Setelah malam itu, Nara membuat keputusan.
Ia akan bersikap biasa saja.
Tidak akan menunggu pesan.
Tidak akan memikirkan Raka.
Tidak akan memperhatikan kapan laki-laki itu datang.
Tidak akan mencari-cari alasan untuk bertemu.
Pokoknya biasa.
Sangat biasa.
Masalahnya, rencana itu bertahan sekitar...
dua hari.
Hari ketiga, Nara mulai sadar bahwa ia tahu terlalu banyak hal tentang Raka.
Ia tahu Raka biasanya datang jam berapa.
Tahu kopi apa yang ia pesan.
Tahu kalau laki-laki itu tidak suka makanan terlalu manis.
Tahu kalau kalau sedang berpikir, Raka punya kebiasaan menyentuh dagunya.
Tahu kalau Raka sebenarnya tidak sedingin yang terlihat.
Dan yang paling menyebalkan—
Nara mulai tahu kapan Raka sedang mencari dirinya.
Karena tatapan Raka selalu berhenti sedikit lebih lama.
Tidak terang-terangan.
Tapi cukup.
Nara bisa merasakannya.
Dan semakin ia menyadarinya, semakin ia berusaha pura-pura tidak sadar.
---
Suatu siang, Nara sedang duduk sambil bermain ponsel.
Raka datang.
Ia berdiri di depannya.
“Ngelamun?”
“Nggak.”
“Dari tadi liatin layar kosong.”
Nara langsung melihat layar.
Benar.
Ia bahkan tidak membuka apa-apa.
“Gue lagi mikir.”
“Mikir apa?”
“Banyak.”
Raka menarik kursi.
Duduk di depannya.
“Masalah?”
“Bukan.”
“Kerjaan?”
“Bukan.”
“Jodoh?”
Nara langsung mengangkat kepala.
Raka menatapnya dengan wajah datar.
Nara menyipitkan mata.
“Lu kenapa akhir-akhir ini suka nyebelin?”
Raka tersenyum kecil.
“Baru akhir-akhir ini?”
Nara hampir tertawa.
Hampir.
Ia menahan.
“Lu jangan geer.”
“Gue belum bilang apa-apa.”
“Tapi muka lu begitu.”
“Begitu gimana?”
“Begitu.”
Raka tertawa.
Nara menatapnya.
Sial.
Ia suka ketika Raka tertawa.
Bukan karena tawanya keras.
Justru karena jarang.
Kalau Raka tersenyum, wajahnya terlihat jauh lebih muda.
Kalau tertawa, matanya sedikit menyipit.
Dan Nara membenci kenyataan bahwa ia sudah hafal itu.
---
Beberapa hari kemudian, Raka mengajak Nara makan.
Bukan dengan kalimat romantis.
Bukan:
“Boleh gue ajak kamu dinner?”
Ia hanya berkata,
“Lu belum makan?”
“Belum.”
“Makan yuk.”
Nara menoleh.
“Di mana?”
“Lu mau apa?”
“Bebas.”
Raka menggeleng.
“Jangan jawab bebas.”
“Kenapa?”
“Nanti kalau gue pilih terus lu nggak suka, gue yang salah.”
Nara tertawa.
“Oke. Terserah lu.”
Raka menatapnya.
“Barusan bilang jangan bebas.”
“Ya udah pilih aja.”
“Ribet.”
“Lu yang ngajak.”
Raka tersenyum.
“Ayo.”
Mereka akhirnya pergi.
Tidak ada candlelight dinner.
Tidak ada restoran mewah.
Tidak ada bunga.
Mereka hanya makan di tempat sederhana.
Tapi Nara merasa nyaman.
Terlalu nyaman.
Ia mulai sadar bahwa ini yang sebenarnya ia cari.
Bukan laki-laki yang membuatnya deg-degan setiap detik.
Tapi laki-laki yang membuatnya tidak perlu berpura-pura.
Nara bisa diam.
Bisa ngomel.
Bisa bercanda.
Bisa menjadi dirinya sendiri.
Dan Raka tidak terlihat terganggu.
Mereka sedang makan ketika Raka tiba-tiba berkata,
“Lu tahu nggak?”
“Apa?”
“Gue suka kalau lu ngomel.”
Nara berhenti mengunyah.
“Apaan?”
“Seru.”
“Lu aneh.”
“Iya.”
Nara menatapnya.
“Lu suka cewek ngomel?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Gue suka lu.”
Nara membeku.
Dunia seperti berhenti.
Sendok di tangannya tidak bergerak.
Raka juga diam.
Ia tidak tersenyum.
Tidak bercanda.
Tidak menarik kembali ucapannya.
Nara menatapnya.
“Lu...”
“Iya.”
“Beneran?”
Raka mengangguk.
“Beneran.”
Nara menelan ludah.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak punya jawaban.
Biasanya ia selalu punya komentar.
Selalu punya candaan.
Selalu punya cara untuk menghindar.
Tapi kali ini tidak.
Raka menatapnya dengan tenang.
“Gue nggak minta lu jawab sekarang.”
Nara masih diam.
“Gue cuma mau lu tahu.”
“Kenapa?”
“Karena gue capek pura-pura cuma kebetulan ketemu lu terus.”
Nara akhirnya tertawa kecil.
“Jadi selama ini...”
“Iya.”
“Lu sengaja?”
“Kadang.”
“Ya Allah.”
Raka tersenyum.
“Kenapa?”
“Gue kira gue yang geer.”
“Enggak.”
Nara menunduk.
Pipinya mulai panas.
Ia tidak tahu harus melihat ke mana.
Raka tidak memaksanya.
Ia hanya kembali makan.
Seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa.
Nara melirik.
“Lu kok santai banget?”
“Harus panik?”
“Ya... nggak.”
“Terus?”
Nara menggeleng.
“Gue nggak tahu.”
Raka tersenyum.
“Gak apa-apa.”
Mereka kembali makan.
Tapi bagi Nara, suasananya sudah berubah.
Karena sekarang ia tahu.
Tatapan-tatapan itu bukan kebetulan.
Pesan-pesan itu bukan sekadar basa-basi.
Pertanyaan “udah makan?” bukan hanya pertanyaan.
Dan Raka...
memang menyukainya.
---
Malamnya, Nara duduk di tempat tidur.
Ia menatap langit-langit.
Pikirannya berputar.
Ia mengingat semua laki-laki yang pernah datang sebelumnya.
Yang terlalu agresif.
Yang terlalu banyak bicara.
Yang suka pamer.
Yang mengaku playboy.
Yang membuat Nara langsung ingin pergi.
Kemudian Raka.
Tidak sempurna.
Tidak banyak bicara.
Kadang menyebalkan.
Kadang terlalu tenang.
Tapi konsisten.
Tidak memaksa.
Tidak membuatnya merasa harus menjadi orang lain.
Nara memeluk bantal.
“Ini orang kenapa baru muncul sekarang?”
Ia tertawa kecil.
Kemudian terdiam.
Ada satu ketakutan yang tiba-tiba muncul.
Bagaimana kalau ia ternyata salah?
Bagaimana kalau setelah mengenal lebih jauh, Raka berubah?
Bagaimana kalau semua ini cuma fase awal?
Bagaimana kalau akhirnya ia terluka lagi?
Nara tahu dirinya.
Ia tidak takut memulai.
Ia takut berharap.
Karena begitu berharap, ada sesuatu yang bisa hilang.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Raka.
Raka: Udah sampai rumah?
Nara tersenyum.
Udah.
Beberapa detik kemudian:
Raka: Bagus.
Nara mengetik.
Berhenti.
Hapus.
Ketik lagi.
Hapus lagi.
Akhirnya:
Makasih ya buat hari ini.
Raka membalas:
Sama-sama.
Kemudian satu pesan lagi.
Raka: Gue seneng bisa bikin lu senyum hari ini.
Nara menatap layar.
Dadanya terasa hangat.
Ia tidak tahu masa depan akan seperti apa.
Tidak tahu apakah Raka benar-benar akan menjadi orang yang tinggal.
Tidak tahu apakah hubungan ini akan berhasil.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Nara tidak bertanya:
“Kenapa belum ada yang memilih gue?”
Karena akhirnya ada seseorang yang sudah memilih.
Dan sekarang pertanyaannya berubah.
“Berani nggak gue memilih dia juga?”
Nara mematikan layar ponselnya.
Ia tersenyum.
“Ya ampun.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
ia takut bukan karena sendirian.
Ia takut karena mulai punya seseorang yang tidak ingin ia kehilangan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar