Raka tidak pernah takut mengenalkan seseorang kepada keluarganya.
Tapi kali ini berbeda.
Karena kali ini orangnya adalah Nara.
Dan Nara lebih tua darinya.
Tiga tahun.
Bagi Raka, tiga tahun bukan masalah.
Bagi ibunya?
Ia belum tahu.
“Lu udah cerita ke mama lu?” tanya Nara suatu sore.
Raka yang sedang minum langsung berhenti.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Belum waktunya.”
Nara mengangkat alis.
“Lu takut?”
“Bukan.”
“Terus?”
Raka diam.
“Gue cuma tahu mama gue bakal banyak nanya.”
Nara tertawa.
“Ya wajar.”
“Dan papa juga.”
“Ya makin wajar.”
“Makanya gue belum cerita.”
Nara menatapnya.
“Kalau mereka nggak setuju?”
Raka diam lebih lama.
Kemudian menjawab,
“Gue tetap bakal menghargai pendapat mereka.”
Nara mengangguk.
“Terus?”
“Tapi yang menjalani hidup kan gue.”
Nara terdiam.
Entah kenapa kalimat itu membuat dadanya hangat.
Raka tidak mengatakan bahwa orang tua tidak penting.
Ia juga tidak mengatakan akan melawan keluarga demi cinta seperti tokoh drama.
Ia hanya tahu satu hal:
pendapat orang tuanya penting.
Tapi keputusan hidup tetap menjadi tanggung jawabnya.
---
Beberapa hari kemudian, Raka akhirnya bercerita.
Malam itu ia duduk bersama kedua orang tuanya.
Ibunya sedang menonton televisi.
Ayahnya membaca berita dari ponsel.
Raka menarik napas.
“Ma, Pa.”
Ibunya langsung menoleh.
“Kenapa?”
“Aku lagi dekat sama seseorang.”
Ibunya tersenyum.
“Perempuan?”
Raka mengangguk.
“Serius?”
“Iya.”
Ayahnya menurunkan ponsel.
“Kerja di mana?”
Raka menjawab.
“Umurnya?”
Raka diam sebentar.
“Lebih tua dari aku.”
Ibunya langsung menatapnya.
“Berapa?”
“Tiga tahun.”
Hening.
Ayahnya kembali melihat ponsel.
Ibunya masih menatap Raka.
“Cuma tiga tahun?”
“Iya.”
“Terus masalahnya apa?”
Raka agak terkejut.
“Mama nggak masalah?”
Ibunya mengangkat bahu.
“Kenapa harus masalah?”
“Ya... lebih tua.”
“Perempuan tiga tahun lebih tua bukan sesuatu yang aneh.”
Ayahnya ikut bicara.
“Yang penting orangnya bagaimana?”
Raka tersenyum kecil.
“Baik.”
“Kerja?”
“Iya.”
“Mandiri?”
“Iya.”
“Serius sama kamu?”
Raka diam.
Kemudian tersenyum.
“Kayaknya.”
Ibunya langsung tertawa.
“Kalau kamu jawabnya ‘kayaknya’, berarti belum pacaran?”
Raka mengangguk.
“Belum.”
“Terus sudah dikenalin ke mama?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Raka menghela napas.
“Takut mama bilang apa.”
Ibunya tertawa.
“Raka.”
“Iya?”
“Yang mama takutkan bukan umur.”
“Terus?”
“Perempuan itu bikin kamu bahagia atau tidak?”
Raka terdiam.
Ia memikirkan Nara.
Wajahnya ketika sedang kesal.
Cara dia menahan tawa.
Cara dia berpura-pura cuek.
Cara dia selalu bilang bisa sendiri meskipun sebenarnya sudah kelelahan.
Cara dia memandang sesuatu dengan penuh kecurigaan.
Dan cara dia tersenyum ketika lupa sedang menjaga dirinya.
Raka tersenyum.
“Iya.”
Ibunya ikut tersenyum.
“Kalau begitu kenalkan.”
---
Nara tidak tahu bahwa pertemuan itu akan terjadi secepat itu.
Raka hanya mengirim pesan:
Raka: Minggu ada waktu?
Nara: Kenapa?
Raka: Makan sama keluarga gue.
Nara membaca pesan itu.
Diam.
Membaca lagi.
Diam lagi.
Kemudian:
Nara: HAH?
Balasan Raka datang cepat.
Raka: Santai. Mama sama papa gue.
Nara langsung menelepon.
“LU GILA?”
Raka tertawa.
“Kenapa?”
“Kenapa gue harus ketemu orang tua lu?”
“Karena gue mau kenalin.”
“Gue belum siap!”
“Cuma makan.”
“CUMA MAKAN KATANYA.”
Raka tertawa semakin keras.
“Tenang.”
“Lu gampang ngomong karena itu orang tua lu!”
“Gue juga tegang.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Lu mah muka poker.”
Raka terdiam.
Kemudian berkata pelan,
“Gue cuma nggak mau lu takut.”
Nara ikut diam.
“Gue di sebelah lu.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup membuat Nara akhirnya menghela napas.
“Ya udah.”
---
Hari Minggu tiba.
Nara berdiri di depan cermin hampir satu jam.
Ia mengganti pakaian tiga kali.
Terlalu formal.
Ganti.
Terlalu santai.
Ganti.
Terlalu cantik.
Ganti lagi.
Akhirnya ia memilih pakaian sederhana.
Ketika Raka datang menjemput, ia melihat Nara dari atas sampai bawah.
“Kenapa?”
“Bagus.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Gue kelihatan tua nggak?”
Raka mengernyit.
“Kenapa nanya begitu?”
“Karena gue ketemu orang tua lu!”
Raka tersenyum.
“Lu cantik.”
Nara langsung diam.
“Jangan ngomong gitu sekarang.”
“Kenapa?”
“Gue tambah gugup.”
Raka tertawa.
---
Rumah Raka sederhana.
Hangat.
Tidak terlalu ramai.
Ibunya langsung menyambut.
“Nara?”
Nara tersenyum gugup.
“Iya, Tante.”
“Masuk, Nak.”
Nara sempat melirik Raka.
Laki-laki itu hanya mengangguk.
Seolah mengatakan:
Tenang.
Mereka duduk.
Awalnya percakapan terasa kaku.
Pertanyaan standar.
Kerja di mana?
Rumah di mana?
Sudah kenal Raka berapa lama?
Kemudian ibunya bertanya:
“Umur kamu berapa?”
Nara menjawab.
Ibunya mengangguk.
“Berarti lebih tua dari Raka ya.”
Nara tersenyum gugup.
“Iya, Tante.”
“Bagus.”
Nara hampir tersedak.
“Bagus?”
Ibunya tertawa.
“Iya. Biar Raka ada yang ngingetin.”
Raka langsung menyela.
“Ma.”
Ayahnya tertawa.
Nara ikut tertawa.
Suasana yang tadinya tegang mulai mencair.
Kemudian ayah Raka bertanya sesuatu yang membuat Nara terdiam.
“Kamu sayang sama Raka?”
Nara menoleh.
Raka juga terlihat sedikit kaget.
Pertanyaan itu tidak terdengar seperti interogasi.
Lebih seperti pertanyaan seorang ayah yang ingin tahu.
Nara menarik napas.
“Iya, Om.”
“Serius?”
Nara mengangguk.
“Iya.”
Ayah Raka menatapnya sebentar.
Kemudian tersenyum.
“Ya sudah.”
Nara bingung.
“Ya sudah?”
“Iya.”
Ia melirik Raka.
“Anak saya memang keras kepala. Kalau sudah memilih, biasanya susah.”
Raka tersenyum.
Ayahnya melanjutkan,
“Yang penting kalian saling menghargai.”
Ibunya mengangguk.
“Dan jangan buru-buru.”
Nara mengangguk.
“Iya, Tante.”
Tidak ada penolakan.
Tidak ada drama.
Tidak ada pertanyaan tentang kenapa perempuan lebih tua.
Tidak ada tuntutan aneh.
Hanya satu hal yang mereka minta:
jangan saling menyakiti.
---
Dalam perjalanan pulang, Nara diam.
Raka melirik.
“Kenapa?”
“Gue lega.”
“Takut?”
“Banget.”
“Gue bilang juga apa.”
“Lu nggak bilang mereka bakal sebaik itu.”
Raka tersenyum.
“Karena gue tahu.”
Nara menatapnya.
“Lu beruntung.”
“Kenapa?”
“Orang tua lu baik.”
Raka mengangguk.
Kemudian berkata,
“Gue juga beruntung.”
“Kenapa?”
Raka menoleh sebentar.
“Ketemu lu.”
Nara langsung melihat keluar jendela.
“Jangan mulai.”
Raka tertawa.
Beberapa detik kemudian Nara berkata pelan,
“Rak.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti mereka berubah pikiran?”
Raka tidak langsung menjawab.
Ia menggenggam tangan Nara.
“Kalau hari itu datang, kita hadapi.”
“Kita?”
“Iya.”
Nara menatap tangan mereka.
Kemudian tersenyum.
Mungkin selama ini ia salah mengira.
Ia pikir jodoh adalah seseorang yang datang untuk menyelamatkannya dari hidup.
Ternyata bukan.
Jodoh mungkin adalah seseorang yang bersedia berjalan bersama, ketika hidup sedang tidak mudah.
Dan Raka...
untuk pertama kalinya...
terasa bukan seperti karakter fiksi yang tiba-tiba muncul untuk memperbaiki hidup Nara.
Ia terasa seperti seseorang yang benar-benar mungkin tinggal.
Seseorang yang tidak datang membawa janji besar.
Hanya konsistensi kecil.
Hari demi hari.
Dan mungkin itu justru yang paling Nara butuhkan.
Bukan pangeran.
Bukan penyelamat.
Bukan laki-laki sempurna.
Tapi seorang brondong tinggi yang wajahnya terlalu dewasa, sifatnya terlalu tenang, dan entah bagaimana berhasil membuat Nara yang paling susah percaya...
akhirnya berani percaya lagi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar