Read This !

Blog ini dibuat untuk mengingat kenangan atau kejadian yang terjadi dalam hidup sang penulis amatir.Seperti buku harian yang terbuka,maka maaf bila ada kata yang tidak berkenan hal itu karena sesuai dengan mood sang penulis yang naik turun saat menuangkan pikirannya.jadi ambil yang baik,buang yang buruknya.oke *Just for Fun and Reminder for Me* *Please enjoy for all of you my beloved reader's :)* *Thankkis ^3^ * -Renee -

Senin, 31 Agustus 2026

Bab 11 — Ada yang Berubah

Beberapa minggu setelah pertengkaran pertama mereka, semuanya kembali normal.

Setidaknya begitu yang Nara pikirkan.

Raka tetap bekerja.

Nara juga sibuk dengan pekerjaannya.

Mereka masih makan malam bersama kalau sempat.

Masih punya jadwal kencan kecil setiap akhir pekan.

Masih saling mengirim pesan di tengah kesibukan.

Namun belakangan, Nara merasa ada sesuatu yang berbeda.

Bukan perubahan besar.

Justru perubahan kecil.

Raka lebih sering pulang malam.

Lebih sering terlihat lelah.

Dan beberapa kali, ketika Nara mengajaknya bicara, pikirannya seperti tidak benar-benar berada di sana.

Suatu malam, Nara sedang membuat teh ketika Raka masuk rumah.

“Udah makan?”

“Belum.”

“Gue masakin?”

Raka menggeleng.

“Nggak usah. Gue nggak terlalu lapar.”

Nara menatapnya.

“Lu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Raka.”

“Hm?”

“Jangan jawab nggak kenapa-kenapa kalau jelas ada apa-apa.”

Raka terdiam.

Ia melepas jam tangannya lalu duduk di sofa.

“Gue lagi banyak pikiran.”

“Soal kerja?”

“Iya.”

Nara duduk di sebelahnya.

“Kenapa nggak cerita?”

Raka menghela napas.

“Gue nggak mau bikin lu ikut kepikiran.”

Nara langsung mengerutkan kening.

“Gue istri lu.”

Raka menatapnya.

“Gue tahu.”

“Kalau lu punya masalah, gue memang harus ikut tahu.”

“Bukan berarti lu harus ikut menanggung.”

“Kalau kita menikah, bukannya memang begitu?”

Raka diam.

Nara perlahan meraih tangannya.

“Lu nggak harus selalu kelihatan kuat di depan gue.”

Tatapan Raka melembut.

“Gue takut gagal.”

Nara terdiam.

“Gagal apa?”

“Kerjaan.”

Raka menunduk.

“Proyek yang gue pegang bermasalah. Kalau nggak selesai bulan ini, kemungkinan gue kehilangan posisi.”

Nara tidak langsung menjawab.

Ia hanya menggenggam tangan Raka lebih erat.

“Kenapa baru cerita sekarang?”

“Karena gue malu.”

“Kenapa malu?”

“Karena gue pengin jadi suami yang bisa diandalkan.”

Nara menatapnya lama.

“Rak.”

“Hm?”

“Gue nggak nikah sama lu karena jabatan.”

Raka diam.

“Gue juga nggak nikah sama lu karena gaji.”

Nara tersenyum kecil.

“Gue nikah sama lu karena lu Raka.”

Raka menatapnya.

“Sesimpel itu?”

“Sesimpel itu.”

Raka akhirnya tersenyum.

Namun Nara belum selesai.

“Tapi gue juga mau lu jujur sama gue.”

“Iya.”

“Jangan lindungi gue dengan cara menjauh.”

Raka mengangguk.

“Maaf.”

Nara bersandar di bahunya.

“Kalau lu jatuh, bilang.”

Raka menggenggam tangannya.

“Kalau lu capek, bilang.”

Nara tersenyum.

“Deal.”

---

Malam itu mereka berbicara lebih lama.

Untuk pertama kalinya, Raka menceritakan semua tekanan yang selama ini ia simpan sendiri.

Tentang pekerjaan.

Tentang target.

Tentang rasa takut mengecewakan orang-orang yang percaya kepadanya.

Nara tidak punya solusi untuk semuanya.

Namun ia tetap mendengarkan.

Kadang itu saja sudah cukup.

Ketika akhirnya Raka selesai bercerita, ia menghela napas panjang.

“Gue lega.”

Nara tersenyum.

“Karena udah cerita?”

“Iya.”

“Makanya jangan sok kuat.”

Raka tertawa kecil.

“Galak.”

“Peduli.”

Raka menarik Nara ke dalam pelukannya.

“Terima kasih.”

Nara memejamkan mata.

“Sama-sama.”

Malam itu mereka tidur lebih tenang.

Namun Nara belum tahu—

masalah pekerjaan Raka ternyata belum selesai.

Dan beberapa hari kemudian, sebuah keputusan dari kantor Raka akan mengubah keseimbangan rumah tangga mereka.

Untuk pertama kalinya, mereka akan dihadapkan pada pilihan yang tidak punya jawaban mudah.

Karier atau keluarga.

Dan kali ini, cinta saja mungkin tidak cukup untuk menyelesaikannya.

Tidak ada komentar:

translate into your language

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

LOVE THIS QUOTE

never blame anyone in your life!. Good people give you HAPPINESS,Bad people give you EXPERIENCES,Worst people give you a LESSON and Best people give you MEMORIES.

I Heart Your Blog :)