Cahaya matahari masuk dari sela tirai.
Nara membuka mata perlahan.
Untuk beberapa detik, ia tidak tahu sedang berada di mana.
Sampai ia merasakan lengan Raka melingkar di pinggangnya.
Nara langsung diam.
Kemudian ingatan semalam kembali satu per satu.
Wajahnya memanas.
“Ya ampun…”
Raka bergerak di belakangnya.
“Pagi.”
Nara membeku.
“Lu udah bangun?”
“Udah.”
“Dari kapan?”
“Dari tadi.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Lu tidurnya nyenyak.”
Nara menarik selimut sedikit lebih tinggi.
Raka tertawa pelan.
“Kenapa malu?”
“Nggak malu.”
“Terus?”
“Panas.”
“AC-nya dua puluh.”
“Gue tetap panas.”
Raka tertawa.
Nara akhirnya berbalik.
Mereka saling menatap.
Tidak ada candaan selama beberapa detik.
Hanya senyum kecil yang muncul bersamaan.
“Selamat pagi, istri.”
Nara langsung memukul dadanya pelan.
“Jangan panggil begitu.”
“Kenapa?”
“Masih aneh.”
“Padahal benar.”
Raka mendekat dan mengecup keningnya.
Nara tersenyum.
“Selamat pagi, suami.”
“Nah.”
“Apa?”
“Lebih enak.”
Nara tertawa.
Mereka akhirnya bangun dan bersiap untuk sarapan.
Namun ketika Nara sedang merapikan rambut di depan cermin, ia melihat pantulan Raka yang berdiri di belakangnya.
Laki-laki itu hanya tersenyum.
“Apa?”
“Gue masih nggak percaya.”
“Nggak percaya apa?”
“Kalau sekarang lu beneran istri gue.”
Nara menatapnya melalui cermin.
“Kenapa?”
“Karena dulu gue cuma bisa berharap.”
Nara terdiam.
Raka mendekat dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
“Sekarang lu ada di sini.”
Nara tersenyum.
“Dan lu harus tahan sama gue seumur hidup.”
Raka mengangguk santai.
“Deal.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Gue bawel.”
“Tahu.”
“Gue keras kepala.”
“Tahu.”
“Gue gampang ngambek.”
“Banget.”
Nara langsung menoleh.
“RAKA.”
Raka tertawa.
“Tapi gue suka semuanya.”
Nara akhirnya tidak bisa menahan senyum.
Ia memeluk Raka dari depan.
“Gue juga suka semuanya.”
“Termasuk gue?”
Nara berpikir pura-pura serius.
“Sedikit.”
“Cuma sedikit?”
“Iya.”
Raka menggeleng.
“Penipu.”
Mereka tertawa bersama.
---
Setelah sarapan, mereka memutuskan menghabiskan hari di sekitar hotel.
Berjalan tanpa tujuan.
Mencoba makanan.
Mengambil foto.
Dan sesekali berhenti hanya untuk menikmati pemandangan.
Saat matahari mulai turun, mereka kembali ke kamar.
Nara berdiri di balkon.
Angin sore menerpa rambutnya.
Raka datang membawa dua minuman.
“Capek?”
“Sedikit.”
Raka menyerahkan satu gelas.
“Besok mau ke mana?”
“Belum tahu.”
“Lu yang pilih.”
“Kenapa gue?”
“Karena honeymoon ini buat lu juga.”
Nara tersenyum.
“Kalau gue pilih tempat yang jauh?”
“Gue antar.”
“Kalau mahal?”
“Gue pikirkan.”
“Kalau gue mau seharian cuma di kamar?”
Raka terdiam.
Nara langsung tertawa.
“Kenapa diam?”
“Gue lagi mikir jawaban yang aman.”
“Bacot.”
Raka tersenyum.
Kemudian ia berdiri di samping Nara.
Tangan mereka bertemu di atas pagar balkon.
Jari-jari saling bertaut.
“Yang penting lu senang.”
Nara menatapnya.
“Gue senang.”
“Kenapa?”
Nara bersandar di bahunya.
“Karena gue sama lu.”
Raka mengecup rambutnya.
“Gue juga.”
Mereka berdiri di sana sampai matahari benar-benar menghilang.
Tidak ada hal besar yang terjadi.
Tidak ada kejutan.
Hanya dua orang yang menikmati hari pertama mereka sebagai suami istri.
Dan bagi Nara, ternyata itu sudah lebih dari cukup.
Malam kedua honeymoon mereka pun dimulai.
Kali ini tanpa rasa canggung seperti malam sebelumnya.
Dengan tawa yang lebih banyak.
Tatapan yang lebih berani.
Dan kedekatan yang terasa semakin alami.
Namun apa pun yang terjadi setelah lampu kamar diredupkan, hanya mereka yang tahu.
Yang jelas, ketika pagi berikutnya tiba—
Nara akan kembali punya alasan untuk menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Dan Raka pasti akan menertawakannya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar