Nara baru sadar satu hal begitu pintu kamar hotel tertutup.
Mereka benar-benar sendirian.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada teman.
Tidak ada orang yang tiba-tiba datang mengganggu.
Cuma dia.
Dan Raka.
Nara berdiri di dekat koper sambil menatap sekeliling kamar.
“Bagus banget.”
Raka meletakkan koper di samping sofa.
“Lumayan.”
Nara menoleh.
“Lumayan?”
“Kalau menurut gue, yang bagus bukan kamarnya.”
Nara langsung tahu arah pembicaraan itu.
“Jangan mulai.”
Raka tersenyum.
“Gue belum ngomong apa-apa.”
“Tapi muka lu udah ngomong.”
Raka tertawa kecil.
Nara kembali melihat kamar.
Tempat tidur besar berada tepat di tengah ruangan.
Dan entah kenapa, benda itu mendadak terasa seperti musuh pribadi.
Raka mengikuti arah pandangnya.
Kemudian tersenyum.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Lu lihat kasur kayak mau ujian.”
“Gue cuma…”
Nara berhenti.
“Gue masih belum terbiasa.”
Raka mendekat.
“Dengan?”
“Status kita.”
Raka berdiri beberapa langkah di depannya.
“Suami istri?”
Nara mengangguk kecil.
“Masih aneh.”
Raka tersenyum.
“Gue juga.”
“Serius?”
“Iya.”
“Padahal lu kelihatannya santai.”
“Karena kalau gue ikut panik, kita berdua nggak bakal tidur malam ini.”
Nara langsung menatapnya.
“Raka!”
Raka tertawa.
“Bercanda.”
“Bacot.”
Nara mengambil bantal sofa dan melemparkannya.
Raka menangkapnya dengan mudah.
Kemudian ia berjalan mendekat.
Nara mundur satu langkah.
Raka berhenti.
“Takut?”
“Nggak.”
“Gugup?”
Nara menghela napas.
“Iya.”
Senyum Raka berubah.
Lebih lembut.
Ia mengulurkan tangan.
“Ke sini.”
Nara ragu sebentar sebelum akhirnya menyambutnya.
Raka menariknya mendekat.
Tidak terburu-buru.
Tidak memaksa.
Hanya membuat jarak di antara mereka perlahan menghilang.
“Gue nggak mau lu merasa harus melakukan apa pun cuma karena kita sekarang suami istri.”
Nara menatap matanya.
“Kalau gue memang mau?”
Raka terdiam sesaat.
“Kalau begitu…”
Ia tersenyum tipis.
“Gue dengerin lu.”
Jantung Nara berdegup lebih cepat.
“Lu selalu begini?”
“Begini gimana?”
“Bikin gue susah mikir.”
“Kayaknya itu bakat.”
Nara tertawa kecil.
Kemudian ia menyandarkan kepalanya ke dada Raka.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Sampai Raka mengecup keningnya.
Pelan.
Lalu pipinya.
Nara memejamkan mata.
“Rak…”
“Hm?”
“Jangan bikin gue makin gugup.”
“Maaf.”
“Bohong.”
“Iya.”
Nara tertawa.
Ketika ia membuka mata, wajah Raka sudah dekat.
Sangat dekat.
Raka memberinya waktu untuk mundur.
Namun Nara tidak melakukannya.
Ciuman mereka pun bertemu.
Awalnya singkat.
Kemudian kembali.
Lebih lama.
Lebih hangat.
Nara menggenggam bagian depan kemeja Raka, sementara Raka memeluk pinggangnya dengan lembut.
Tidak ada suara selain napas mereka yang perlahan berubah tidak teratur.
Ketika mereka berpisah, Nara masih menutup mata.
Raka tersenyum.
“Masih gugup?”
Nara membuka mata.
“Banget.”
“Menyesal?”
Nara menggeleng.
“Enggak.”
Raka mencium keningnya sekali lagi.
“Bagus.”
Nara tersenyum malu.
“Lu ternyata nggak se-kalem yang gue kira.”
Raka terkekeh.
“Lu baru tahu?”
“Kayaknya honeymoon ini bakal panjang.”
“Semoga.”
Nara menatapnya.
“Semoga?”
Raka mengangguk.
“Gue belum siap pulang.”
Nara tertawa.
Malam terus berjalan.
Percakapan mereka berubah menjadi tawa kecil, pelukan yang semakin nyaman, dan ciuman yang sesekali membuat Nara lupa apa yang hendak dikatakannya.
Di luar jendela, lampu kota berkilauan.
Di dalam kamar, dua orang yang baru saja resmi menjadi suami istri akhirnya berhenti memikirkan bagaimana seharusnya malam pertama mereka berjalan.
Mereka memilih menikmatinya dengan cara mereka sendiri.
Pelan.
Hangat.
Tanpa terburu-buru.
Dan ketika lampu kamar akhirnya diredupkan, Nara hanya sempat berbisik,
“Rak?”
“Hm?”
“Gue sayang lu.”
Raka menggenggam tangannya.
“Gue lebih sayang.”
Nara tersenyum dalam gelap.
Untuk pertama kalinya malam itu, rasa gugupnya benar-benar hilang.
Honeymoon mereka baru saja dimulai.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar