

“Lu baru tahu?”

“Kayaknya honeymoon ini bakal panjang.”

“Semoga.”

Nara menatapnya.

“Semoga?”

Raka mengangguk.

“Gue belum siap pulang.”

Nara tertawa.

Malam terus berjalan.

Percakapan mereka berubah menjadi tawa kecil, pelukan yang semakin nyaman, dan ciuman yang sesekali membuat Nara lupa apa yang hendak dikatakannya.

Di luar jendela, lampu kota berkilauan.

Di dalam kamar, dua orang yang baru saja resmi menjadi suami istri akhirnya berhenti memikirkan bagaimana seharusnya malam pertama mereka berjalan.

Mereka memilih menikmatinya dengan cara mereka sendiri.

Pelan.

Hangat.

Tanpa terburu-buru.

Dan ketika lampu kamar akhirnya diredupkan, Nara hanya sempat berbisik,

“Rak?”

“Hm?”

“Gue sayang lu.”

Raka menggenggam tangannya.

“Gue lebih sayang.”

Nara tersenyum dalam gelap.

Untuk pertama kalinya malam itu, rasa gugupnya benar-benar hilang.

Honeymoon mereka baru saja dimulai.

Senin, 24 Agustus 2026

Bab 13 — Akhirnya, Rumah

8/24/2026 01:55:00 PM 0 Comments
Tiga tahun berlalu.

Nara masih sering tidak percaya kalau hidupnya berubah sejauh ini.

Dulu ia mengira dirinya akan terus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Terus mencari tempat yang cocok.

Terus bertanya-tanya apakah dirinya terlalu sulit.

Terlalu banyak maunya.

Terlalu gampang tidak betah.

Terlalu keras kepala.

Kemudian datang Raka.

Bukan untuk menyelesaikan semua masalahnya.

Tapi untuk membuat Nara sadar bahwa mungkin selama ini ia memang tidak salah karena menginginkan sesuatu yang cocok.

Ia hanya belum menemukannya.

---

Hubungan mereka tidak selalu mulus.

Ada pertengkaran.

Ada salah paham.

Ada hari ketika Nara kesal karena Raka terlalu diam.

Ada hari ketika Raka kesal karena Nara terlalu banyak memendam.

Pernah suatu malam Nara berkata,

“Lu kalau ada masalah ngomong.”

Raka menjawab,

“Lu juga.”

“Gue kan ngomong.”

“Setelah tiga hari.”

Nara terdiam.

“Ya...”

Raka menatapnya.

“Jangan bikin gue nebak-nebak.”

Nara menghela napas.

“Maaf.”

Raka mengangguk.

“Gue juga.”

Mereka tidak sempurna.

Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Mereka selalu kembali membicarakan masalahnya.

Tidak ada permainan menghilang.

Tidak ada sengaja membuat cemburu.

Tidak ada ancaman putus setiap kali bertengkar.

Mereka belajar.

Pelan-pelan.

Bersama.

---

Suatu malam, Raka mengajak Nara keluar.

Nara curiga.

“Kenapa?”

“Jalan aja.”

“Ke mana?”

“Nanti.”

“Lu aneh.”

“Katanya suka cowok misterius.”

Nara menatapnya.

“Siapa bilang gue suka lu karena misterius?”

Raka tersenyum.

“Berarti lu suka gue karena apa?”

Nara diam.

“Banyak.”

“Apa?”

“Bacot.”

Raka tertawa.

Mereka berhenti di sebuah tempat yang pernah mereka datangi ketika masih pendekatan.

Tempat sederhana.

Tempat pertama kali Raka mengatakan:

“Gue suka lu.”

Nara melihat sekeliling.

“Ngapain ke sini?”

Raka tidak menjawab.

Ia mengambil sesuatu dari sakunya.

Nara langsung membeku.

“Jangan.”

Raka tertawa kecil.

“Kenapa?”

“Lu serius?”

“Iya.”

“Raka.”

Laki-laki itu berlutut.

Nara menutup mulut.

Air matanya langsung keluar.

Raka menatapnya.

“Nara.”

“Iya?”

“Gue nggak bisa janji hidup kita bakal selalu gampang.”

Nara menangis sambil tertawa.

“Ya jangan ngomong begitu.”

“Tapi gue bisa janji satu hal.”

Raka membuka kotak kecil di tangannya.

“Kalau hidup lagi susah, gue tetap pulang ke lu.”

Nara menangis semakin keras.

“Lu mau nikah sama gue?”

Nara mengangguk berkali-kali.

“Iya.”

Raka berdiri.

Nara langsung memeluknya.

“Brondong sialan.”

Raka tertawa.

“Kenapa?”

“Bikin gue nangis.”

“Berarti berhasil.”

“Gue pukul ya.”

“Boleh.”

Malam itu, cincin melingkar di jari Nara.

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar percaya:

ia tidak sedang bermimpi.

---

Pernikahan mereka sederhana.

Tidak terlalu mewah.

Tidak perlu menjadi pesta terbesar.

Yang penting keluarga ada.

Orang-orang yang mereka sayangi ada.

Dan Nara berdiri di depan Raka dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Raka terlihat gugup.

Untuk pertama kalinya, Nara melihat laki-laki yang selalu tenang itu benar-benar kehilangan kata-kata.

Nara tersenyum.

“Lu takut?”

“Sedikit.”

“Kenapa?”

“Takut salah.”

Nara tertawa kecil.

“Telat.”

Raka tersenyum.

“Aku sayang kamu.”

Nara terdiam.

Selama ini ia sering bercanda soal jodoh.

Soal dirinya yang tidak laku.

Soal tidak ada yang mengejar.

Soal dirinya yang terlalu sulit.

Ternyata bukan tidak ada yang datang.

Ia hanya belum bertemu orang yang tepat.

Sekarang ada.

Dan laki-laki itu sedang berdiri di depannya.

---

Setelah menikah, kehidupan ternyata tidak berubah menjadi film romantis setiap hari.

Ada cucian.

Ada tagihan.

Ada pekerjaan.

Ada hari ketika mereka makan nasi goreng karena malas memasak.

Ada pagi ketika Raka lupa menjemput jemuran.

Ada malam ketika Nara marah karena Raka meninggalkan gelas di meja.

“Gelas aja nggak bisa ditaruh di dapur.”

“Lupa.”

“Setiap hari lupa.”

“Besok nggak.”

“Janji?”

“Janji.”

Besoknya gelas ada lagi.

Nara menatapnya.

Raka tersenyum.

“Maaf.”

Nara ingin marah.

Tapi akhirnya tertawa.

Begitulah kehidupan mereka.

Tidak sempurna.

Tapi nyaman.

---

Dua tahun kemudian, rumah mereka tidak lagi hanya berisi dua orang.

Tangisan bayi memenuhi kamar.

Nara menggendong anak mereka sambil terlihat kelelahan.

Raka berdiri di sampingnya.

“Namanya?”

Nara menatap bayi itu.

Kemudian tersenyum.

“Kita jadi kasih nama yang kemarin?”

Raka mengangguk.

“Iya.”

Anak pertama mereka lahir.

Seorang perempuan.

Kecil.

Berisik.

Dan sejak hari pertama, berhasil menguasai seluruh rumah.

Raka menjadi ayah yang sangat sabar.

Nara menjadi ibu yang kadang panik untuk hal-hal kecil.

“Rak, dia kenapa?”

“Kayaknya ngantuk.”

“Yakin?”

“Iya.”

“Kalau sakit?”

“Coba kita lihat dulu.”

“Kalau—”

“Nara.”

“Hm?”

“Tarik napas.”

Nara menghela napas.

“Gue takut.”

Raka menggenggam tangannya.

“Gue di sini.”

Kalimat yang sama.

Bertahun-tahun kemudian.

Tetap sama.

---

Anak kedua mereka laki-laki.

Rumah semakin ramai.

Nara kadang melihat Raka bermain dengan anak-anak mereka dan berpikir:

Ini laki-laki yang dulu gue kira cuma cowok misterius yang kebetulan sering muncul.

Sekarang laki-laki itu sedang duduk di lantai sambil membantu anak mereka menyusun balok.

“Papa, ini salah.”

“Yang mana?”

“Itu.”

“Oh iya.”

“Papa nggak bisa.”

Raka tertawa.

Nara dari dapur ikut tertawa.

“Makanya jangan sok tahu.”

Raka menoleh.

“Bantuin dong.”

“Gue lagi masak.”

“Anakmu.”

“Anak kita.”

Raka tersenyum.

“Iya.”

---

Waktu berjalan lebih cepat daripada yang mereka sadari.

Anak-anak tumbuh.

Anak perempuan mereka masuk sekolah.

Anak laki-laki mereka mulai memiliki teman sendiri.

Rumah semakin ramai.

Kemudian semakin sepi.

Satu per satu mereka mulai kuliah.

Mulai bekerja.

Mulai memiliki kehidupan masing-masing.

Sampai akhirnya suatu hari Nara duduk di teras rumah bersama Raka.

Rambut mereka sudah mulai memutih.

Nara melihat Raka.

“Rak.”

“Hm?”

“Kita tua ya.”

Raka melihat rambut Nara.

“Sedikit.”

“Sedikit dari mana?”

Raka tertawa.

“Lu masih cerewet.”

“Berarti gue masih muda.”

“Logikanya dari mana?”

“Bodo amat.”

Raka menggenggam tangan Nara.

Tangannya sudah tidak sekuat dulu.

Tapi masih terasa familiar.

Masih terasa seperti rumah.

---

Beberapa tahun kemudian, rumah itu kembali ramai.

Tapi kali ini bukan karena anak-anak mereka.

Seorang anak kecil berlari masuk.

“Nenek!”

Nara langsung berdiri.

“Mana?”

Anak kecil itu berlari memeluknya.

Raka tersenyum dari belakang.

“Cucu kesayangan nenek.”

Nara menggendongnya.

“Lihat, Kek!”

Raka mendekat.

“Kenapa?”

“Cucu kita ganteng.”

“Ya jelas.”

Nara menatap Raka.

“Pede banget.”

“Turunan gue.”

“Turunan gue juga.”

Cucu mereka tertawa.

Rumah kembali ramai.

Ada suara anak kecil.

Ada suara orang dewasa.

Ada makanan di meja.

Ada tawa.

Dan Nara tiba-tiba terdiam.

Ia melihat semuanya.

Keluarga.

Rumah.

Raka.

Anak-anak.

Cucu.

Ia teringat dirinya bertahun-tahun lalu.

Perempuan yang pernah merasa hidupnya selalu kalah.

Kalah soal pekerjaan.

Kalah soal uang.

Kalah soal jodoh.

Perempuan yang pernah bertanya:

“Gue NPC doang, ya?”

Nara tersenyum.

Ternyata tidak.

Ia bukan NPC.

Ia hanya sedang berada di bagian cerita yang belum selesai.

Raka duduk di sebelahnya.

“Kenapa senyum?”

Nara menggeleng.

“Nggak.”

“Bohong.”

“Gue cuma mikir.”

“Mikir apa?”

Nara menatapnya.

“Kalau dulu gue tahu akhirnya bakal begini...”

“Terus?”

“Gue nggak akan terlalu takut.”

Raka menggenggam tangannya.

“Kalau dulu lu nggak takut, mungkin kita nggak akan ketemu.”

Nara tersenyum.

“Berarti rasa takut gue ada gunanya?”

“Kadang.”

Nara bersandar di bahunya.

“Rak.”

“Hm?”

“Lu masih sayang gue?”

Raka tertawa kecil.

“Setelah tiga puluh tahun?”

“Iya.”

“Masih.”

“Kenapa?”

Raka menatap rumah yang penuh keluarga mereka.

Kemudian kembali melihat Nara.

“Karena dari awal gue nggak pernah cari perempuan yang sempurna.”

Nara mengangkat alis.

“Terus?”

“Gue cuma cari rumah.”

Nara terdiam.

Matanya berkaca-kaca.

“Bangsat.”

Raka tertawa.

“Kenapa nangis?”

“Gue nggak nangis.”

“Iya.”

“Jangan bilang gue nangis.”

“Iya.”

Mereka tertawa.

Di halaman, cucu mereka berlari.

Anak-anak mereka berbicara.

Rumah itu penuh suara.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nara tidak merasa sedang mengejar apa pun.

Tidak mengejar pekerjaan.

Tidak mengejar pengakuan.

Tidak mengejar seseorang untuk membuktikan bahwa dirinya layak dicintai.

Karena di usia yang sudah jauh dari masa ketika ia merasa tertinggal...

Nara akhirnya mengerti.

Hidup bukan perlombaan.

Ada orang yang datang lebih dulu.

Ada yang menikah lebih cepat.

Ada yang mendapat pekerjaan bagus lebih muda.

Ada yang terlihat lebih berhasil.

Tapi setiap orang punya waktunya sendiri.

Dan waktu Nara...

memang sedikit lebih lambat.

Tapi ternyata membawa seseorang yang membuat seluruh perjalanan panjang itu terasa masuk akal.

Raka.

Brondong tiga tahun.

Tinggi.

Kalem.

Misterius.

Kadang menyebalkan.

Kadang terlalu santai.

Tapi selalu pulang.

Selalu ada.

Dan setelah puluhan tahun...

masih menjadi orang yang sama yang pernah berkata:

“Kalau hidup lagi susah, gue tetap pulang ke lu.”

Ternyata ia benar-benar menepatinya.

Sampai tua.

Sampai rambut mereka memutih.

Sampai rumah mereka dipenuhi anak dan cucu.

Sampai akhirnya Nara sadar—

ternyata akhir bahagia tidak selalu berupa kehidupan yang sempurna.

Kadang hanya berupa seseorang yang tetap menggenggam tanganmu...

bahkan setelah semua drama selesai.

TAMAT.

translate into your language

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

LOVE THIS QUOTE

never blame anyone in your life!. Good people give you HAPPINESS,Bad people give you EXPERIENCES,Worst people give you a LESSON and Best people give you MEMORIES.

I Heart Your Blog :)