Hari ketiga honeymoon dimulai dengan satu masalah.
Nara bosan.
“Gue mau keluar.”
Raka yang sedang sarapan menoleh.
“Ke mana?”
“Nggak tahu.”
“Terus mau keluar ngapain?”
“Yang penting keluar.”
Raka tertawa.
“Logika lu makin hari makin bagus.”
Nara mengambil bantal sofa dan melemparkannya.
“Jangan bacot.”
Raka menangkapnya.
“Ya udah. Siap-siap.”
“Serius?”
“Iya.”
Nara langsung berdiri.
“Ke mana?”
“Rahasia.”
“Raka.”
“Katanya mau keluar.”
“Lu nyebelin.”
“Tapi lu nikah sama gue.”
Nara terdiam.
Kemudian tersenyum.
“Sayangnya.”
---
Satu jam kemudian mereka tiba di sebuah tempat yang menghadap laut.
Tidak terlalu ramai.
Hanya ada beberapa orang yang menikmati sore.
Nara langsung tersenyum.
“Bagus banget.”
Raka memasukkan tangannya ke saku.
“Gue tahu lu suka.”
“Lu pernah ke sini?”
“Belum.”
“Terus tahu?”
“Insting.”
Nara menatapnya curiga.
“Lu ternyata bisa romantis juga.”
“Dari dulu.”
“Bohong.”
“Lu aja yang baru sadar.”
Mereka berjalan menyusuri tepi pantai.
Nara sesekali berhenti mengambil foto.
Raka lebih banyak memotretnya daripada pemandangan.
“Jangan foto gue terus.”
“Kenapa?”
“Jelek.”
“Enggak.”
“Rambut gue berantakan.”
“Bagus.”
“Baju gue biasa.”
“Bagus.”
“Gue nggak siap difoto.”
“Justru itu.”
Nara menggeleng.
“Lu aneh.”
Raka tersenyum.
“Gue cuma suka lihat lu.”
Nara terdiam.
Kemudian pura-pura sibuk melihat laut.
---
Malamnya, mereka kembali ke hotel.
Nara duduk di balkon sambil memandangi lampu kota.
Raka datang dari belakang dan meletakkan dua gelas minuman di meja.
“Capek?”
“Sedikit.”
“Senang?”
Nara mengangguk.
“Banget.”
Raka duduk di sebelahnya.
“Besok kita pulang.”
Nara langsung mengerutkan wajah.
“Jangan ingetin.”
“Kenapa?”
“Gue belum siap.”
“Takut balik?”
“Bukan.”
Nara memainkan ujung bajunya.
“Gue takut setelah pulang semuanya berubah.”
Raka menatapnya.
“Kenapa harus berubah?”
“Karena di sini kita cuma punya waktu buat satu sama lain.”
Raka diam sebentar.
Kemudian mengambil tangan Nara.
“Kalau begitu kita bikin waktu itu sendiri.”
Nara menoleh.
“Gimana?”
“Setiap minggu kita punya waktu berdua.”
“Walaupun sibuk?”
“Walaupun sibuk.”
“Janji?”
“Janji.”
Nara tersenyum.
Kemudian ia mendekat.
“Rak.”
“Hm?”
“Gue mau bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Jangan godain gue kalau lu nggak siap.”
Raka mengangkat alis.
“Kenapa?”
Nara tersenyum jahil.
“Karena sekarang gue mulai berani.”
Raka tertawa kecil.
“Ancaman?”
“Peringatan.”
Raka mendekat.
“Baiklah.”
“Baiklah apa?”
“Gue terima tantangannya.”
Nara tertawa.
Kemudian ia mencium Raka lebih dulu.
Singkat.
Hangat.
Ketika mereka berpisah, Raka tersenyum.
“Sekarang siapa yang godain siapa?”
Nara menahan tawa.
“Beda.”
“Bedanya?”
“Gue istri lu.”
“Terus?”
“Gue punya hak.”
Raka tertawa.
“Baik, Bu Istri.”
Nara langsung memukul lengannya.
“Jangan panggil begitu!”
Mereka tertawa bersama.
Malam semakin larut.
Dan seperti malam-malam sebelumnya, keduanya memilih menikmati waktu berdua tanpa terburu-buru.
Ada pelukan.
Ada ciuman.
Ada percakapan yang semakin pelan.
Sampai akhirnya lampu kamar diredupkan.
Apa yang terjadi setelah itu hanya menjadi rahasia kecil di antara mereka.
Rahasia yang membuat Nara keesokan paginya kembali bangun dengan wajah merah—
dan Raka dengan senyum kemenangan.
Honeymoon mereka belum selesai.
Tapi Nara mulai curiga.
Suaminya benar-benar jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar