Ada satu kesimpulan yang paling sering dibuat orang tentang Nara.
Ia tidak laku.
Mungkin ada juga yang berpikir ia tidak suka dengan laki-laki.
Kesimpulan itu muncul karena satu alasan sederhana:
Nara tidak pernah membawa laki-laki ke rumah.
Tidak pernah bercerita sedang dekat dengan seseorang.
Tidak pernah tiba-tiba sibuk berdandan karena mau pergi dengan cowok.
Tidak pernah menerima telepon sambil tersenyum-senyum di sudut rumah.
Bagi keluarganya, itu berarti satu hal.
Tidak ada yang mau.
Nara sebenarnya ingin tertawa setiap kali mendengarnya.
Karena mereka tidak tahu satu hal.
Nara bisa saja punya pacar kalau memang mau.
Dating app saja sudah cukup menyediakan pasukan laki-laki untuk membuktikannya.
Masalahnya bukan tidak ada yang datang.
Masalahnya adalah Nara tidak tertarik.
Salah satu pernah mengajaknya makan.
Nara membalas.
Yang lain mengajaknya jalan.
Nara juga membalas.
Ada yang terlalu cepat mengajak serius.
Ada yang baru kenal sudah memanggil sayang.
Ada yang fotonya bagus tetapi cara chat-nya membuat Nara ingin melempar ponsel.
Ada yang sopan tapi tidak ada chemistry.
Ada yang menarik secara fisik tapi kelakuannya membuat Nara ingin pulang.
Dan ada yang sebenarnya baik, tapi...
tidak ada rasa.
Nara sudah mencoba.
Ia pernah berpikir mungkin ketertarikan itu bisa muncul belakangan.
Ternyata tidak.
Kalau sejak awal ia sudah merasa:
“Ya... biasa aja.”
biasanya perasaan itu tidak tiba-tiba berubah menjadi:
“YA ALLAH AKU MAU MENIKAH.”
Tidak bekerja begitu.
Setidaknya bagi Nara.
Lalu ada laki-laki dari tempat kerja.
Anak marketing.
Ia pernah mengajak Nara menonton.
Nara meladeninya.
Bukan karena jatuh cinta.
Hanya karena Nara berpikir:
Kenapa tidak?
Mungkin ngobrol langsung akan berbeda.
Ternyata tidak.
Nara pulang dengan kesimpulan sederhana.
Orangnya oke. Tapi bukan tipe gue.
Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan hal itu kepada orang lain.
Karena bagi sebagian orang, laki-laki yang baik adalah alasan yang cukup untuk berpacaran.
Bagi Nara, tidak.
Ia ingin suka.
Benar-benar suka.
Bukan sekadar:
“Ya lumayan.”
Keluarganya tidak mengerti.
Terutama ketika pembicaraan tentang adiknya muncul.
Adiknya sudah menikah.
Sudah punya anak.
Sudah menjalani kehidupan rumah tangga.
“Lihat tuh adik kamu.”
Nara hanya menghela napas.
Ia tidak iri.
Setidaknya ia berusaha tidak iri.
Ia hanya merasa aneh.
Kenapa kehidupan orang lain seperti berjalan lebih cepat?
Sementara hidupnya seperti loading.
Loading...
Loading...
Loading...
Connection lost.
Nara tertawa sendiri membayangkannya.
Ia tahu orang-orang menganggap dirinya terlalu pemilih.
Mungkin benar.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa ia kompromikan.
Ia tidak mau menikah hanya karena takut sendirian.
Ia sudah cukup sering melihat hubungan yang membuat seseorang justru lebih kesepian setelah menikah.
Ia tidak ingin mengulangnya.
Karena itu, ketika seseorang bertanya:
“Kenapa nggak cari cowok?”
Nara ingin menjawab:
Karena saya mencari manusia, bukan lowongan suami.
Tapi biasanya ia hanya berkata:
“Belum ketemu.”
Padahal ada sesuatu yang lebih rumit.
Nara punya tipe.
Tentu saja.
Tipe yang sangat tidak membantu kehidupan percintaannya.
Ia suka laki-laki yang tenang.
Misterius.
Sedikit tsundere.
Tidak terlalu ramah kepada semua perempuan.
Tidak suka pamer bahwa dirinya banyak yang mengejar.
Dan kalau memungkinkan...
tinggi.
Sangat tinggi.
Kalau bisa seperti aktor Korea yang namanya sering ia lihat di layar ponsel.
Nara tahu standarnya tidak realistis.
Ia juga tahu bahwa laki-laki seperti itu tidak akan muncul di depan rumah sambil membawa buket bunga.
Tapi manusia boleh bermimpi.
Setidaknya di dalam kepala.
Karena di dunia nyata, yang datang malah laki-laki yang suka berkata:
“Banyak cewek yang deketin gue.”
Nara langsung kehilangan minat.
“Gue playboy.”
Lebih parah.
Nara bahkan tidak perlu berpikir.
Tidak.
Ada juga tipe laki-laki yang merasa harus memberi tahu semua orang bahwa dirinya menarik.
Nara justru bertanya-tanya:
Kalau memang menarik, kenapa harus diumumkan?
Ia lebih suka laki-laki yang tidak perlu mengatakan apa-apa.
Yang tidak sibuk membuktikan dirinya.
Yang kalau melakukan sesuatu yang baik, tidak langsung membuat poster tentang kebaikannya.
Mungkin itu sebabnya ia sering tertarik pada laki-laki yang bahkan belum tentu menyadari keberadaannya.
Seperti seorang influencer kesehatan yang pernah ia lihat di Instagram.
Nara sebenarnya tertarik.
Sampai melihat feed-nya.
Pencapaian.
Kegiatan.
Kebaikan.
Pencapaian lagi.
Nara mengerutkan kening.
“Bang... gue ngerti lu baik.”
Ia scroll.
Kemudian berhenti.
Melihat foto laki-laki itu.
“...Tapi ganteng juga.”
Nara langsung kesal pada dirinya sendiri.
Ia menutup Instagram.
Lima menit kemudian membukanya lagi.
Kemudian meng-unfollow.
“Udah.”
Selesai.
Ia tidak mau menambah bahan khayalan.
Toh beda kota.
Tidak mungkin bertemu.
Dan kalau pun bertemu...
Nara tidak akan menyapanya.
Tidak akan.
Ia hanya akan melihat dari jauh.
Mengamati.
Memastikan apakah wajah aslinya memang seperti foto.
Apakah orangnya memang seperti yang terlihat di internet.
Apakah benar-benar misterius.
Atau ternyata cuma orang biasa yang punya kamera bagus.
Nara tertawa.
“Ngapain juga gue mikirin.”
Kemudian ia meletakkan ponselnya.
Dua menit kemudian mengambilnya lagi.
“Cuma penasaran.”
Itulah masalah Nara.
Ia tidak mudah jatuh cinta.
Tapi sekali penasaran, pikirannya bisa bekerja lembur.
Namun sebenarnya, di balik semua lelucon itu, ada satu hal yang tidak pernah Nara katakan kepada keluarganya.
Ia ingin dicintai.
Bukan sekadar dipilih.
Ia ingin seseorang benar-benar mengenalnya.
Tahu bahwa ia pendiam.
Tahu bahwa ia tidak gampang akrab.
Tahu bahwa kalau suka seseorang, ia malah bisa terlihat semakin cuek.
Tahu bahwa ia tidak pandai menunjukkan perasaan.
Tahu bahwa ia punya banyak kekurangan.
Dan tetap memilihnya.
Bukan karena ia perempuan yang paling cantik.
Bukan karena ia paling pandai.
Bukan karena ia paling sukses.
Tapi karena setelah mengenalnya, orang itu merasa:
“Gue mau tetap di sini.”
Nara tidak tahu kapan itu akan terjadi.
Mungkin tahun depan.
Mungkin lima tahun lagi.
Mungkin tidak pernah.
Untuk sementara, ia hanya punya satu kesimpulan.
Ia bukan tidak laku.
Ia cuma belum menemukan seseorang yang membuatnya berkata:
“Nah. Yang ini gue mau.”
Dan entah kenapa, kalimat itu terasa jauh lebih jujur daripada semua nasihat tentang jodoh yang pernah ia dengar.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar