Seminggu berlalu.
Akhirnya Raka harus memberikan jawaban.
Pagi itu, Nara membuat sarapan seperti biasa.
Tapi suasananya berbeda.
Raka duduk di meja makan sambil memandangi ponselnya.
“Jam berapa harus kasih jawaban?”
“Siang.”
Nara mengangguk.
“Udah tahu mau jawab apa?”
Raka menatapnya.
“Belum.”
Nara meletakkan piring di depannya.
“Lu nggak harus mutusin sekarang.”
“Harus.”
“Kenapa?”
“Karena gue nggak mau terus-terusan bikin lu menunggu.”
Nara duduk.
“Gue nggak keberatan nunggu.”
Raka tersenyum kecil.
“Gue tahu.”
Mereka makan dalam diam.
Sampai akhirnya Raka berkata,
“Kalau gue ambil, lu mau ikut?”
Nara mengangkat kepala.
Pertanyaan itu membuatnya terdiam.
“Gue belum tahu.”
“Kenapa?”
“Karena gue juga punya pekerjaan.”
Raka mengangguk.
“Gue tahu.”
“Dan gue nggak mau semua keputusan selalu berdasarkan pekerjaan lu.”
Raka diam.
Nara melanjutkan,
“Gue mau kita sama-sama punya hidup.”
Raka tersenyum.
“Itu jawaban yang gue harapkan.”
Nara mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Gue juga nggak mau lu berhenti mengejar sesuatu cuma karena gue.”
Nara tersenyum tipis.
“Berarti?”
“Berarti kita cari jalan tengah.”
---
Siang harinya, Raka akhirnya menghubungi atasannya.
Nara tidak mendengar percakapannya.
Ia sengaja memberi Raka ruang.
Beberapa menit kemudian, Raka keluar dari ruang kerja.
Nara langsung menoleh.
“Gimana?”
Raka duduk di sampingnya.
“Gue ambil.”
Nara terdiam.
“Serius?”
“Iya.”
Nara mengangguk perlahan.
“Terus kita gimana?”
“Gue nego.”
“Negosiasi?”
“Gue minta masa transisi.”
Nara menatapnya.
“Berapa lama?”
“Tiga bulan.”
“Terus?”
“Setelah itu kita evaluasi.”
Nara tersenyum.
“Jadi lu nggak langsung pindah?”
“Enggak.”
Raka menggenggam tangannya.
“Gue mau kasih kita waktu buat siap.”
Nara mengembuskan napas lega.
“Gue kira lu bakal langsung pergi.”
Raka menggeleng.
“Promosi itu penting.”
Ia mengusap punggung tangan Nara.
“Tapi bukan berarti gue harus meninggalkan semuanya.”
Nara menatapnya.
“Lu yakin?”
“Yakin.”
“Kalau ternyata nanti kita harus berjauhan?”
“Ya kita hadapi.”
“Kalau susah?”
“Kita cari cara.”
“Kalau gue takut?”
“Gue temenin.”
Nara tersenyum.
“Lu tahu nggak?”
“Apa?”
“Kadang lu nyebelin.”
“Kadang?”
“Sering.”
Raka tertawa.
“Tapi…”
Nara mendekat dan memeluknya.
“Gue bersyukur punya lu.”
Raka membalas pelukan itu.
“Gue juga.”
---
Malamnya, mereka duduk di balkon.
Nara menyandarkan kepala di bahu Raka.
“Rak.”
“Hm?”
“Kalau nanti kita punya anak…”
Raka menoleh.
Nara langsung tertawa.
“Kenapa lihat gue begitu?”
“Random banget.”
“Gue cuma nanya.”
Raka tersenyum.
“Kalau kita punya anak?”
“Iya.”
“Gue mau jadi ayah yang ada.”
Nara diam.
“Bukan cuma cari uang.”
Raka menatap langit.
“Gue mau dia tahu kalau papanya selalu punya waktu buat dia.”
Nara tersenyum.
“Kalau mamanya?”
“Cerewet.”
Nara mencubit lengannya.
“Serius.”
Raka tertawa.
“Kalau mamanya?”
Ia menggenggam tangan Nara.
“Gue mau dia tahu mamanya adalah orang paling kuat yang pernah gue kenal.”
Nara menatap Raka.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kenapa ngomong begitu?”
“Karena gue percaya.”
Nara menyandarkan kepalanya kembali.
Malam itu mereka tidak tahu kapan anak pertama mereka akan datang.
Tidak tahu seperti apa rumah mereka beberapa tahun lagi.
Tidak tahu apakah keputusan Raka akan membawa mereka lebih dekat atau justru memberi mereka tantangan baru.
Tapi untuk pertama kalinya, mereka mulai membicarakan masa depan bukan sebagai sesuatu yang menakutkan.
Melainkan sebagai sesuatu yang ingin mereka bangun bersama.
Dan tanpa mereka sadari—
percakapan malam itu menjadi awal dari sebuah babak baru.
Karena beberapa bulan ke depan, kehidupan mereka akan berubah dengan cara yang sama sekali tidak mereka duga.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar