Setelah malam itu, Nara membuat keputusan.
Ia akan mencari pekerjaan lagi.
Bukan pekerjaan apa saja.
Ia akan mencari pekerjaan yang cocok.
Masalahnya, kata cocok ternyata mahal.
Nara mulai membuka situs lowongan setiap pagi.
Admin.
Admin.
Admin.
Admin.
Customer service.
Admin lagi.
Ia scroll.
Kemudian menemukan sebuah lowongan.
ADMINISTRASI — DIUTAMAKAN BERPENGALAMAN.
Nara langsung tertarik.
“Ini gue.”
Ia membaca persyaratannya.
Mampu bekerja dalam tekanan.
Nara berhenti.
“Kenapa semua kerjaan pakai kalimat ini?”
Ia lanjut membaca.
Mampu bekerja multitasking.
Nara mengernyit.
“Ini juga.”
Mampu bekerja secara cepat dan akurat.
“Oke.”
Bersedia lembur.
Nara menutup laptop.
“Tidak.”
Ia sadar dirinya mulai memiliki prinsip.
Dulu ia mungkin akan melamar semua lowongan.
Sekarang ia mulai membaca sampai selesai.
Jam kerja.
Gaji.
Lokasi.
Tugas.
Lingkungan.
Semuanya diperhatikan.
Ia tidak ingin lagi menerima pekerjaan hanya karena takut tidak mendapat pekerjaan lain.
Setelah mengirim beberapa lamaran, Nara merasa sedikit lega.
Kemudian ia membuka ponsel.
Sebuah aplikasi dating masih terpasang.
Nara menatap ikonnya.
“Kalau kerja aja susah, jodoh apalagi.”
Ia membuka.
Beberapa profil muncul.
Swipe kiri.
Swipe kiri.
Swipe kiri.
Satu orang terlihat lumayan.
Nara membaca bio.
Entrepreneur. Traveler. Family man.
Nara mengangkat alis.
Foto berikutnya.
Laki-laki itu sedang memegang gelas kopi dengan pose yang terlihat seperti sedang melakukan pemotretan majalah.
Nara swipe kiri.
“Bye.”
Profil berikutnya.
Good vibes only.
Nara langsung swipe kiri.
“Kalimat begini biasanya masalah.”
Profil berikutnya.
Laki-laki itu menulis:
Saya orangnya simpel.
Bio-nya panjang tiga paragraf.
Nara menatap layar.
“Lu definisi simpel dari mana?”
Swipe kiri.
Kemudian ada yang mengirim pesan.
“Hai.”
Nara membalas.
“Hai.”
“Udah makan?”
“Udah.”
“Kamu cantik.”
“Thanks.”
“Lagi apa?”
“Di rumah.”
“Sendiri?”
Nara menatap layar.
“...Kenapa?”
Tidak ada balasan.
Lima belas menit.
Setengah jam.
Satu jam.
Nara tertawa.
“Ghosting setelah nanya gue sendirian.”
Ia meletakkan ponsel.
Selesai.
Itu bukan pertama kalinya.
Dan mungkin juga bukan terakhir.
Nara tidak terlalu peduli.
Ia mulai memahami bahwa banyak orang datang bukan untuk mengenal seseorang.
Mereka hanya ingin tahu apakah ada orang yang bisa mengisi kesepian mereka.
Dan Nara tidak tertarik menjadi pengisi kekosongan siapa pun.
Beberapa minggu kemudian, seseorang dari masa lalu muncul lagi.
Seorang laki-laki yang dulu pernah dekat.
Ia mengirim pesan.
Nara membaca.
Tidak ada rasa apa-apa.
Hanya nostalgia kecil.
Ia membalas seperlunya.
Kemudian percakapan berhenti.
Nara tidak sedih.
Ia justru lega.
Mungkin itu tanda bahwa ia sudah berubah.
Dulu ia mungkin akan bertanya:
Kenapa dia pergi?
Sekarang ia hanya berpikir:
Oh. Ya sudah.
Ada hal-hal yang memang tidak perlu mendapatkan akhir yang dramatis.
Sore itu, Nara kembali membuka Instagram.
Ia menemukan video seorang influencer kesehatan.
Wajahnya menarik.
Senyumnya percaya diri.
Tubuhnya terlihat seperti orang yang tidak pernah makan gorengan jam sebelas malam.
Nara menonton beberapa detik.
Kemudian melihat caption.
Tentang pencapaian.
Tentang kegiatan sosial.
Tentang kebaikan.
Nara menghela napas.
“Bang... nggak capek ya hidup sambil dokumentasi?”
Ia scroll.
Video berikutnya.
Laki-laki itu kembali muncul.
Nara berhenti.
“Ya ampun.”
Ia menutup aplikasi.
Membukanya lagi.
Menatap profilnya.
Kemudian meng-unfollow.
Selesai.
Kali ini ia benar-benar selesai.
Setidaknya ia berharap begitu.
Karena masalah Nara bukan tidak punya pilihan.
Masalahnya adalah pilihan yang menarik baginya sering kali datang bersama tanda peringatan.
Yang satu terlalu banyak bicara.
Yang satu terlalu agresif.
Yang satu terlalu pamer.
Yang satu terlalu tidak jelas.
Yang satu terlalu banyak perempuan.
Yang satu terlalu suka mengaku playboy.
Yang satu...
Nara berhenti.
Mungkin ia memang sulit.
Tapi semakin lama, ia semakin yakin bahwa ia lebih baik sendirian daripada bersama orang yang membuatnya kehilangan ketenangan.
Ia pernah melihat apa yang terjadi ketika seseorang menikah hanya karena ingin punya pasangan.
Pernikahan tidak otomatis membuat hidup lebih ringan.
Kadang justru menambah pekerjaan.
Menambah tanggung jawab.
Menambah masalah.
Nara tidak takut menikah.
Ia takut menikah dengan orang yang salah.
Itu berbeda.
Malamnya, ia kembali duduk di depan laptop.
Ia memperbaiki CV.
Kali ini ia menulis pengalaman kerjanya dengan lebih percaya diri.
Asisten leader.
Administrasi.
Pelayanan.
Pengelolaan pekerjaan harian.
Koordinasi.
Penanganan pelanggan.
Ia melihat semuanya.
Ternyata ia memang pernah melakukan banyak hal.
Hanya saja selama ini ia selalu menganggapnya biasa.
Nara mengklik tombol kirim.
Satu lamaran.
Kemudian dua.
Tiga.
Empat.
Ia tidak tahu mana yang akan berhasil.
Tapi setidaknya kali ini ia tidak hanya menunggu.
Ia bergerak.
Ponselnya berbunyi.
Sebuah notifikasi email.
Nara langsung meraihnya.
Sebuah perusahaan membalas.
Bukan panggilan kerja.
Hanya pemberitahuan otomatis bahwa lamarannya telah diterima.
Nara membaca dua kali.
Kemudian tertawa.
“Gue kira dipanggil.”
Kucingnya menatapnya dari lantai.
“Jangan ketawa.”
Kucing itu menjilat kaki.
Nara menghela napas.
“Ya udah.”
Ia kembali ke laptop.
Tidak apa-apa.
Satu langkah kecil tetaplah langkah.
Dan mungkin hidup memang tidak akan berubah dalam satu malam.
Mungkin tidak ada pekerjaan impian yang tiba-tiba datang.
Tidak ada laki-laki misterius yang tiba-tiba mengetuk pintu.
Tidak ada keluarga yang mendadak berubah.
Tidak ada keajaiban.
Tapi ada sesuatu yang mulai berubah.
Nara.
Pelan-pelan.
Ia mulai berhenti mengejar apa pun hanya karena takut tertinggal.
Ia mulai belajar mengatakan:
“Nggak.”
Nggak untuk pekerjaan yang tidak masuk akal.
Nggak untuk laki-laki yang tidak jelas.
Nggak untuk orang-orang yang membuatnya merasa tidak cukup.
Dan mungkin...
suatu hari nanti,
ia juga akan belajar mengatakan “iya” kepada sesuatu yang memang pantas diperjuangkan.
Ia hanya belum tahu apa.
Belum tahu kapan.
Tapi kali ini, Nara tidak terlalu takut menunggu.
Karena ia mulai sadar:
Hidupnya bukan lowongan yang harus segera diisi.
Dan dirinya bukan posisi kosong yang menunggu siapa saja datang untuk mengisinya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar